G.K.R.Timoer Rumbai Kusuma Dewayani (lahir 2 Februari 1973 dengan nama Bendara Raden Ajeng Rumbai Kusuma Dewayani) adalah keluarga kerajaan Kesunanan Surakarta. Ia merupakan anak tertua dari mantan penguasa Surakarta, Pakubuwana XIII dengan istri pertamanya Nuk Kusumaningdyah.
Latar belakang
Rumbai Kusuma Dewayani lahir dari keluarga bangsawan Jawa di keraton. Ia lahir pada 21 Februari 1973 dari pasangan GRM. Suryo Partono dan Nuk Kusumaningdyah.[1][2][3] Ayahnya merupakan putra tertua yang diasumsikan menjadi penerus takhta Kesunanan Surakarta Hadiningrat saat itu. Dari pernikahan orangtuanya, ia memiliki dua saudara perempuan bernama Devi Lelyana Dewi dan Dewi Ratih Widyasari.[3]
Sebelum kenaikan takhta ayahnya, orangtua Rumbai memutuskan untuk bercerai sehingga ibunya tidak pernah diangkat sebagai permaisuri. Pasca perceraian orangtuanya, ia dan dua saudara perempuannya memutuskan untuk tetap tinggal di Keraton Surakarta Hadiningrat dan membantu masa kepemimpinan ayahnya.
Kehidupan pribadi
Rumbai pernah menikah dengan Tessi Ahmad Triadi pada 24 September 2005, sebelum memutuskan untuk berpisah. Dari pernikahan ini, mereka memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Suryo Pramuditho Adiwiwoho.[4]
Kiprah di keraton
Sebagai seorang Putri Dalem, Timoer memastikan kelangsungan berbagai upacara di lingkungan keraton. Ia secara rutin berpartisipasi dalam agenda tahunan utama, seperti memimpin barisan keluarga raja dalam Kirab Pusaka Malam 1 Suro dan terlibat aktif dalam upacara Tingalan Dalem Jumenengan (peringatan kenaikan takhta raja).[5]
Dalam aspek kebudayaan, kiprah Timoer menitikberatkan pada pelestarian seni tari klasik gaya Surakarta. Ia dikenal sebagai penari yang menguasai berbagai repertoar tarian istana, termasuk tarian sakral Bedhaya Ketawang. Selain peran sebagai penampil dalam momentum besar, ia juga menaruh perhatian pada upaya regenerasi penari di lingkungan keraton serta pemeliharaan atribut seni, guna menjaga keaslian warisan budaya takbenda yang dimiliki oleh institusi istana tersebut.[5]
Dalam menjalankan misi pelestarian budaya, Timoer secara konsisten bersinergi dengan tokoh-tokoh perempuan senior di lingkungan keraton, termasuk bibinya, Wandansari. Kolaborasi ini berfokus pada penguatan eksistensi adat istiadat dan tata kelola upacara tradisional agar tetap berjalan sesuai dengan pakem leluhur. Bersama para kerabat perempuan tersebut, ia memastikan bahwa setiap ritual dan tradisi Keraton Kasunanan Surakarta tetap terlaksana secara autentik.[5]
Kontroversi
Nama Timoer beberapa kali mencuat dalam pemberitaan nasional terkait rangkaian konflik internal yang melanda Keraton Kasunanan Surakarta. Salah satu peristiwa terjadi pada 15 Maret 2017, Timoer bersama keponakannya Aditya Soerya Harbanu menggugat ayahnya dengan alasan "telah melakukan tindakan melanggar hukum".[6] Satu bulan setelahnya, Timoer dilaporkan terkurung di dalam kompleks Keputren (kediaman putri) bersama sejumlah kerabat lain, termasuk Wandansari.[7][8][9] Dalam insiden tersebut, Timoer menyatakan bahwa akses keluar-masuk, listrik, dan logistik ke kediamannya diputus oleh pihak pengelola keraton yang berada di bawah otoritas ayahnya. Sebaliknya, pihak kepolisian dan manajemen keraton saat itu membantah adanya penyekapan.[10][11]
Pada Desember 2022, terjadi bentrokan fisik antara dua kubu kerabat keraton. Dalam peristiwa ini, Timoer sempat dilaporkan ke kepolisian terkait dugaan penganiayaan terhadap seorang sentana dalem dari kubu yang berseberangan saat terjadi kericuhan di pintu Kori Kamandungan. Posisinya kembali menjadi sorotan pasca-wafatnya ayah Timoer pada November 2025, di mana ia mengambil peran dalam polemik suksesi takhta.[12][13] Berbeda dengan sikap sebelumnya yang kerap sejalan dengan Lembaga Dewan Adat (LDA), ia justru memimpin panitia Jumenengan (penobatan) yang mendukung adik tirinya Purboyo sebagai Pakubuwana XIV,[14][15][16] berbeda dengan kubu lain yang mengajukan figur Hangabehi sebagai penerus takhta, termasuk Wandasari.[17][18]
Sejak kelahirannya, Rumbai menyandang gelar kebangsawanan Bandara Raden Ajeng (BRAj), sebuah gelar yang lazim diberikan kepada cucu penguasa yang belum menikah. Status gelarnya kemudian mengalami perubahan menjadi Gusti Raden Ajeng (GRAj) setelah ayahnya naik tahta, gelarnya berubah lagi menjadi Gusti Raden Ayu (GRAy) setelah ia melangsungkan pernikahan. Pada masa ini, nama "Timoer" disematkan sebagai nama resmi dan gelarnya dinaikkan menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR). Ia disapa "Gusti" atau "Gusti Ratu' sebagai tanda kehormatan.
Pada era kepemimpinan adiknya, Pakubuwana XIV, posisi Timoer ditempatkan sebagai figur yang dituakan di kalangan keluarga inti. Dalam upacara yang berlangsung pada 15 November 2025, gelarnya secara resmi dinaikkan menjadi Gusti Kanjeng Ratu Panembahan (GKRP). Penganugerahan gelar ini menandai status senioritasnya dalam hierarki sentana dalem. Bersamaan dengan momentum tersebut, dua saudara perempuannya juga menerima kenaikan status, beralih dari gelar Gusti Raden Ayu (GRAy) menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR).[19]