Dahulu, motif Tenun Ulap Doyo bisa dijadikan pertanda/ciri atau identitas sosial sesorang.[5] Contohnya motif jaunt nguku digunakan oleh kaum mantiq (petinggi) dan motif waniq ngelukng digunakan oleh golongan marantikaq (orang biasa).[5]
Ulap doyo merupakan produk asli Kalimantan Timur yang hanya ada di daerah Kutai Barat dan Kutai Kartanegara. Dalam cerita yang berkembang, suku Dayak Benuaq merantau ke Kalimantan Selatan dan membawa tanaman doyo, tetapi ternyata tanaman itu tidak bisa tumbuh. Masyarakat Dayak Benuaq akhirnya kembali dan menanam doyo di daerah asalnya, dan membudidayakannya sebagai tanaman yang digunakan untuk membuat kain. Karena alasan sejarah itulah ulap doyo disebut sebagai tumbuhan regiosentris khas daerah Kalimantan Timur berdasarkan cerita ini menunjukkan kalau keahlian menenun kain ini bukan asli Dayak Benuaq namun hasil menyerap pengetahuan dari masyarakat lain. [6]
Tanaman doyo (Curliglia latifolia) dan berbagai tumbuhan yang digunakan untuk pewarna alami kini sulit didapatkan akibat pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan di Kutai Barat sejak tahun 90-an. Kawasan hutan jadi semakin jauh dari permukiman penduduk. Doyo yang biasa tumbuh di ladang penduduk juga tak dapat ditemukan karena para petani beralih menjadi pekerja tambang dan perkebunan kelapa sawit.[6]
Kain tenun doyo terkenal karena memiliki kualitas yang bagus dan lebih alami. Ulap doyo berarti daun doyo. Tanaman doyo memiliki serat daun yang kuat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai benang dan ditenun menjadi kain oleh suku Dayak Benuaq. Kain ini memiliki beragam motif, yaitu motif flora dan fauna. Keunikan lain dari tenun doyo adalah produknya bersifat eco-natural, artinya tidak menggunakan bahan kimia. Proses produksi juga menggunakan cara-cara yang alami. Menenun dengan sistem gedogan tidak menggunakan mesin. Pewarnaanya menggunakan rempah-rempah dan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar lingkungan seperti kunyit, hijau pandan, daun ketapang, serta aneka buah-buahan hutan yang sangat bermanfaat dalam proses produksi tenun doyo. [6]
Proses Pembuatan
Proses pembuatan tenun doyo dimulai dengan pengambilan daun doyo sekitar 60-100 lembar di hutan. Daun doyo kemudian direndam di air sungai hingga daunnya hancur. Setelah itu, serat daun doyo diambil dengan cara dikerik menggunakan sebilah pisau bambu. Proses penenunan dimulai dari memintal (moyong) serat doyo dengan cara membelah serat-serat doyo menjadi 2-3 mm dan kemudian dipilin menjadi benang. Serat ini kemudian ditenun dan dipilin menjadi benang kasar. Benang daun doyo tersebut kemudian diwarnai dengan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Pada dasarnya, warna asli serat daun doyo untuk bahan tenun adalah berwarna putih atau krem. Agar kain tenun doyo menjadi bervariasi sehingga memunculkan motif-motif yang indah, maka digunakan berbagai jenis pewarna.[6]
Motif Tenun Ulap Doyo
Secara umum, motif pada kain keramat doyo terinspirasi dari flora dan fauna di tepian Sungai Mahakam atau tema perang antara manusia dan naga. Motif pada kain juga menjadi identitas pemakainya. Motif waniq ngelukng misalnya digunakan oleh masyarakat biasa, sedangkan motif jaunt nguku digunakan oleh para bangsawan atau raja. Perbedaan strata sosial ini menandakan adanya sistem kasta yang berlaku dalam masyarakat, seperti yang terdapat pada umat Hindu. Cara memakai kain khas Kalimantan Timur ini cukup beragam dalam kehidupan masa lampau. Tenun ulap doyo dapat digunakan baik oleh pria maupun wanita dalam upacara adat, tarian, maupun dalam kehidupan sehari-hari suku Dayak Benuaq. Tenun ulap doyo yang memiliki nilai sejarah, seni dan budaya lokal, merupakan salah satu dari 33 kain tradisional yang ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. [6]
Nilai dan Makna
Tenun Doyo merupakan salah satu wujud ekspresi dari keyakinan masyarakat suku Dayak Benuaq, di Kalimantan Timur.[5] Tenun Doyo dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan dalam acara adat, tari-tarian, dan dalam kehidupan sehari-hari suku Dayak Benuaq.[7] Tenun Doyo yang dikenakan sehari-hari berwarna hitam, sedangkan Tenun Doyo yang berwarna-warni dan bermotif digunakan dalam upacara-upacara adat.[7] Penggunaan motif dan ragam hias memiliki nilai estetika dan nilai fungsional yang bersifat rohaniah.[7] Misalnya, motif naga melambangkan kecantikan seorang wanita, motif limar atau perahu melambangkan kerjasama, motif timang atau harimau melambangkan keperkasaan seorang pria, motif tangga tukar toray atau tangga rebah bermakna melindungi usaha dan kerjasama masyarakat, dan berbagai motif yang lain.[3] Penggunaan warna juga mengandung makna simbolik tertentu.[7] Misalnya, warna hitam pada daster dan sarung atau kain panjang artinya adalah pemakainya memiliki kemampuan dalam menolak sihir hitam (sihir jahat).[7] Jika pada warna hitam tersebut terdapat garis-garis putih, maka menandakan bahwa pemakainya dapat mengobati segala bentuk sihir dan juga dapat mengobati segala bentuk penyakit.[7]
Ragam
Dalam berbagai upacara adat, misalnya upacara kematian, pengobatan, upacara panen hasil bumi, dan sebagainya, kaum perempuan menggunakan Ulap Doyo yang kainnya panjang (tapeh).[8] Agar bebas bergerak, Ulap Doyo diberi belahan, apabila dikenakan, belahan tersebut berada di bagian belakang.[8] Biasanya Tenun Ulap Doyo dibuat dalam tiga warna, yakni: merah, hitam, dan cokelat muda.[9]Merah berasal dari buah buah Glinggam, kayu Oter, dan buah Londo, dan warna coklat muda berasal dari kayu Uwar.[9] Motif yang digunakan biasanya motif flora, fauna, dan alam mitologi.[9] Batu Lado, biji buah Glinggam, daun Putri Malu, umbi Kunyit, getah Akar, dan kayu Oter digunakan sebagai bahan baku pewarna motif Tenun Ulap Doyo.[9]
(Inggris) Anderson, E. N. (2010). "Material Choices: Refashioning Bast and Leaf Fibers in Asia and the Pacific". Ethnobiology Letters (dalam bahasa Inggris).