Tradisi Ter-teran digelar juga sehubungan dengan upacara ngusabe di Pura Dalem, atau disebut juga Aci Mu-muuu.[2] Ngusabe Mumu bertujuan untuk memperkuat keyakinan dan kepercayaan masyarakat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tradisi ini juga menjadi pengingat umat Hindu akan pentingnya melakukan Yadnya selain berbuat Dharma selama hidup di dunia. Biasanya tradisi ini diadakan setiap dua tahun sekali, tepatnya pada bulan Maret, bertepatan dengan Rahina Tilem Kesanga di tahun Masehi berangka ganjil.[3]
Alat yang digunakan untuk ter-teran adalah obor prokpak/bobok (dan kelapa kering yang diikat), ditengah-tengah daun kelapa yang telah diikat diisi dengan tongkat atau kayu kecil, agar jangkauan lemparan bisa lebih jauh dan kuat.[2] Obor tersebut dinyalakan dan dilempar antara satu dengan lain pemain menimbulkan bunyi ter-ter, sehingga tradisi ini dinamakan ter-teran.[2] Pemainnya terdiri dari laki-laki tua maupun muda.[1] Mereka tidak mengenakan baju, hanya mengenakan kain atau celana.[1] Para pemain dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok utara balai banjar dan selatan balai banjar.[2] Tradisi ini digelar saat hari menjelang malam atau sekitar pukul 18.00, listrik dipadamkan dan menyisakan cahaya obor.[2] Apabila ada pemain yang terkena api, maka lukanya diolesi atau diperciki air tirta (air suci)yang dimohonkan kehadapan Ida Batara (Tuhan).[1] Ter-teran mengandung makna teologi, yakni adanya kepercayaan masyarakat bahwa pelaksanaan upacara ter-teran dapat mengusir roh-roh jahat atau bhuta kala kembali ke laut atau ke alamnya.[1]
Selain dipercaya untuk memperkuat keyakinan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Upacara Ter-teran ini memiliki makna keharmonisan kehidupana antara manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Dalam Hindu, dikenal Tri Hita Karna, 3 (tiga) unsur yang menyebabkan kesejahteraan dan keharmonisan dalam kehidupan. Yakni hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (Pawongan), dan hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan). [4]