Tragedi Junyo MaruKapal Barang "Neraka" Junyo Maru milik Kekaisaran JepangHMS Tradewind, Kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang menyerang Junyo Maru karena salah mengira itu kapal barang sungguhan milik Kekaisaran Jepang
Pada 18 September 1944, dalam perjalannya menuju Sumatra dari Jawa, Kapal Junyo Maru diserang dengan torpedo oleh kapal selam milik Angkatan Laut Inggris atau Royal Navy, yaitu HMS Tradewind yang sedang ada di Samudra Hindia, karena jalur keberangkatan kapal ini tidak melalui Laut Jawa, tetapi melalui Samudra Hindia yang merupakan daerah kekuasaan Britania Raya. Tentara Inggris pun sebenarnya tidak tahu apa isi kapal Junyo Maru, mereka hanya melihat bendera Hinomaru di atas kapal, sehingga langsung bereaksi untuk menenggelamkannya.[2][3]
Kapal Junyo Maru kemudian tenggelam di Perairan Samudra Hindia, sebelah Barat Daya Pulau Sumatra, lebih spesifiknya dekat Mukomuko, Bengkulu. Sebanyak 5.620 penumpang tewas tenggelam bersama Kapal Junyo Maru dan semuanya adalah bukan orang Jepang, sebuah serangan yang salah dari angkatan laut sehebat Royal Navy dan juga menjadi kejahatan kemanusiaan lainnya yang dilakukan oleh Kekaisaran Jepang, karena menjejalkan 6.500 orang dalam satu kapal yang sebenarnya tak layak pakai, dengan fasilitas yang tidak manusiawi, seperti tidak adanya air minum, tidak adanya sekoci, tidak adanya jalur evakuasi darurat, tidak adanya ventilasi udara, dan sebagainya. Tragedi Junyo Maru itu kemudian menjadi salah satu tragedi dan bencana maritim terburuk yang terjadi dalam sejarah Perang Dunia II, khususnya di Front Asia-Pasifik.[1][4]
Referensi
123Nino Oktorino, Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013) hal. 48
123"Tragedi Junyo Maru". My Passion (dalam bahasa American English). 2013-11-18. Diakses tanggal 2017-11-16.