Sepinya aktivitas transportasi umum di Terminal Porong membuat warga sekitar memanfaatkan area sekitar terminal sebagai lokasi berdagang di luar Pasar Baru Porong. Banyak pedagang kaki lima (PKL) yang mendirikan kios yang menjajakan berbagai kuliner murah, bahkan beberapa menjajakan barang-barang bekas seperti halnya pasar loak.[5][6] Pada hari-hari tertentu, area di sekitar terminal biasanya dimanfaatkan menjadi lokasi pelayanan Samsat keliling dan pangkalan delman wisata/kuda tunggang.[7][8]
Sejarah singkat
Sampai tahun 2000-an, sebagian besar angkutan umum non bus lintas selatan Kabupaten Sidoarjo mempunyai pangkalan/terminal bayangan yang terletak di pertigaan Gedang dan depan Pasar Porong yang lama (saat ini menjadi Taman APKASI).[9] Seiring dengan semakin semrawutnya arus lalu lintas akibat pengunjung pasar dan kendaraan pada jalan arteri lintas Surabaya–Malang di depan pasar, akhirnya Pemkab Sidoarjo mulai membangun pasar pada lokasi baru di Desa Juwet Kenongo. Periode pembangunan kompleks Pasar Baru Porong (termasuk terminal tipe C) mulai dilaksanakan antara tahun 2003–2006. Namun, rencana relokasi pedagang pasar pada pertengahan 2006 terpaksa diundur, dikarenakan lokasi baru pasar digunakan sebagai lokasi pengungsian korban bencana Lumpur Lapindo. Pedagang pasar mulai pindah dan menempati kios di Pasar Baru Porong sekitar Mei 2010 secara keseluruhan. Begitu pula seluruh angkutan umum mulai diarahkan untuk memasuki terminal yang baru. Tepat pada 27 Juli 2010, Pasar Baru Porong dan Terminal Porong mulai diresmikan oleh Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah.[10]
Jaringan trayek MPU non bus
Kenampakan unit angkutan pedesaan trayek HE (hijau) relasi Porong–Prambon terparkir di area belakang Pasar Baru Porong. Hingga tahun 2022, hanya trayek ini yang masih melintasi Terminal Porong.
Sebagai terminal penumpang tipe C, Terminal Porong awalnya diperuntukkan sebagai titik terminus dan naik-turun berbagai angkutan umum non bus seperti angkutan pedesaan dan MPU antarkota. Sampai tahun 2006, jumlah angkutan pedesaan Kabupaten Sidoarjo di Kecamatan Porong sebesar 154 unit, yang tersebar pada dua belas rute trayek berbeda. Selain itu, terdapat enam rute trayek MPU antarkota dari terminal ini yang menjangkau perbatasan Kabupaten Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, hingga Malang.[11][12]
Jaringan trayek angkutan umum MPU non bus di Terminal Porong. (Sumber: Papan informasi mengenai data trayek dan tarif angkutan umum oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo Tahun 2006)
Sampai tahun 2014, jumlah unit angkutan pedesaan dari Terminal Porong yang terdaftar di Dishub Sidoarjo berjumlah 140 unit, yang tersebar pada sembilan rute trayek berbeda seperti , , , , , , , dan PK. Namun hanya beberapa unit pada trayek saja yang rutin beroperasi. Pada kondisi eksisting, trayek tersebut pun sudah tidak beroperasi hingga tujuan akhir di Prambon, tetapi hanya sampai Krembung saja.[13]
Terpantau pada jangka waktu antara Januari–November 2019, jumlah rata-rata angkutan umum yang masuk terminal setiap harinya hanya berjumlah empat puluh dari 330 unit keseluruhan MPU non bus berbagai trayek. Sedangkan jumlah penumpang yang masuk terminal setiap harinya hanya berjumlah 44 dari total 1.760 orang dalam waktu sebelas bulan pengamatan.[14] Sedikitnya okupansi penumpang dari Pasar Baru Porong menjadi salah satu penyebab banyak pengemudi angkutan umum enggan singgah ke terminal ini. Bahkan pengemudi angkutan umum dari beberapa rute trayek melakukan pemangkasan rute perjalanan dan beroperasi hanya pada segmen yang masih terdapat okupansi penumpang seperti berikut.[15][16]
MPPJ: Malang–Bungurasih (tetap lewat jalan arteri lama, tapi tidak masuk terminal)
Bus aglomerasi
Kenampakan deret antrean beberapa unit bus Trans Jatim maju ke shelter pemberangkatan pada Halte Terminal Porong, 2022.
Sejak diresmikan pada tahun 2010, baru pada September 2015 Terminal Porong dijadikan halte pemberhentian moda transportasi umum bus aglomerasi Trans Gerbangkertosusila bernama Trans Sidoarjo. Satu-satunya relasi yang diberlakukan membentang sepanjang rute Purabaya–Porong via Tol. Setelah hampir lima tahun mengaspal, Trans Sidoarjo akhirnya dihentikan operasinya pada April 2020, menyusul mulai diberlakukannya pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19 di Kota Surabaya dan sekitarnya.[17][18]
Pada 19 Agustus 2022, layanan bus aglomerasi kembali beroperasi dari Terminal Porong. Layanan bernama Trans Jatim ini menggantikan layanan Trans Sidoarjo pada relasi perjalanan yang sama dengan rute diperpanjang hingga Terminal Bunder. Terminal ini menjadi titik terminus bagi koridor 1 Trans Jatim relasi Sidoarjo–Surabaya–Gresik pp[19][20] dan juga koridor 6 Trans Jatim relasi Sidoarjo–Mojosari–Mojokerto pp sejak 26 Mei 2025.
Wacana pengembangan fungsi terminal
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sidoarjo Tahun 2009–2029, tertuang rencana Terminal Porong akan dikembangkan statusnya menjadi terminal penumpang tipe B.[21] Sebagai langkah untuk menghidupkan aktivitas terminal yang sepi walau berlokasi di tempat yang strategis, Dishub Sidoarjo mewacanakan beberapa rencana untuk merombak wajah Terminal Porong menjadi terminal multifungsi di masa mendatang. Selain akan terus membenahi sarana dan prasarana penunjang, Dishub akan menambah fungsi terminal.[22] Rencananya terminal akan dibangun gedung lima lantai selayaknya mal-mal besar, yang didalamnya terdapat terminal, sentra usaha mikro kecil menengah (UMKM), pertokoan, gedung pertemuan, fasilitas olahraga dan area parkir kendaraan (APK).[23] Lebih lanjut, terminal ini akan dijadikan sebagai halte lintasan dan tempat pemberhentian berbagai bus antarkota dari Surabaya menuju kawasan Malang Raya dan/atau tapal kuda Jawa Timur maupun sebaliknya.[24][25] Hal tersebut dikarenakan selama ini bus antarkota hanya melintasi jalan arteri baru ataupun jalan tol, tanpa melintasi terminal ini.[26]
Galeri
Kenampakan fisik bangunan Terminal Porong serta angkutan umum yang terdapat di dalamnya.