Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Alasannya ialah: Beberapa poin perlu dijabarkan menjadi prosa (dalam bentuk kalimat). Selain itu, sesuai dengan standai pengutipan di Wikipedia yang menggunakan catatan kaki, maka penulisan nama dan tahun di akhir kalimat sebaiknya tidak perlu. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini.(Oktober 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Teori perbandingan sosial menjelaskan bahwa individu secara alami membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai dan meningkatkan diri. Perbandingan ini dapat bersifat perbandingan dengan yang lebih tinggi (upward) dan perbandingan dengan yang lebih rendah (downward). Dalam era digital, proses ini banyak terjadi di internet, terutama media sosial, di mana individu dengan mudah mengamati kehidupan orang lain. Akibatnya, media sosial menjadi ruang baru yang memperluas peluang terjadinya perbandingan sosial yang dapat memengaruhi pandangan seseorang terhadap dirinya dan orang lain.[1]
Pembahasan
Ada dua jenis perbandingan sosial, sebagai berikut:[2]
Perbandingan ke atas - Perbandingan ke atas adalah ketika seseorang membandingkan dirinya dengan seseorang yang dianggap lebih unggul, hal ini bisa berupa kesuksesan, penampilan, dan/atau kesukaan, yang kemudian menyebabkan individu tersebut ingin menjadi lebih seperti mereka.
Perbandingan ke bawah - Perbandingan ke bawah merupakan Sikap membandingkan diri individu dengan orang lain yang lebih buruk dari pada individu tersebut.
Dikutip oleh Serly Anggraini (2021), terdapat tiga faktor yang dapat memengaruhi perbandingan sosial (Wood, 1989).[3]
Self Evaluation - Individu memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi pendapat dan kemampuan dirinya melalui orang lain.
Self Improvement - Individu menggunakan informasi dari orang lain sebagai inspirasi atau motivasi untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri mereka.
Self Enhancement - Individu membuat perbandingan dengan orang lain untuk meningkatkan harga diri individu. Individu akan merasa lebih baik jika merasa lebih unggul dari individu lain.
Berdampak negatif pada kualitas hidup pengguna media sosial: Membandingkan diri dengan orang lain dapat memengaruhi kualitas hidup pengguna media sosial . Misal nya pengguna terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain sehingga memiliki pikiran yang dominan negatif sehingga memengaruhi kualitas hidup pengguna tersebut.
Menurunnya self-esteem:: Self esteem merupakan cara Individu memandang diri nya . Dengan terlalu banyak membanding bandingkan diri dengan orang lain maka terkandang seorang individu tersebut terlalu memandang diri nya tidak layak dan pantas.
Menigkatnya gaya hidup hedonisme: Dengan membandingkan diri kita dengan orang lain terkadang dapat mendorong kita kepada gaya hidup yang hedonisme. Hal tersebut terjadi dikarenakan melihat orang lain dengan barang mahal sehingga mendorong kita untuk membeli barang barang mahala tersebut
Meningkatkan kecemasan sosial: Membanding-bandingkan diri dengan orang lain dapat membuat individu merasakan kecemasan yang berlebihan.
Dampak Positif dari Social Comparison
Meningkatkan Rasa Syukur:[4] Membandingkan diri dengan orang yang lebih buruk dapat membuat seseorang menjadi lebih bersyukur atas keadaan nya .
Variety-Seeking Behavior:[5] Individu yang membandingkan dirinya dengan orang lain dapat menarik indivdu tersebut untuk mencoba hal-hal baru.
Contoh
Penelitian ini melibatkan 274 perempuan berusia 18–25 tahun di Sumatera Barat yang menggunakan media sosial setidaknya tiga jam setiap hari, dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Social Comparison (18 item) dan skala Body Dissatisfaction (24 item). Sebagian besar responden (51,82%) menggunakan media sosial antara 3–6 jam per hari, dan selebihnya memiliki rata-rata lebih dari 6 jam/hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa social comparison menyumbang 34,6% terhadap body dissatisfaction, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Sebagian besar partisipan berada pada tingkat ketidakpuasan tubuh (body dissatisfaction) kategori sedang, yang berarti mereka merasa tidak sepenuhnya puas dengan bentuk tubuh dan penampilannya. Paparan citra tubuh ideal di media sosial mendorong mereka untuk membandingkan diri dengan orang lain, sehingga muncul perasaan negatif terhadap tubuh sendiri dan menurunkan body image positif. Dengan demikian, standar kecantikan yang ditampilkan di media sosial menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketidakpuasan tubuh pada perempuan muda.[6]
Pencegahan
Berikut strategi untuk mencegah dan mengurangi perilaku perbandingan sosial.[7]
Psikoedukasi - Psikoedukasi mengenai etika penggunaan media sosial terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran remaja tentang perilaku digital yang lebih bijak dan bertanggung jawab.[8]
Self Management - Self management adalah prosedur yang mengharuskan individu mengatur perilakunya sendiri. Self management dapat memodifikasi perilaku individu sehingga dapat mereduksi kecanduan media sosial pada individu.
Self Compassion - Self compassion mampu mereduksi perilaku adiktif media sosial pada individu. Kebiasaan ini menunjukkan emosi sehat yang mengarah pada lebih banyak self-kindness.[9]
Dengan demikian, langkah paling awal untuk mencegah perilaku perbandingan sosial ini adalah dengan mencegah dan mengurangi social media addiction serta meningkatkan digital literacy. Penting bagi pengguna untuk menjaga perspektif yang sehat saat bermedia sosial.
↑Anggraini, Serly (2021). "Hubungan Social Comparison dengan Life Satisfaction pada Wanita Dewasa Awal Pengguna Tiktok". Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya