Acara Tumpeng sewu yang diadakan oleh masyarakat Kalikudu yang merupakan bagian dari wilayah Geopark Kabupaten Kebumen. Setiap Kepala Keluarga masing-masing membawa Tumpeng isi Ingkung Ayam Kampung di Dalamnya (setelah ayam dipanggang, lalu dimaskukkan ke dalam Tumpeng)
ACARA DIADAKAN SETIAP TAHUN SETELAH PANEN DENGAN DITUTUP PAGELARAN WAYANG KULIT
Tumpeng sewu adalah tradisi turun temurun warga masyarakat Dukuh Kalikudu, desa Kaligending, kecamatan Karangsambung, kabupeten Kebumen, provinsi Jawa Tengah.[1] Saat ini, wilayah Kalikudu juga termasuk dalam kawasan Geopark Kabupaten Kebumen.[2] Tumpeng sewu di Kalikudu sudah dijalankan dari nenek moyang di wilayah ini. Diadakan setelah panen padi, dengan setiap kepala keluarga yang pada tahun Juli 2025 berjumlah 675 Kepala Keluarga, masing-masing membawa Tumpeng dengan isi ingkung ayam Jawa di dalamnya, dilengkapi dengan Ketupat dan Lepet serta sayuran.
Pelaksanaannya setahun sekali, dengan diadakan jika tahun ini di setiap lingkungan yang ada di wilayah Kalikudu, maka tahun depannya digabungkan menjadi satu. Tumpeng Sewu sendiri sebutan dari banyaknya jumlah tumpeng yang jika dijajarkan sudah tidak mudah dihitung. Kegiatan Tumpeng Sewu Kalikudu merupakan sarana Pujian dan Sarana bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan panen padi. Dilaksanakan setelah Panen Padi, maka kegiatan ini dikenal juga di Kalikudu dengan sebutan acara Bubar Ngarit (BARIT) dengan selalu dipadukan Pagelaran Wayang Kulit.[butuh rujukan]
Selain di Kebumen, Tumpeng Sewu juga menjadi salah satu tradisi budaya Osing. Tradisi ini diselenggarakan di desa Kemiren,Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Desa Kemiren adalah sebuah desa wisata yang merupakan perkampungan asli suku Osing. Di setiap tahunnya dilaksanakan Festival Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur. Bukan hanya sebuah ritual adat, tetapi festival ini kini menjadi atraksi wisata Banyuwangi yang dihadiri oleh ribuan warga dari berbagai penjuru desa maupun wisatawan.[3]
Tumpeng Sewu biasanya digelar seminggu sebelum Idul Adha. Sebelum makan tumpeng sewu warga akan di ajak berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala. Setiap rumah warga mengeluarkan minimal satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Karena banyaknya tumpeng yang dihadirkan maka dari sinilah asal muasal nama festival tumpeng sewu yang berarti seribu tumpeng.[4]