Kelenteng Suci Nurani berdiri sejak tahun 1898 di tepian Sungai Martapura.[butuh rujukan] Kelenteng ini dianggap sebagai saksi sejarah keberadaan warga Tionghoa di Banjarmasin. Saat ini, kelenteng tersebut menjadi salah satu bangunan cagar budaya.[butuh rujukan]
Saat berkunjung ke Kelenteng Suci Nurani, rasanya bagai berkelana ke awal mula kedatangan masyarakat Tionghoa di Banjarmasin. Mereka datang karena perdagangan melalui jalur sungai. Oleh sebab itu, permukimannya cenderung terkonsentrasi di sepanjang Sungai Martapura, seperti Veteran dan RK Ilir. Komunitas Tionghoa tersebut kemudian mendirikan sebuah kelenteng.
Kelenteng ini memiliki pola penataan ruang, struktur bangunan, dan ornamennya yang khas. Kelenteng Suci Nurani mempertahankan arsitektur yang melekat di berbagai sudut kelenteng. Arsitektur bangunan Kelenteng Suci Nurani cenderung bergaya Cina dan menerapkan prinsip Feng Shui.[butuh rujukan]