Tiga Aturan Disiplin dan Delapan Hal yang Perlu Diperhatikan
Tiga Aturan Disiplin dan Delapan Hal yang Perlu Diperhatikan
Tiga Aturan Disiplin dan Delapan Hal yang Perlu Diperhatikan (Hanzi:三大纪律八项注意; Pinyin:Sān dà jìlǜ bā xiàng zhùyì) adalah sebuah doktrin militer yang dikeluarkan oleh Mao Zedong dan pengikutnya pada 1928 kepada Tentara Merah Buruh dan Petani Tiongkok selama Perang Saudara Tiongkok. Isian doktrin tersebut berbeda di berbagai versi, namun mayoritas versi doktrin ini memberi penekanan terhadap memberi hormat kepada pihak sipil selama masa perang. Versi dibawah ini merupakan versi yang didapatkan oleh Stephen Uhalley pada 1975.[1]
Pernyataan
Tiga Peraturan tersebut adalah:
Taat terhadap peraturan;
Tidak boleh menyita harta rakyat;
Pengiriman segera secara langsung kepada pihak berwenang atas semua barang yang disita dari musuh.
Delapan hal tersebut adalah:
Berbicara dengan sopan
Jujur saat membeli dan menjual
Kembalikan seluruh yang dipinjam
Ganti rugi terhadap seluruh yang rusak
Jangan memukul atau mengumpat orang lain
Jangan merusak pangan
Jangan menganiaya wanita
Jangan memperlakukan tawanan dengan buruk
Alternatif
People's Daily mempersembahkan terjemahan yang lebih harafiah sebagai berikut:[2]
Tiga Aturan Disiplin
Patuhi perintah dalam setiap tindakanmu. (一切行动听指挥)
Jangan mengambil sehelai jarum pun atau seutas benang pun dari rakyat. (不拿群众一针一线)
Serahkan semua barang rampasan. (一切缴获要归公)
Delapan Hal yang Perlu Diperhatikan
Bicaralah dengan sopan. (说话和气)
Bayarlah dengan adil atas apa yang kamu beli. (买卖公平)
Kembalikan semua yang kamu pinjam. (借东西要还)
Ganti rugi atas apa pun yang kamu rusak. (损坏东西要赔)
Jangan memukul atau mengumpat orang lain. (不打人骂人)
Jangan merusak pangan. (不损坏庄稼)
Jangan melecehkan wanita. (不调戏妇女)
Jangan menyiksa tawanan. (不虐待俘虏)
Sejarah
Perintah ini secara umum ditaati oleh Tentara Merah Buruh dan Petani Tiongkok yang kemudian menjadi Tentara Pembebasan Rakyat, dan menurut Stephen Uhalley, membuat Tentara Merah Tiongkok menjadi tentara yang berbeda dari tentara panglima perang lainnya dan menjadi kesayangan rakyat.[1] Sikap terhadap Tiga Aturan Disiplin dan Delapan Hal yang Perlu Diperhatikan berbeda kontras dengan sikap pasukan Tentara Revolusioner Nasional besutan Kuomintang pimpinan Chiang Kai-shek, musuh utama Partai Komunis Tiongkok selama Perang Saudara Tiongkok. Contohnya, pasukan nasionalis kerap masuk ke rumah rakyat jelata tanpa izin, bersikap tidak sopan dan melecehkan rakyat sipil, dan kadang menjarah dan menyita materi dari sipil untuk pasokan mereka sendiri. Sementara seorang Tentara Merah dibawah Tiga Aturan Disiplin dan Delapan Hal yang Perlu Diperhatikan meminta izin kepada rakyat sipil untuk menggunakan materi sebagai pasokannya dan memohon izin untuk masuk ke rumah, dan mereka yang melanggar aturan dihukum dengan segera.[1] Contohnya, seorang Tentara Merah yang menjarah rumah rakyat akan dihukum mati ditempat.[3]
Peraturan militer ini membuat rakyat jelata terkesan dan dengan sukarela membantu Tentara Merah, baik menyumbang materi kepada mereka ataupun menyembunyikan mereka. Hal ini membantu upaya perang mereka. Pada akhirnya, banyak diantara rakyat jelata ini beserta putra-putri mereka bergabung ke Tentara Merah, memberikan Tentara Merah rantai pasokan sumber daya manusia untuk melawan Kuomintang dan Jepang.[3]
Sudah menjadi hal yang lazim bahwa setelah barang-barang disita dari para panglima perang, barang-barang tersebut akan didistribusikan kembali kepada rakyat, selain juga untuk memasok Tentara Merah Tiongkok. Maka, ketika pasukan Kuomintang datang untuk mencari pasukan komunis, rakyat jelata setempat kerap berbohong kepada otoritas Kuomintang sementara memperlakukan Tentara Merah seperti tamu ketika mereka datang ke desa. Hal ini selalu mengakibatkan berkurangnya jumlah pasukan Kuomintang.[3]
↑"Notes". peopledaily.com.cn. Diarsipkan dari asli tanggal 14 August 2022.
123Slavicek, Louise Chipley (2004). Mao Zedong. Great Military Leaders of the 20th Century. Philadelphia: Chelsea House. hlm.37–39. ISBN0-7910-7407-2. Diakses tanggal 8 October 2015.