Tum merupakan salah satu gaya pengemasan makanan yang menggunakan kemasan berbentuk lembar seperti daun, kertas, dan plastik. Tum memiliki ciri khas berupa bentuk lipatan ke atas yang terdapat pada kedua ujung kemasan. Lipatan ini menghasilkan bagian kanan dan kiri kemasan yang saling bertumpu. Tum banyak dijumpai pada masakan Jawa.[1]
Istilah ‘tum’ berasal dari bahasa Jawa (aksara Jawa: ꦠꦸꦩ꧀ /tʊm/).[2] Kata ‘tum’ juga terdapat dalam bahasa Indonesia dengan definisi yang hampir sama. Tum dalam bahasa Indonesia berarti ‘dibungkus’ dan memiliki kata turunan yaitu ‘mengetum’ yang berarti ‘memasak atau mengukus dengan dibungkus daun’ atau ‘membungkus dengan daun’.[3]
Tum kertas minyak
Secara tradisional, tum dibuat dengan menggunakan daun seperti daun pisang, jati, dan talas. Kini tum dapat dibuat menggunakan kemasan selain daun seperti kertas minyak, karton, dan plastikmika. Daun pisang adalah kemasan yang lebih sering digunakan untuk tum dibandingkan dengan jenis kemasan lainnya karena dinilai dapat menghasilkan senyawa perasa pada masakan sehingga rasa masakan menjadi lebih kuat dan terasa sedap.[4]
Kegunaan
Fungsi utama tum adalah untuk membungkus makanan berair atau berkuah agar tidak mudah tumpah. Jika tum dibuat menggunakan daun, maka idealnya menggunakan setidaknya dua lembar daun atau lebih yang disusun berlapis untuk mencegah rembesan air dari dalam.[5] Pada penggunaannya, tum dapat digunakan untuk membungkus makanan kering maupun basah. Makanan kering yang dibungkus menggunakan tum yaitu seperti nasi, bakmi, dan bihun. Makanan basah yang dibungkus menggunakan tum yaitu seperti pepes, garang asem, dan kopyor.[1][6]
Cara Membuat
Berikut ini adalah langkah-langkah membuat tum dengan menggunakan daun pisang (daun pisang adalah opsional, dapat disesuaikan dengan jenis kemasan lain):[5][7]
Siapkan dua lembar daun pisang atau lebih yang telah dipotong sesuai kebutuhan.
Jemur daun pisang hingga layu.
Menjemur daun pisang bertujuan agar daun tidak sobek saat dilipat. Langkah menjemur dapat diganti dengan mencelupkan daun ke dalam air panas selama beberapa menit hingga lemas.[5]
Lap daun pisang hingga bersih.
Letakkan lembar daun pisang pertama di telapak tangan.
Tumpuk lembar daun pisang berikutnya dengan alur serat berlawanan dari lembar pertama.
Letakkan bahan masakan atau makanan di tengah daun pisang.
Satukan dua sisi terlebar daun pisang dan tahan.
Dorong ujung kanan daun pisang ke arah tengah lalu tangkupkan dan tahan.
Dorong ujung kiri daun pisang ke arah tengah lalu tangkupkan dan tahan.
Sematkan.
Menyematkan tum dapat dilakukan menggunakan benda tajam atau perekat. Benda tajam yang digunakan untuk menyemat tum yaitu seperti potongan lidi yang ujungnya lancip (ditusukkan) atau staples (menggunakan stapler). Perekat yang digunakan untuk menyemat tum yaitu seperti selotip. Langkah menyematkan dapat diganti dengan mengikat tum menggunakan karet gelang.[8]
Usahakan hasil lipatan tum memiliki dasar yang rata sehingga tum dapat berdiri tanpa penyangga.[5]
Tum di Nusantara
Selain di Jawa, istilah ‘tum’ juga digunakan di daerah lain seperti Aceh dan Bali, namun tidak merujuk kepada tum sebagai gaya pengemasan makanan.
Aceh
Di Aceh, kata ‘tum’ disandingkan dengan ‘kero’ menjadi frasa ‘kero tum’. Kero tum adalah salah satu makanan khas Suku Gayo berupa nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang. Kero tum biasa disajikan sebagai hantaran pada acara adat seperti pernikahan dan khitanan.[9][10]
Bali
Di Bali, kata ‘tum’ merujuk pada nama makanan. Tum Bali adalah salah satu makanan khas Bali yang utamanya terbuat dari daging babi atau ayam cincang serta resep bumbu yang disebut sebagai basa bawang jahe dan basa colok. Terdapat juga tum Bali yang terbuat dari nangka, bongkol pisang, dan jantung pisang. Tum Bali dibungkus dengan daun pisang dan diolah dengan cara dikukus.[11][12]