Tupolev (bahasa Rusia:Туполевcode: ru is deprecated ), secara resmi Perusahaan Saham Gabungan Terbuka Tupolev, adalah perusahaan kedirgantaraan dan pertahananRusia yang berkantor pusat di Distrik Basmanny, Moskow.[1]
Tupolev adalah penerus Biro Desain Tupolev Soviet (OKB-156, awalan kantor desain Tu) yang didirikan pada tahun 1922 oleh pionir dan insinyur dirgantara Andrei Tupolev, yang memimpin perusahaan tersebut selama 50 tahun hingga kematiannya pada tahun 1972. Tupolev merancang lebih dari 100 model pesawat sipil dan militer serta memproduksi lebih dari 18.000 pesawat untuk Rusia, Uni Soviet, dan Blok Timur sejak didirikan, dan merayakan hari jadinya yang ke-100 pada tanggal 22 Oktober 2022. Tupolev terlibat dalam berbagai sektor kedirgantaraan dan pertahanan termasuk pengembangan, manufaktur, dan perombakan baik untuk produk kedirgantaraan sipil maupun militer, seperti pesawat terbang dan sistem persenjataan, serta teknologi rudal dan penerbangan angkatan laut.
Biro Desain Tupolev didirikan oleh Andrei Tupolev pada tahun 1922. Fasilitasnya dikhususkan hanya untuk penelitian aeronautika dan desain pesawat, sedangkan proses manufaktur ditangani oleh perusahaan lain. Pada dekade 1920-an, biro ini meneliti pesawat berbahan logam penuh (all-metal) yang secara langsung mengadaptasi karya rintisan Hugo Junkers pada masa Perang Dunia I.
Di antara pencapaian penting pada masa awal karier Tupolev adalah dua pesawat pengebom berat berbahan logam penuh dengan lapisan luar duralumin bergelombang, yaitu ANT-4 yang merupakan pengebom bermesin ganda dengan penerbangan perdana pada 1925 dan ANT-6 bermesin empat pada 1932 yang kemudian menjadi cikal bakal berbagai pesawat turunannya. [3]Pendekatan desain Tupolev pada kedua pesawat ini menentukan tren pengembangan pesawat berbadan besar, baik untuk sipil maupun militer, selama bertahun-tahun kemudian.
Selama Perang Dunia II, pesawat berbahan logam bermesin ganda, Tu-2, menjadi salah satu pengebom garis depan terbaik milik Uni Soviet. Berbagai variannya diproduksi dalam jumlah besar mulai tahun 1942. Selama masa perang, bagian belakang badan pesawat ini dibuat menggunakan kayu akibat adanya krisis pasokan logam.
Setelah perang berakhir, biro ini juga memproduksi Tu-4 yang merupakan salinan dari pesawat B-29 Superfortress milik Amerika Serikat. Langkah ini disusul oleh pengembangan pengebom bertenaga jet Tu-16 yang menggunakan sayap tekuk ke belakang (swept-wing) untuk menghasilkan performa subsonik yang optimal.
Karena mesin turbojet saat itu belum cukup hemat bahan bakar untuk mencapai jangkauan antarbenua yang sesungguhnya, Soviet memutuskan untuk merancang pengebom baru, yakni Tu-20, yang lebih dikenal sebagai Tu-95. Pesawat ini juga dibangun berdasarkan desain struktur dan badan Tu-4, namun dilengkapi dengan empat mesin turboprop raksasa Kuznetsov NK-12. Mesin ini memberikan kombinasi unik antara daya jelajah yang jauh dan kecepatan setara pesawat jet. Tu-95 kemudian menjadi pengebom antarbenua andalan Soviet yang sesungguhnya. Dalam banyak hal, pesawat ini adalah versi Soviet dari Boeing B-52 Stratofortress yang bertugas sebagai pengebom strategis sekaligus menjalankan berbagai peran lain, termasuk pengintaian, patroli maritim dan peperangan antikapal selam.
Tu-16 kemudian dikembangkan menjadi pesawat sipil Tu-104. Sementara itu, Tu-95 menjadi basis bagi Tu-114, pesawat penumpang jarak menengah hingga jauh yang unik dan tercatat sebagai pesawat turboprop tercepat yang pernah ada. Salah satu ciri khas yang sering ditemui pada banyak pesawat jet subsonik besar buatan Tupolev adalah adanya pod atau wadah besar yang menonjol ke belakang dari tepi belakang sayap (trailing edge) yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan roda pendaratan. Desain ini memungkinkan pesawat untuk menggunakan banyak ban besar bertekanan rendah, sebuah inovasi yang krusial untuk beroperasi di landasan pacu berkualitas buruk yang banyak ditemukan di Uni Soviet pada masa itu. Sebagai contoh, pesawat penumpang Tu-154 yang merupakan versi Soviet dari Boeing 727 memiliki 14 ban (12 main landing gear dan 2 nose gear), sebuah jumlah yang sama persis dengan yang dimiliki oleh Boeing 777-200 yang ukurannya jauh lebih besar.[4]
Bahkan sebelum penerbangan perdana Tu-16 dan Tu-20/Tu-95, Tupolev telah mengerjakan proyek pengebom supersonik yang berujung pada kegagalan Tu-98. Walaupun pesawat tersebut tidak pernah masuk ke layanan operasional militer, desainnya menjadi purwarupa bagi Tu-102 (yang kelak dikembangkan menjadi pesawat pencegat Tu-28) dan Tu-105 yang kemudian berevolusi menjadi pengebom supersonik Tu-22 pada pertengahan 1960-an. Meski awalnya ditujukan sebagai tandingan untuk pesawat Convair B-58 Hustler buatan Amerika, kemampuan Tu-22 ternyata masih berada di bawah ekspektasi, walaupun pesawat ini pada akhirnya berdinas jauh lebih lama dibandingkan pesaingnya dari Amerika tersebut. Sementara itu, Departemen "K" dibentuk di dalam tubuh Biro Desain dengan tugas khusus merancang pesawat nirawak seperti pesawat pengintai nirawak Tu-139 dan Tu-143.
Pada dekade 1960-an, putra A. N. Tupolev, yakni A. A. Tupolev, mulai aktif memegang kendali manajemen di biro tersebut. Perannya mencakup pengembangan pesawat penumpang supersonik pertama di dunia yaitu Tu-144, pesawat komersial populer Tu-154, serta pengebom strategis Tu-22M. Semua pengembangan ini memungkinkan Uni Soviet untuk mencapai kesetaraan militer strategis dan penerbangan sipil dengan pihak Barat.
Sayangnya, kiprah Tu-144 berakhir mengecewakan. Serangkaian kecelakaan tragis pada tahun 1973 dan 1978 mengakibatkan ditariknya pesawat ini dari layanan penumpang komersial pada tahun 1978.[5]
Pada tahun 1970-an, Tupolev memusatkan upayanya untuk meningkatkan performa armada pengebom Tu-22M yang beberapa variannya mencakup versi maritim. Kehadiran pengebom ini dalam jumlah yang masif kemudian mendorong lahirnya perjanjian pembatasan senjata strategis antara Amerika Serikat dan Soviet, yaitu perjanjian SALT I dan SALT II. Selain itu, efisiensi dan performa Tu-154 juga terus ditingkatkan yang berujung pada lahirnya varian Tu-154M yang lebih modern dan efisien.
Pada dekade 1980-an, biro desain ini mengembangkan pengebom strategis supersonik Tu-160. Salah satu fitur unggulan utamanya adalah penggunaan sayap ayun ganda (variable-geometry wings).
Pesawat Tupolev
Banyak desain sudah keluar dari biro desain. Mereka dalam seri produksi mungkin berjalan sampai 4500 seperti pada Tu-2. Namun banyak pula yang mati-berakhir atau eksperimental, hanya dengan satu salinan yang dihasilkan. Banyak varian eksperimental membuka jalan bagi versi produksi seri.