Lakon ini menyindir kemunafikan masyarakat aristokrat Prancis, namun juga menyentuh nada yang lebih serius dengan menunjukkan kelemahan-kelemahan yang melekat pada seluruh umat manusia. The Misanthrope berbeda dari farce pada zamannya karena menghadirkan tokoh-tokoh yang berkembang seperti Alceste dan Célimène, alih-alih sekadar karikatur datar sebagaimana lazimnya satir sosial tradisional. Berbeda pula dari banyak karya Molière lainnya, naskah ini lebih menekankan pendalaman karakter dan nuansa psikologis ketimbang sekadar alur cerita. Meski tidak menuai kesuksesan komersial pada masanya, kini karya ini bertahan sebagai lakon Molière yang paling dikenal.
Karena baik Tartuffe maupun Don Juan—dua karya Molière sebelumnya—telah lebih dulu dilarang oleh pemerintah Prancis, besar kemungkinan Molière melunakkan gagasannya agar pementasan ini lebih dapat diterima secara sosial. Akibatnya, muncul ambiguitas apakah tokoh utama Alceste dimaksudkan sebagai pahlawan karena kejujurannya yang tak tergoyahkan, atau justru sebagai seorang yang quijotik nan dungu. The Misanthrope pun tak luput dari kritik tajam sepanjang masa. Filsuf Prancis Jean-Jacques Rousseau dalam karyanya Surat kepada M. D'Alembert tentang Pertunjukan menyebut lakon ini sebagai karya terbaik Molière, tetapi ia menyesalkan bahwa Alceste dijadikan bahan olok-olok. Rousseau berpendapat bahwa penonton semestinya mendukung cita-cita luhur Alceste, alih-alih menertawakan kesialan-kesialannya.
Referensi
↑Molière (23 June 1968). The Misanthrope, and Other Plays. New American Library. Diakses tanggal 23 June 2018– via Internet Archive.
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Le Misanthrope.
Wikisource Prancis memiliki teks asli yang berkaitan dengan artikel ini: