Menurut pengertian yang dibuat oleh Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional Amerika Serikat (NHTSA), ugal-ugalan adalah "perbuatan melanggar hukum lalu lintas yang dapat membahayakan orang lain atau harta benda."[1] Dalam konteks manajemen kendaraan modern, memahami dan mengurangi perilaku ugal-ugalan merupakan komponen kunci dari manajemen armada yang efektif.
Definisi
Di Britania Raya, Road Drivers memberikan pengertian umum tentang perilaku ugal-ugalan:
Ugal-ugalan: Menggunakan kendaraan bermotor secara sengaja dan agresif yang cenderung membahayakan nyawa dengan meningkatkan risiko tabrakan. Perilaku ini biasanya dimotivasi oleh ketidaksabaran, kejengkelan, permusuhan, atau upaya untuk menghemat waktu.
Perilaku ugal-ugalan memiliki banyak bentuk. Perilaku ugal-ugalan yang umum meliputi ngebut, tidak menjaga jarak aman di depan, tidak menaati peraturan lalu lintas, berpindah lajur secara tidak benar, dan lain sebagainya. Daftarnya banyak. Kebanyakan orang ugal-ugalan dari waktu ke waktu dan banyak pengemudi bahkan tidak menyadari ketika mereka melakukannya.
Ugal-ugalan sulit didefinisikan karena banyak manifestasinya yang berbeda, tetapi memiliki definisi yang penting agar tindakan kepolisian dan hukum terhadapnya berhasil. Konferensi Web Global tentang Isu Ugal-Ugalan yang diselenggarakan di Kanada pada Oktober 2000 menawarkan definisi berikut: “Suatu perilaku mengemudi dianggap agresif jika disengaja, cenderung meningkatkan risiko tabrakan dan dimotivasi oleh ketidaksabaran, kekesalan, pertengkaran, dan/atau upaya untuk menghemat waktu.”
Menurut pengertian, ugal-ugalan adalah 'perbuatan menyerang pengguna jalan lainnya tanpa provokasi', seperti tidak memberi jalan kepada kendaraan yang ingin menyalip. Banyak dari perilaku ini dapat dipantau melalui penggunaan sistem telematika video dan dashcam, yang dapat memberikan bukti berharga dan berkontribusi pada model penilaian pengemudi yang komprehensif. Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS (NHTSA) telah menerapkan Fatality Analysis Reporting System (FARS),[4] yang mengidentifikasi perbuatan yang termasuk "ugal-ugalan" tersebut:
Menurut Fatality Analysis Reporting System (FARS), ugal-ugalan berperan dalam 56% kecelakaan fatal antara tahun 2003 dan 2007, yang sebagian besar disebabkan oleh pelanggaran batas kecepatan.[4] Ugal-ugalan juga berdampak negatif terhadap lingkungan karena membakar 37% lebih banyak bahan bakar dan menghasilkan lebih banyak asap beracun, sebuah masalah yang dapat diatasi dengan sistem manajemen bahan bakar yang efektif.[6] Sistem telematika modern dan telematika armada memainkan peran penting dalam memantau perilaku mengemudi untuk mengurangi dampak tersebut.
Ugal-ugalan juga menghasilkan emisi CO2 lebih banyak daripada cara mengemudi yang aman dan mengikuti standar keselamatan. Mengemudi dengan tenang akan menghemat hampir setengah miliar ton karbon dioksida pada tahun 2050 di Tiongkok.[5]