Tidi Lo Bituo adalah tarian klasik Gorontalo yang menggunakan keris (bituo) dan melambangkan hak asasi wanita untuk menuntut keadilan, kebenaran, dan kebijaksanaan dalam memutuskan sesuatu. Tarian ini berkembang pada abad ke-17 dan 18 di kalangan istana raja dan bangsawan, serta sering dipentaskan untuk menyambut tamu negeri, upacara adat penobatan, dan pemberian gelar adat. Pada tahun 2023, Tidi Lo Bituo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.[1][2]
Sejarah Tidi Lo Bituo
Tidi Lo Bituo atau tari keris merupakan salah satu tarian tradisional Gorontalo yang telah dikenal sejak dulu. Tarian ini berpijak pada pola-pola tradisi Gorontalo. Tiidi Lo Bituo ini lahir sejak zaman pemerintahan Raja Eyato pada 1672. Busana adat dan semua artibut melambangkan empat keterikatan, yaitu keterikatan dalam menjalankan syariat Islam, keterikatan sebagai ratu rumah tangga, keterikatan dalam menjalin kekerabatan antar-keluarga tetangga dan masyarakat, dan keterikatan (membatasi diri) dalam pergaulan sehari-hari. Tidi lo Bituo merupakan salah satu jenis tari yang khusus dipentaskan di kalangan istana raja (Yiladia lo Olongia) pada zaman dahulu. Jika tarian tersebut dilakukan di istana maka disebut tidi, tetapi kalau tarian di luar istana tidak dilekatkan kata tidi pada namanya. Seperti tarian Saronde tidak disebut tidi Saronde, momonto hutia tidak disebut sebagai tidi Momonto Hutia. Perkataan tidi merupakan upaya istana pada zaman dulu untuk memberikan kekhususan, tarian yang dilekatkan kata tidi di depannya adalah tarian elite kaum istana atau bangsawan saja. Tarian Tradisional Gorontalo senantiasa berpijak pada pola-pola tradisi Gorontalo. Tidi merupakan tarian klasik Gorontalo yang berkembang pada abad ke 17 dan 18 di kalangan istana.[1]
Pelaksanaan Tidi Lo Bituo
Tidi Lo Bituo adalah tidi yang menggunakan Bituo atau keris sebagai sarana untuk menari. Pada zaman kerajaan, Tidi Lo bituo sering dipentaskan dalam menyambut tamu negeri, upacara adat penobatan dan pemberian gelar adat. Tidi Lo Bituo ditarikan oleh 4 orang putri menggunakan baju adat Pasanga (yang menggunakan baju berlengan tiga perempat) dan menggunakan sunti di atas konde sebanyak lima buah, seperempatnya dihiasi dengan gelang yang disebut dengan pateda berjumlah 5 di tangan kiri dan 5 di tangan kanan selebihnya adalah gelang biasa.[1]
Tarian ini memiliki 15 gerakan, gerakan masuk arena, jalan ke depan, penghormatan, mundur sambil pegang selendang, mengikat selendang di pinggang, duduk sambil tangan diayunkan ke kiri dan ke kanan, berdiri dengan gerakan kedua tangan ke depan, mencabut keris sambil maju ke depan, maju dan mundur, mengembalikan keris ke pinggang, mundur dan berhadapan, berpasangan duduk, memasukkan keris kepinggang, formasi terakhir dan penghormatan.[1]
Makna Tidi Lo Bituo
Tidi lo bituo atau tarian keris. Tarian ini menggambarkan hak azasi wanita untuk menuntuk keadilan, kebenaran, dan memutuskan sesuatu dengan bijaksana. Kaum wanita berhak menuntut keadilan, kebenaran dan berhak memutuskan sesuatu dengan bijaksana sepanjang kegiatannya bermanfaat bagi orang banyak, termasuk membela kehormatannya, kehormatan suami, martabat keluarga dan kehormatan negerinya. Fungsi tidi lo bituo dengan sebilah keris dan selendang menggambarkan hak seorang wanita untuk mempertahankan kesucian dirinya.[3][4]