Kelenteng Suci Nurani berdiri sejak tahun 1898 di tepian Sungai Martapura. Kelenteng ini dianggap sebagai saksi sejarah keberadaan warga Tionghoa di Banjarmasin.[2] Saat ini, kelenteng tersebut menjadi salah satu bangunan cagar budaya.[3]
Keberadaan Kelenteng Suci Nurani terkait dengan awal mula kedatangan orang Cina di Banjarmasin, yang datang karena perdagangan melalui jalur sungai. Oleh sebab itu, permukimannya cenderung terkonsentrasi di sepanjang Sungai Martapura, seperti di Jalan Veteran dan RK Ilir. Komunitas Tionghoa tersebut kemudian mendirikan sebuah kelenteng.
Kelenteng ini memiliki pola penataan ruang, struktur bangunan, dan ornamennya yang khas. Kelenteng Suci Nurani mempertahankan arsitektur yang melekat di berbagai sudut kelenteng. Arsitektur bangunan Kelenteng Suci Nurani cenderung bergaya Cina dan menerapkan prinsip Feng Shui.[4]
Etimologi
Nama Klenteng Soetji Nurani diambil dari pemaknaan nama Dewi Kwan Im yang berarti belas kasih dan penyayang. Sehingga, dewa utama yang disembah di kelenteng ini adalah Dewi Kwan Im.[4]
Penerapan Yin Yang
Saat masuk ke dalam area kelenteng, terdapat tulisan "SOETJI NURANI" yang dipisahkan oleh simbol Yin Yang berwarna hitam-putih. Yin Yang adalah simbol keseimbangan. Nama "Soetji Nurani" menggunakan ejaan lama dan ejaan baru juga merupakan bentuk keseimbangan. Pada tulisan itu, tergantung dua buah lampion di ujung kiri dan kanan. Saat masuk ke halaman kelenteng, terdapat menara pembakaran kerta sembahyang yang juga berada di sisi kiri dan kanan.[5]
Simbol Yin Yang juga terdapat di puncak gerbang masuk kelenteng Soetji Nurani. Kemudian, di bagian tengah halaman, terdapat simbol Yin Yang dengan ukuran paling besar. Pada bagian atas bangunan utama kelenteng terdapat simbol Naga dan Burung Hong. Dalam mitologi Tionghoa, Naga melambangkan kekuatan dan keperkasaan, sedangkan Burung Hong melambangkan kelembutan dan keanggunan. Di bawah hewan Naga terdapat simbol Yin Yang terakhir.[5]
Empat simbol Yin Yang yang berada di bagian depan Kelenteng Soetji Nurani, jika ditarik lurus, posisinya tepat berada di tengah-tengah bangunan kelenteng. Hal ini mengisyaratkan bahwa Kelenteng Soetji Nurani adalah simbol Yin Yang itu sendiri, sebagai poros keseimbangan.[5]
Ibadah
Selain Dewi Kwan Im, terdapat 9 dewa lainnya yang juga menjadi penghuni di Kelenteng Soetji Nurani yaitu Thien Khung (Tuhan), Cu Sen Niang Niang, Tian Shang Sheng Mu, Kwan Ti Shen Chiun, Fu The Cen Sen, San Ciau Cu Se, Tai Swi, dan dewa Men Sen. Masing-masing dewa mempunyai kemampuan yang diyakini dapat mengabulkan permohonan.[4]
Salah satu altar terdapat tulisan "San Ciau Cu Se" yang berarti tiga ajaran punya guru. Terdapat tiga rupang guru yang mengajarkan kebenaran, mewakili masing-masing kepercayaan, yakni Kong Hu Cu (Konfusianisme), Buddha Siddharta Gautama (Buddha), dan Thai Sang Lau Cing (Taoisme). Keberadaan tiga altar guru ini juga menunjukkan bahwa Kelenteng Soetji Nurani adalah kelenteng Tridharma atau tempat yang menaungi tiga aliran kepercayaan tradisional Tionghoa.[5]