Biografi
Kelahiran dan KNIL
Nussy dilahirkan di Ngawi pada tahun 1917. Ia beragama Kristen Protestan. Saat Perang Dunia II berlangsung, dia sedang berada di Australia dan bergabung dengan KNIL.[1][2] Dia juga sempat mendapatkan pelatihan raider di Australia.[3] Seusai peristiwa Bersiap yang memakan banyak korban orang Maluku, dia melancarkan aksi balas dendamnya.[1]
Pada tahun 1947, Nussy dikabarkan bergabung dengan pasukan khusus KNIL Korps Speciale Troepen dengan pangkat sersan dan menjadi anak buahnya Raymond Westerling. Dia juga ikut serta dalam Kampanye Sulawesi Selatan. Ketika diwawancara oleh Nieuwsblad van het Noorden pada tahun 1988, dia dengan bangga mengungkapkan bahwa ia telah membunuh sekitar 2000 orang, termasuk anak-anak dan wanita di Sulawesi Selatan sebagai aksi balas dendam orang Makassar yang telah membunuh orang Ambon. Dia juga menjustifikasi tindakan pembunuhan terhadap anak-anak karena kekhawatiran bahwa mereka akan membunuh orang Ambon ketika mereka sudah besar.[4] Setahun kemudian, ia dipindahkan ke Jawa Tengah.[1] Ia juga ikut serta dalam Agresi Militer Belanda II sebagai anggota pasukan penyerbu. Dia juga pernah ditempatkan di Surakarta dan bertemu dengan Slamet Riyadi untuk menyampaikan keinginan bergabung dengan TNI yang mana Riyadi menyutujuinya. Pada tahun 1949, ia pindah ke Batujajar.[1] Pada masa berakhirnya Belanda di Indonesia, ia ditawari oleh Mayor Faber dan Letnan Fickeds untuk pindah ke Belanda karena menurut mereka Belanda akan kembali ke Indonesia pada tahun 1951. Selain itu juga, Westerling mengajak Nussy untuk mendukung dan bergabung APRA beserta dengan anak buahnya dengan iming-imingan uang sebesar 450 dolar Singapura. Namun kedua tawaran tersebut ditolak oleh dia.[1]
Pada tanggal 26 Desember 1949, Nussy mendapatkan perintah untuk memindahkan anggota kempeitai yang ditahan di Pulau Onrust ke Tokyo. Namun ia diperintahkan untuk balik ke Jakarta saat berada di Pinang.[1] Dia lebih memilih untuk ke pulang ke Ambon melalui Surabaya, Pare-Pare, dan Makassar.[6] Saat di Makassar, Nussy bertemu dengan Christiaan Robbert Steven Soumokil dan Andi Azis. Soumokil dan Azis meminta dia untuk tinggal di Makassar. Selain itu juga, Soumokil juga memerintahkan dia untuk membunuh tokoh pro pemerintah yaitu Weirizal dan Manuhutu Namun ia memutuskan untuk pulang ke Ambon dan tiba di sana pada bulan Januari 1950.[1]
Pada tanggal 23 Maret 1950, Nussy bersama pasukannya menduduki Benteng Victoria dan merobek bendera Belanda. Dia juga mengumumkan bahwa pasukannya tidak lagi patuh terhadap perintah Belanda dan menjadi bagian dari Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Tindakan ini menimbulkan keresahan di kalangan KNIL yang menuding Nussy menghasut Johanis Hermanus Manuhutu dan pimpinan Partai Indonesia Merdeka (PIM) untuk menciptakan kerusuhan. Ia juga diajak oleh Kainama untuk ikut memberontak. Namun rencana pemberontakan tersebut gagal.[11]
Kepala Staf Angkatan Perang RMS
Soumokil mengajak Nussy dan eks-personil KNIL lainnya untuk bergabung dengan RMS. Tawaran itu ia terima dan ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang RMS pada tanggal 27 April 1950 yang mana ia diperintahkan untuk mempertahankan Pulau Seram dari serangan pemerintah.[1][6][12]
Selama berperang bersama RMS, Nussy terkenal sebagai sosok yang menyeramkan. Ia dikabarkan pernah membunuh tiga perwakilan TNI karena dia tidak ingin orang lain yang melakukannya dan juga membakar desa serta membunuh kepala desa untuk mengusir TNI.[1] Ia diduga menyuruh anak buahnya untuk membunuh Pattiwael. Dia juga sempat memiliki hubungan yang buruk dengan Soumokil dan Soumokil mengirimkan anak buahnya untuk membunuhnya. Namun hal ini tidak terjadi setelah Nussy berkontak dengan dia.[6] Di samping itu juga, Pengadilan Militer RMS di Seram pernah menjatuhkan hukuman mati kepada dia karena pelanggaran yang dilakukannya. Akan tetapi, ia mendapatkan pengampunan sehingga hukuman matinya dibatalkan.[14] Pada Invasi Ambon, ia memimpin 1500 pasukan APRMS.[12]
Menyerah dan pengadilan
Kemudian Nussy menyerah kepada pemerintah di Ambon pada tanggal 23 Oktober 1953.[15][16] Setelah menyerah, ia sempat dipertunjukan oleh pasukan pemerintah kepada masyarakat di sebuah desa dan mereka mengajaknya untuk bergabung dengan TNI.[17] Ia kemudian diterbangkan dari Ambon ke Jakarta dan direncanakan untuk dibawa ke Yogyakarta untuk diadili di Pengadilan Militer.[18] Namun ia kembali ke Ambon demi operasi militer TNI melawan RMS.[19] Kemudian, ia ditahan di Yogyakarta dan menjalani sidang di Pengadian Militer.[16] Dia menjalani sidang pada 24 Maret 1955 yang mana ia membantah tuduhan yang dibawa saat sidang dan mengatakan bahwa RMS adalah sah.[6] Pada bulan Juni 1955, Pengadilan Militer Yogyakarta memvonis hukuman dia selama 7 tahun dari yang sebelumnya 10 tahun.[20] Pada bulan Juli 1956, ia dikabarkan sebagai satu-satunya tahanan RMS yang masih berada di Lapas Wirogunan.[21] Meskipun begitu, ia kemudian dibebaskan dari penjara setahun kemudian untuk ikut serta ke TNI dalam menumpas pemberontakan RMS di Seram. Ia juga menjadi saksi ketika Dantje Jacob Samson dan menteri-menteri RMS disidang.[11]
Perwira Tentara Nasional Indonesia
Dia lalu bergabung dengan TNI setelah Herman Pieters meminta kepada Sukarno dan pimpinan Angkatan Darat untuk memasukkan dia ke dinas tentara.[22] Menjadi anggota TNI, ia dikenal sebagai tentara yang mendapatkan medali dan pujian dari atasannya. Dia ikut serta dalam operasi penumpasan RMS di Seram dan Operasi Trikora dengan menjabat sebagai komandan perang.[1] Dalam operasi penumpasan RMS, ia dikenal sebagai sosok yang kejam.[17] Pada Operasi Trikora, ia memimpin pasukan infiltrasi ke Pulau Misool pada tanggal 4 Agustus 1962, berkenalan dengan Benny Moerdani dan Sudomo, dan membunuh seorang perwira Tentara Belanda bernama Smit dengan cara menancapkan pisau ke matanya.[1][4][23] Dia juga menjadi pengawal Soeharto sebelum ia menjadi presiden. Karena prestasinya, ia pernah mendapatkan pangkat mayor jenderal. Namun pangkatnya diturunkan menjadi kapten karena ia membunuh orang Papua.[4]
Kehidupan pasca militer
Nussy pensiun dari dinas TNI dengan pangkat terakhir mayor. Ia menghabiskan masa tuanya aktif di gereja.[1] Pada tahun 1988, ia dikabarkan tinggal di Desa Halong bersama dengan cucu perempuannya.[4]