Istilah Sekomandi berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa lokal, yaitu "seko", yang berarti "persaudaraan atau kekeluargaan", serta kata "mandi", yang berarti "kuat atau erat". Oleh karenanya, Sekomandi dapat diartikan sebagai ikatan persaudaraan yang kuat.[3]
Pembuatan
Tenun Sekomandi dibuat dari bahan dasar kulit kayu yang diproses dengan cara ditumbuk hingga halus, kemudian diolah dan dipintal menjadi benang. Penenunan kain dilakukan secara manual menggunakan alat tenun tradisional (gedogan) oleh ibu rumah tangga dengan pola hias yang diatur sebelum proses penenunan dimulai. Pembuatan tenun ini menggunakan bahan pewarna alami yang berasal dari akar pohon, dedaunan,[1][4] campuran cabai, dan bahan alami lainnya.[3]
Pola dan motif
Kain tenun Sekomandi memiliki pola dasar geometris dengan bentuk perisai, jajar genjang, garis beraturan, serta bentuk lain yang menyerupai orang dan kepiting.[5] Kain tenun tradisional ini memiliki beragam motif dengan maknanya tersendiri. Beberapa di antaranya adalah motif Ulukarua Kasalle, Ulukarua Barinnik, Tonoling, Telensepuk, Sambo Tanete, Porikokkok, Tossobalekoan, dan Sarakka. Motif Ulu Karua mencerminkan delapan sosok pemangku adat. Warna-warna yang digunakan dalam kain ini berupa perpadian jingga, merah, cokelat, hijau, krem, dan kuning.[4]
Pemanfaatan
Secara tradisional, kain tenun Sekomandi memiliki nilai tukar dan pernah digunakan sebagai alat barter. Tenun tradisional ini memiliki nilai yang setara dengan hewan ternak seperti babi dan kerbau. Selain sebagai alat tukar, kain ini juga dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat tas, selendang, dan taplak meja.[3]
Pada era modern, tenun Sekomandi kerap dijadikan hadiah bagi tamu kehormatan. Pengolahan tenun ini dapat menghasilkan produk turunan seperti pakaian, perlengkapan mode, dan dekorasi.[1] Sebagai objek warisan budaya, kain tenun ini juga telah ditampilkan dalam berbagai pameran seperti Harvesting Gernas BBI 2022, Sulbar Expo di Balikpapan, dan Pameran Kriyanusa di Jakarta.[4]