Dalam perbandingan agama, Tuhan tertinggi adalah sebuah konsep mengenai satu keberadaan yang disebut Tuhan yang memiliki kekuasaan tertinggi atau tidak ada bandingannya dengan kekuasaan lain. Keyakinan terhadap Tuhan Tertinggi telah dianut oleh masyarakat primitif menurut teori monoteisme primitif yang dikemukakan oleh Wilhelm Schmidt dalam buku The Origin of the Idea of God yang diterbitkan pada tahun 1912.
Pada masyarakat tradisional khususnya suku-suku pribumi di Benua Afrika, Tuhan tertinggi umumnya disebut sebagai Tuhan Langit untuk mewakili sifat tidak terbatas, abadi dan absolut pada sifat Tuhan. Dalam ajaran Islam, konsep Tuhan tertinggi berlaku bagi Allah dengan konsep tauhid sebagai pembeda monoteisme yang berlaku pada agama lain.
Teori penganutan
Teori monoteisme primitif
Pada tahun 1898, Andrew Lang menuliskan konsep mengenai Tuhan tertinggi atau Tuhan Langit sebagai sesuatu yang telah diyakini oleh suku-suku yang menghuni wilayah pedalaman dengan menerapkan kebudayaan primitif. Ia mencatat dalam penelitiannya bahwa suku-suku yang meyakini konsep Tuhan tertinggi tersebar di Afrika Barat, kepulauan Andaman dan benua Australia. Keyakinan yang sama juga dianut oleh suku Zulu di Afrika Tengah dan suku Indian di benua Amerika Utara.[1] Suku-suku tersebut dnyatakan oleh Andrew Lang telah menganut konsep Tuhan tertinggi sebelum mereka melakukan interaksi dengan bangsa-bangsa Eropa yang telah menganut Kekristenan dan menyebarnya misionaris. Pernyataan ini membantah teori lain yang menyatakan bahwa suku-suku tersebut meyakini adanya Tuha tertinggi setelah terpengaruh oleh ajaran misionaris mengenai Tuhan dalam Alkitab.[2]
Pada tahun 1912, Wilhelm Schmidt menerbitkan buku berjudul The Origin of the Idea of God. Di dalam bukunya, Wilhelm Schmidt menyatakan teori bahwa manusia pada mulanya menganut monoteisme primitif sebelum mulai menyembah banyak dewa. Manusia primitif dalam teori Wilhelm Schmidt meyakini keberadaan satu Tuhan tertinggi yang menciptakan dunia dan mengurusi manusia dari kejauhan.[3]
Wilhelm Schmidt kemudian mengembangkan teorinya dengan pernyataan bahwa keyakinan terhadap Tuhan tertinggi kemudian digantikan oleh tuhan-tuhan pada kuil penganut paganisme yang lebih menarik pada zaman kuno. Dalam kesimpulan Wilhelm Schmidt, monoteisme adalah salah satu gagasan tertua yang dikembangkan manusia untuk menjelaskan misteri dan tragedi dalam kehidupan.[4]
Penyebutan umum
Sebutan bagi Tuhan tertinggi dalam kalangan masyarakat primitif biasanya ialah Tuhan Langit. Penyebutan ini didasarkan kepada ketinggian langit yang sulit digambarkan dan tidak hadir dalam kehidupan manusia.[3] Penyebutan Tuhan Langit juga digunakan oleh sebagian besar masyarakat tradisional karena adanya keyakinan bahwa langit adalah sesuatu yang bersifat hidup, bernyawa dan memiliki komunitas yang mendiaminya. Keyakinan tersebut berkaitan dengan fenomena meteorologi yang tampak di langit oleh manusia. Langit dianggap mewakili keilahian Tuhan tertinggi pada keseluruhan cakupannya yang dianggap tidak terbatas, abadi dan absolut oleh masyarakat tradisional.[5] Konsep Tuhan Langit masih dianut dalam agama suku-suku pribumi di Benua Afrika yang tampak dalam penyebutan Tuhan melalui doa dan keyakinan adanya pengawasan dan penghukuman setiap dosa oleh Tuhan.[3]
Pandangan monoteisme
Monoteisme dan tauhid asma dan sifat
Dalam ajaran Islam, konsep Tuhan Tertinggi berlaku bagi Allah dengan konsep tauhid sebagai pembeda monoteisme dengan agama lain. Pembedaan ini merupakan akibat dari adanya perbedaan antara monoteisme dan tauhid asma dan sifat berkaitan dengan konsep tentang Allah dalam Islam. Perbedaan lainnya antara monoteisme dan tauhid asma dan sifat ialah bahwa Allah adalah Tuhan tertinggi dan hanya satu-satunya Tuhan dalam ajaran Islam. Selain itu, sifat dan nama Allah hanya didasarkan kepada ketentuan Allah saja.[6] Allah berkedudukan sebagai nilai tertinggi dalam ajaran Islam yang kehendak-Nya mendasari segala hal yang berkaitan dengan manusia dan alam semesta.[7]