Tradisi ketupat lepas adalah tradisi dalam menyambut tahun baru Islam yang berasal dari Kecamatan Lingga Timur,Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau dengan melepas kulit ketupat dan dihanyutkan ke sungai. Tradisi ketupat lepas merupakan tradisi lama yang menjadi tanda rasa syukur dalam memasuki tahun baru Islam. Tradisi ini masih dilakukan oleh masyarakat Desa Kudung Kecamatan Lingga timur dan didukung oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) Lingga yang diselenggarakan di Masjid Babul Ihsan.[1]
Tradisi ini memiliki rangkaian acara berupa pembacaan doa dan ceramah oleh tokoh agama Islam, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Makanan dibawa dari masing-masing rumah untuk dimakan bersama-sama setelah pembacaan doa selesai. Yang menjadi inti, masyarakat membawa ketupat khas yang bernama ketupat lepas. Berbeda dengan ketupat biasanya, ketupat lepas memiliki pola anyaman antara ujung dengan pangkal daun yang dianyam tidak saling mengikat. Cara membukanya yaitu dengan cara menarik kedua sisi ketupat hingga daun anyaman ketupat terlepas dengan sendirinya tanpa menggunakan pisau atau semacamnya.[1]
Makanan yang dihidangkan diantarkan kepada pengurus masjid menggunakan wadah dan ditutupi tudung saji ataupun kain. Isi dari tiap-tiap hidangan terdiri dari dua puluh satu jenis ketupat jantan, sambal ketupat, dengan lauk berupa gulai ayam atau ikan, beberapa kue basah, minuman teh manis, dan air putih. Masing-masing wadah berisi hidangan tersebut dimakan oleh lima orang dengan posisi duduk bersila di atas lantai dan berhadap-hadapan. Setelah acara makan bersama selesai, kulit ketupatnya dilepaskan dan dibiarkan hanyut di Sungai.[2]
Makna dan Tujuan
Masyarakat mempercayai tujuan dari tradisi ini dilakukan adalah sebagai penolak bala atau lepasnya malapetaka dan kembali menemui kebaikan-kebaikan di tahun yang baru.[3] Dalam tradisi, doa yang dipanjatkan sebelum makan bersama adalah doa agar dimudahkan dalam mendapatkan rezeki serta dijauhkan dari segala macam bahaya yang dilalui di tahun baru tersebut.[1]
Kata ketupat lepas sesuai dengan cara melepas ketupat dari kulitnya tanpa merusak anyaman kulit menggunakan pisau atau benda tajam lainnya. Makna dari tradisi ini didasarkan pada filosofi watak dari orang Melayu, yaitu ketika mengambil suatu hal yang bermanfaat, harus tidak merusak hal lainnya. Tujuan dari makna tradisi tersebut diyakini sebagai wujud agar kehidupan diharapkan tetap selaras dan harmoni.[2]
Terdapat filosofi lain terkait makna dari kulit pembungkus ketupat, yang memiliki makna sebagai kehidupan dan isi ketupat yang berwarna putih disimbolkan sebagai kesucian hati atau jiwa. Makna tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan melepaskan kulit, maka lepas sifat negatif dan tersisa hal positif yakni kesucian hati. Makna tersirat lain dari ketupat lepas mendeskripsikan mengenai keselarasan, keseimbangan, dan keserasian hubungan antara manusia dengan pencipta alam semesta.[2]
Jenis-jenis
Tradisi ketupat lepas memiliki dua macam jenis yang berbeda, yaitu ketupat lepas jantan dan ketupat lepas betina.[3] Ketupat lepas jantan memiliki ciri-ciri berbentuk besar dan isi yang banyak. Sedangkan ketupat lepas betina memiliki ukuran yang lebih kecil dan isi lebih sedikit dibanding dengan jenis ketupat lepas jantan.[2]