Trik kotor (bahasa Ibrani:התרגיל המסריחcode: he is deprecated , HaTargil HaMasriaḥ) merujuk kepada sebuah skandal politik yang timbul di Israel pada 1990. Ini merujuk kepada upaya Shimon Peres untuk membentuk pemerintahan minoritas yang terdiri dari faksi-faksi sayap kiri dan partai-partai ultra-ortodoks. Upaya tersebut meraih kegagalan saat partai-partai ultra-ortodoks keluar dari kesepakatan tersebut.[1]
Latar belakang
HaAvoda pimpinan Shimon Peres telah menjadi bagian dari pemerintahan persatuan kedua Israel dengan rival tradisionalnya, Yitzhak Shamir dari Likud sejak 1988. Shamir merupakan Perdana Menteri Israel sementara Peres menjabat sebagai Menteri Keuangan. Pada awal 1990, Sekretaris Luar Negeri Amerika SerikatJames Baker menyarankan agar Israel berunding dengan sebuah delegasi Palestina yang terdiri dari rakyat yang terdeportasi dari wilayah pendudukan Israel dan juga beberapa dari Yerusalem Timur. Peres meminta pemerintah untuk menyetujui saran ini namun Shamir, dibawah tekanan dari kelompok ultranasionalis di Likud, menolak.[2] Peres kemudian mengeluarkan ultimatum kepada Shamir untuk mengikuti saran Amerika Serikat dan mengancam akan merobek perjanjian koalisi jika Shamir menolak.[3]
Komplotan
Peres bertindak dengan menandatangani perjanjian rahasia dengan Aryeh Deri dan Shas untuk menggulingkan pemerintahan persatuan. HaMa'arakh kemudian mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintahan. Shamir bereaksi dengan memecat Peres dan menteri HaMa'arakh juga berbondong-bondong mengundurkan diri.[4] Pada 15 Maret, pemerintah dibubarkan dengan suara 60 melawan 55. Agudat Yisrael memilih untuk pembubaran pemerintah sementara Shas abstain.[5] Ini merupakan kali pertama dalam sejarah Israel bahwa pemerintah dibubarkan karena mosi tidak percaya.[6][7]
Setelah itu, Presiden IsraelChaim Herzog memberi mandat kepada Peres untuk membentuk pemerintahan baru.[8] Namun Peres menemukan bahwa hal tersebut sangat sulit.[9] Berorasi di depan massa di Arena Yad Eliyahu, Rabbi Elazar Shach, pemimpin spiritual Degel HaTorah, menyerukan kepada rakyatnya untuk tidak menoleransi koalisi dengan kaum kiri sekuler yang melanggar aturan Kashrut, "pemakan kelinci dan babi". Hal ini kemudian dikenal sebagai "orasi kelinci".[10][11] Menyusul keberatan tegas Rabbi Shach, mentor Shas Rabbi Ovadia Yosef juga menolak mengizinkan Shas bertugas di bawah Peres.[1] Dengan demikian, Peres hanya mendapat dukungan 60 anggota Knesset, kurang satu anggota untuk mencapai mayoritas. Anggota Knesset tambahan tersebut adalah Avraham Sharir, yang telah meninggalkan Likud pada bulan Februari untuk membentuk Partai Liberal Baru.[12]
Pemerintahan baru seharusnya disetujui pada 11 April. Namun, pada pagi itu, dua anggota Knesset dari Agudat Yisrael, Eliezer Mizrahi dan Avraham Verdiger, tidak hadir[13] karena Rebbe Lubavitcher Menachem Mendel Schneerson menolak mendukung konsesi apa pun atas wilayah Israel.[14][15] Belakangan diketahui bahwa Mizrahi bahkan tidak hadir pada penandatanganan perjanjian antara HaMa'arakh dan Agudat Yisrael, sementara Verdiger hanya berpura-pura menandatanganinya, dan faktanya hanya melambaikan penanya di atas kertas.[16]
Peres meminta Herzog untuk memperpanjang waktu,[17] namun pada akhirnya harus mengembalikan mandat pada 26 April.[18] Herzog kemudian memberi mandat kepada Shamir untuk membentuk pemerintahan dan Shamir mengumpulkan sebuah koalisi pemerintah yang bersayap kanan.[19] Sharir kemudian menyatakan dukungan kepada Shamir setelah seruan Shamir yang tidak bisa dilupakan, "Abrasha, Pulanglah!"[20] dan disusul kemudian oleh Efraim Gur yang juga meninggalkan HaMa'arakh dan bergabung ke pemerintahan Shamir.[21] Shamir memperkenalkan pemerintahan barunya pada 11 Juni.[22]
12"The dirty trick". MSN (dalam bahasa Hebrew). IL. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-09-18. Diakses tanggal 2008-06-11.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Ben-Haim, Avishai (2005-05-19). "Rabbi Eleazar Shach". NRG (dalam bahasa Hebrew). IL. Diakses tanggal 2008-06-12. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)