Tengku Zulkarnain[2] (14 Agustus 1963–10 Mei 2021)[1] adalah seorang ustaz berdarah Melayu Deli dan Riau. Ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020. Selain di MUI, Ustaz Tengku juga aktif sebagai Ketua Majelis Fatwa untuk PP Mathla'ul Anwar, sebuah organisasi berfokus pada pendidikan Islam. Ia pernah menulis buku Salah Faham: jawaban atas buku rapot merah Aa' Gym.
Latar belakang dan pendidikan
Tengku Zulkarnain adalah anak dari Tengku Rafiuddin Saudin yang masih kerabat Kesultanan Serdang dan Anisah Usy, putri seorang tokoh agama di Riau. Ia menamatkan pendidikan S1 Jurusan Sastra Inggris di Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki seorang istri dan dua putri.[3]
Musisi
Tengku belajar bermain gitar dan menyanyi sejak masih sekolah dasar (SD). Ia menguasai berbagai macam alat musik, seperti organ, gitar dan piano. Ia pernah menjadi juara menyanyi di RRI dan TVRI Medan ketika masih remaja. Bahkan, dia pernah dikontrak menyanyi di salah satu ternama di Medan. Tahun 1986 ia berhenti bernyanyi dan fokus ke agama. Sejak saat itu, ia berhenti total untuk bermain musik. Bahkan, alat musiknya ia buang ke sungai.[4]
Pengajar dan pendakwah
Tengku mengaku belajar mengaji Al-Qur'an sejak usia 4 tahun. Saat berusia 8 tahun ia berhasil meraih juara Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Kota Medan dan mewakili Medan di MTQ tingkat Sumatera Utara pada usia 9 Tahun. Ia mengajar di Madrasah Muhammadiyah Tanjung Sari, Medan saat berusia 16 tahun.[5]
Pada 1987, Tengku diangkat menjadi dosen Sastra Inggris di Universitas Sumatera Utara. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama lembaga pendidikan LP3I, dan pernah bekerja kantoran sebagai Direktur Keuangan PT Griya Kersaleksana dan Direktur HRD PT Trihamas Finance Syariah.[6]
Dalam pendidikan Agama Islam, ia belajar ilmu fikih dari gurunya bernama Syaikh Dahlan Musa dan ilmu Al-Qur'an dari Syaikh Azro'i Abdul Rauf.[7]
Pada Agustus 2019, ia menuai sorotan karena menyebut letak calon ibukota Indonesia yang baru yang terletak di Kalimantan Timur berada di garis lurus dengan Beijing, ibukota Republik Rakyat Tiongkok, dan berpendapat bahwa letak ibukota tersebut dapat dengan mudah dijangkau dengan rudal. Purnawirawan panglima TNI Moeldoko menyatakan bahwa rudal saat ini tidak lagi memiliki target garis lurus.[11]