Tulila merupakan alat musik tradisional Batak Toba dan Simalungun yang termasuk dalam kelompok alat musik tiup.[1] Alat musik ini serupa dengan sulim.[2] Namun, dibedakan oleh adanya kayu penyumbat yang dimasukkan ke dalam pangkal bambu sebagai lidah suara.[3][4]
Cara pembuatan
Alat musik ini terbuat dari bambu rogon.[1] Proses pembuatannya diawali dengan pemilihan jenis bambu yang sudah berumur tua[4] Adapun pada masyarakat Mandailing bahan dasar yang dianggap paling ideal untuk pembuatan instrumen ini adalah bulu sorik karena kandungan airnya yang sangat minim sehingga lebih mampu menghasilkan suara yang merdu, mudah diraut, lebih tahan lama, dan lidah (reed) tidak berserabut. Bulu sorik ini dikeringkan dahulu dengan tiga cara. Pertaman ditancapkan di ruang terbuka yang terkana sinar matahari. Kedua, diselipkan berminggu-minggu di sopo saba atau sopo podoman. Ketiga, mengasapi (manyale) bulu sorik di parapi yang terletak di atas tatari di dapur rumah selama beberapa bulan hingga kadar airnya berkurang.[5][2]
Bahan yang sudah dipilih dan dikeringkan, lalu dipotong sesuai ukuran yang diinginkan, yakni sekitar lima lilit dari pangkal bambu. Lubang tiup dibuat dengan jarak dua lilit dari lubang nada pertama. Selanjutnya, enam lubang nada disusun dengan jarak dua lilit yang dibagi rata menjadi enam bagian. Sementara itu, lubang nada keenam dan ujung tulila terpisah oleh jarak satu lilit.[3][4]
Cara memainkan
Tulila merupakan jenis alat musik tiup yang dapat dimainkan secara tunggal maupun sebagai ansambel yang dapat dipadukan dengan instrumen lain, seperti garantung, mongmongan, ogung, kecapi, dan gondrang sidua-dua.[3][4]
Dalam memainkan tulila, pemain meniup melalui mulut sambil mengatur posisi jari. Jari telunjuk tangan kiri menutup lubang nada pertama di bagian atas, lalu diikuti oleh jari tengah dan jari manis. Lubang nada berikutnya ditutup menggunakan jari tangan kanan. Ketika alat musik ini ditiup, jari-jari dibuka dan ditutup sesuai nada yang hendak dihasilkan.[3][2]
Nada
Setiap lubang nada pada tulila memiliki nama khusus. Secara tradisional, lubang nada pertama yang paling dekat dengan mulut pemain disebut pangindik (pembuka). Lubang nada kedua dikenal sebagai panulus (pengejar), sedangkan lubang nada ketiga dinamakan paniaga (pengantara untuk memadukan). Adapun lubang nada keempat disebut pandabu-dabu (pemberi aksentuasi).[5][2]
Penamaan ini berkaitan dengan fungsi masing-masing lubang dalam permainan dan dipengaruhi oleh kecepatan membuka dan menutup lubang nada. Sistem penamaan tradisional tersebut memiliki makna fungsional yang kemungkinan besar berhubungan dengan konsep budaya Dalian Na Tolu.[5][2]
Penggunan
Instrumen tradisional ini dapat menjadi hiburan oleh para penggembala ternak, biasanya sambil duduk di atas punggung kerbau peliharaan mereka.[3][4]