Sejarah
Dalam riwayat ini, riwayat desa Temiyang diambil dari beberapa sumber informasi. Menurut cerita sesepuh atau orang yang dituakan di desa Temiyang saat itu, desa Temiyang berasal dari tiga kata, yaitu “Manunggaling Kaula Gusti” yang berarti rakyat dan penguasa bersatu. Kata tersebut pula tidak terpecahkan, Jika bersatu dikaitkan dengan pengertian modern sekarang ini, maka disebutlah nasionalisme.
Sebelum bedah desa Temiyang dan Temiyangsari, terasa tidak elok ketika kita tidak menceritakan asal-usul Ki Bagus Sidum. Lalu siapa Ki Bagus Sidum yang sebenarnya? kita akan ambil sebagian kecil narasi yang mengisahkan perjalanan Ki Bagus Sidum. Ki Bagus Sidum adalah anak dari Ki Bagus Waridah, anak dari Syeh Syarif Hidayatullah atau sunan gunung jati cirebon, anak dari Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuwana, anak dari Prabu Siliwangi dengan perkawinannya Nyai Subanglarang. Tetapi ada versi lain bahwa Ki Bagus Sidum adalah anak dari Bagus Waridah, anak Syarif Arifin, adik kandung Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, anak dari Sheikh Abdullah Raja Mesir dengan Nyai Rara santang atau syarifah muda’im, anak Prabu Siliwangi perkawinannya dengan Nyai Subang larang. Perbedaan versi inilah hanya Allah yang mengetahuinya.
Pada saat Ki Bagus Sidum dalam pengembaraannya menyebarkan agama Islam, singgah di pedukuhan yang belum ada namanya, Ki Bagus Sidum babad alas kemudian mendirikan pesantren di pedukuhan tersebut, tepatnya di Blok Temiyang. Santrinya banyak, bukan dari orang lokal saja, melainkan datang dari berbagai daerah. Santri yang berpengaruh dalam pendirian desa Temiyang dan terkenal dalam sejarah ada tiga orang santri:
- Capping Garing atau Satria Hebat, teman dekat Nyai Suciwati anak Ki Andran.
- Ki Andran dari Alas Bakung.
- Ki Ageng Bungko, pelarian dari Kesultanan Cirebon karena gagal menjadi Dewan Wali.
Kemudian sejarah asal-usul pedukuhan Temiyang. Untuk mewujudkan wangsit tapabratanya Raden Wiralodra Kesatria dari Mataram atau Bagelen sekarang Purworejo Jawa Tengah, ditemani Ki Tinggil mulai bergerak ke arah barat yang mencari aliran sungai Kali Cimanuk sampai ke wilayah Citarum atau Purwakarta. Ditunjukkan oleh Ki Bagus Sidum dalam perwujudan kidang penanjung ke arah timur kembali sampai dengan diketemukannya aliran sungai Cimanuk sampai ke hilir. Disitulah ditemukan tempat yang dituju sesuai dengan amanah gurunya sebagai tempat yang subur makmur di lembah Kali Cimanuk.
Ki Bagus Sidum ikut membantu perjuangan Raden Wiralodra dalam babat tanah Dermayu dalam mendirikan negeri Dermayu dibantu oleh muridnya. Ketika berdiri negeri Dermayu, Capping Garing gugat keraton Dermayu ucapannya kurang lebih sebagai berikut:
"Ini keraton Dermayu, saya ikut berjuang, saya ikut mengorbankan segenap kemampuan. Kenapa saat Wiralodra sudah duduk di keraton Dermayu saya tidak di ikutsertakan?" Capping Garing gugat dan kena batunya karena yang bangun keraton Dermayu bukan Wiralodra tetapi Nyai Endang Dharma Ayu. Akhirnya Capping Garing dikutuk menjadi lutung dan lumpuh diam tanpa gerak di tempat. Disuruh miang atau pergi, orang gelem atau tidak mau karena lumpuh. Lutung tersebut berkata, temiyang, maka desa tersebut diberi nama temiyang.
Di tapak tilas Ki Bagus Sidum tersebut ada lutung sejumlah sembilan ekor adalah simbol perputaran kehidupan sebagai perwujudan berdirinya desa temiyang. Namun lutung-lutung tersebut punah pada tahun 1984. Bersamaan punahnya lutung tahun 1984, desa temiyang di Mekar ke desa temiyangsari. Desa temiyang menjadi desa induk dan desa temiyangsari menjadi desa hasil pemekaran. Walaupun nama temiyang ada di bagian desa temiyangsari, ini artinya boleh saja nama temiyang dipakai untuk desa induk yang tidak ada nama blok temiyangnya. Tetapi intisari temiyang tetap ada di temiyangsari. Terbentuknya pemekaran desa temiyangsari tahun 1984 terjadi pada saat desa temiyang dipimpin oleh kuwu Tarisah. Tepatnya tanggal 2 Juni 1984 hari Sabtu Kliwon, bertepatan dengan tanggal 2 Ramadhan 1404 Hijriah, resmi terbentuknya desa baru bernama Desa Temiyangsari. Tahun sekarang merupakan milad Desa Temiyangsari ke-41. Lahirlah Desa Temiyangsari di bawah pemimpinan Kuwu Rawita atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Kuwu Rameh atau Haji Rameh dengan masa jabatan 4 tahun sejak tahun 1984 sampai tahun 1988.
Kemudian paparan yang kedua, susunan Kuwu Desa Temiyang dengan penjelasan pada masanya. Ini akan diterangkan berdasarkan secara administratif. Periode jabatan sebelum tahun 1900 sampai 1910, nama kuwu yang menjabat Bapak Kuwu Sewen, nama Desa Temiyang. Pusat pemerintahan Desa Temiyang berada di blok Temiyang Buyut Sidum. Tepatnya di sekitar sini di blok Buyut Sidum. Pada pemerintahan kuwu pertama Desa Temiyang Bapak Kuwu Sewen roda pemerintahan berjalan dengan aman, tertib dan damai. Kehidupan masyarakatnya subur makmur. Wilayah Desa Temiyang saat itu meliputi:
- Desa Gantar
- Sukaslamet
- Mekarjaya
- Tanjung Kerta
- Temiyangsari
- Temiyang
- Jayamulya
- Sumberjaya
Pada tahun 1910, Kuwu Sewen menyerahkan tampuk kekuasaan pemerintahan desa diserahkan kepada Bapak Kasdi yang merupakan menantu Bapak Kuwu Sewen. Kemudian periode tahun 1910 sampai 1925, Ku yang menjabat Bapak Kasdi, nama Desa Temiyang. Bapak Kasdi menjadi kuwu Desa Temiyang dalam menjalankan roda pemerintahan desa yang dipimpinnya juga berjalan aman, tertib, damai dan sangat dinamis. Karena wilayah kekuasaan desa yang sangat luas, maka pada tahun 1922 Bapak Kuwu Kasdi memekarkan Desa Temiyang ke Desa Gantar. Sekarang Desa Gantar pada tahun 1982, Desa Gantar di Mekar juga menjadi Desa Mekar Jaya pada saat Desa Gantar diperintah oleh Bapak Kuwu Rasna. Kuwu Gantar yang ditunjuk oleh Bapak Kasdi saat pemekaran kala itu adalah Bapak Kwuu Dego. Bapak Kuwu Dego menyerahkan tampuk kekuasaan pemerintahan desa ke Bapak Gabung sesepuhnya Bapak Kuwu Rasna.
Pada tahun 1925, Bapak Kuwu Kasdi menyerahkan tampuk pemerintahan Desa Temiyang ke Bapak Kuwu Casma. Kemudian periode tahun 1925 sampai 1939, Kuwu yang menjabat Bapak Casma, nama Desa Temiyang. Roda pemerintahan Desa Temiyang saat dipimpin Bapak Kuwu Casma berjalan dengan aman, damai, tertib dan masyarakatnya subur makmur. Pada masa pemerintahan Bapak Kuwu Casma, Desa Temiyang di Mekar menjadi Desa Sukaslamet pada tahun 1937. Pada saat itu Desa Sukaslamet mengadakan pilihan kuwu. Desa Sukaslamet saat itu ada tiga orang calon kuwu. Calon kuwu terpilih saat itu adalah Bapak Darnisem, putera Bapak Kalinten Desa Temiyang.
Pada tahun 1939, Bapak Casma sudah tidak bisa mengendalikan jalannya roda pemerintahan desa. Karena saat itu situasi politik penjajahan Belanda yang sudah tidak menentu menjelang akhir masa penjajahan Belanda. Akhirnya resmi pada tahun 1939, kuwu Casma menyerahkan tampuk pemerintahan Desa Temiyang ke Bapak Kuwu Karwisem alias Bapak Doglong, Bapak Jumadi asal Cipedang. Tahun 1939 sampai tahun 1939, kuwu yang menjabat Karwisem alias Doglong, nama Desa Temiyang. Bapak Kuwu Karwisem memerintahlah Desa Temiyang hanya tiga bulan. Beliau hilang tanpa meninggalkan jejak.
Kemudian pada periode tahun 1939 sampai 1942, nama kuwu Karwisem Cilik alias Dukun Sunat, nama Desa Temiyang. Perjalanan roda pemerintahan kuwu Karwisem Cilik hanya berjalan tiga tahun. Pada tahun 1942, Bapak Karwisem menyerahkan tampuk pemerintahan Desa Temiyang ke Bapak Casma asal Gabus Kulon. Kemudian periode 1942 sampai 1945, nama kuwu yang menjabat Bapak Casma, Desa Temiyang. Perjalanan pemerintah dipimpin Bapak Kuwu Casma tidak berjalan lama, hanya tiga tahun. Karena saat itu penjajahan Jepang sudah mulai mendarat di eretan pada tahun 1942. Kemudian merapat masuk ke desa-desa, termasuk desa Temiyang, dan mengganggu situasi jalannya pemerintah desa. Situasi politik desa pun sudah mulai kacau balau. Akhirnya, pada tahun 1942, Bapak Casma menyerahkan tampuk pemerintahan desa Temiyang ke Bapak Jang Jana asal Cikampek, Karawang.
Periode tahun 1945-1948, kuwu menjabat Bapak Jang Jana, nama desa Temiyang. Perjalanan roda pemerintahan desa Temiyang pada masa dipimpin kuwu Jang Jana sudah tidak berjalan lama hanya tiga tahun. Karena saat situasi politik negara kita setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 masih belum terkendali. Belanda bermaksud menjajah kembali Indonesia setelah Jepang, Nagasaki dan Hiroshima dibom oleh Amerika pada tanggal 15 Agustus 1945. Kuwu Jang Jana merasa sulit mengendalikan jalannya roda pemerintahan desa Temiyang. Akhirnya, pada tahun 1948, kuwu Jang Jana menyerahkan jabatan kuwu ke Bapak Cakstam asal Cipedang.
Periode 1948-1954, kuwu menjabat Bapak Castam, nama desa Temiyang. Walaupun situasi politik negara kita pasca kemerdekaan tidak stabil, Belanda masih bermaksud menjajah kembali negara kita dengan upaya mengadu domba para elit politik negeri kita. Pada tahun 1949, timbul pemberontakan di mana-mana. Bahkan yang paling berbahaya pemberontakan di negara kita tepat berada di desa Temiyang saat itu timbul pemberontakan DI TII yang secara kebetulan pagar betis ada di desa Temiyang. Pagar betis ini tidak jauh berada di lokasi jalan ini (Blok Buyut Sidum), Namun, Bapak kuwu Castam dianggap mampu memimpin desa Temiyang sampai enam tahun. Akhirnya, pada tahun 1954, Bapak kuwu Castam menyerahkan tampuk kekuasaan desa Temiyang ke Bapak Surya asal Sukamelang.
Tahun 1954-1964, ku menjabat Kuwu Surya, nama desa Temiyang. Situasi politik negara sudah mulai aman terkendali. Kuwu Surya memimpin desa Temiyang sudah dianggap mampu dan cukup lama menyandang mahkota kuwu selama 10 tahun. Masyarakatnya sudah mulai tentram, perekonomian, pertanian sudah mulai membaik. Akhirnya, tahun 1964, Kuwu Surya tutup usia karena sakit.
Periode 1964-1979, nama kuwu menjabat Bapak Kalimah, nama desa Temiyang. Situasi negara kita saat itu akan berakhirnya Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Insinyur Soekarno. Beliau berakhir tahun 1966 setelah mengeluarkan surat perintah 11 Maret yang memberikan mandat kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk memimpin negara Indonesia. Tahun 1967, Mayor Jenderal Soeharto resmi menjadi Presiden kedua. Pada masa Presiden Soeharto inilah kehidupan politik sudah mulai menekan pada partai politik mayoritas. Golkar lah salah satu anjuran untuk pilihan rakyat dalam pemilihan umum. Kuwu Kalimah ini ternyata mampu membawa masyarakat desa Temiyang untuk mengikuti anjuran pemerintah pusat untuk memilih Golkar dalam pemilu. Sehingga Kuwu Kalimah sangat didukung oleh pemerintah pusat maupun oleh masyarakat bawah. Sampai-sampai jembatan kuwunya pun mencapai masa dua periode tahun 1979 Kuwu Kalimah berakhir masa jabatannya.
Periode 1979-1988, kuwu menjabat Bapak Tarisah desa Temiyang. Pada masa pemerintahan desa Temiyang dipimpin oleh Kuwu Tarisah. Desa Temiyang di Mekar menjadi dua desa pemekaran. Yaitu:
- Tahun 1982 di Mekar ke desa Jayamulya. Desa Jayamulya ini di Mekar lagi tahun 2009 diberi nama desa Sumberjaya.
- Kemudian tahun 1984 di Mekar ke desa Temiyangsari dengan susunan kuwu menjabat sebagai berikut:
- Tahun 1984 - 1988 dipimpin oleh PJ Bapak Haji Rawita.
- Tahun 1988 - 1998 Bapak Haji Suparyo.
- April 1998 - 10 Oktober 1998 PJ Bapak Drs Sodikin.
- Tanggal 10 Oktober 1998 - 3 September 2008 Bapak Haji Kumpul hasil pemilihan kuwu tanggal 27 Juli 1998 hari Rabu.
- Tanggal 3 September 2008 - 2014 Bapak Haji Suparyo hasil pilwu tanggal 23 Juli 2008 Rabu dan dilantik 3 September ini periode kedua Bapak Haji Suparyo. Almarhum.
- Tahun 2014 sampai dengan tanggal 16 Januari 2015, Desa Temiyangsari dipimpin oleh PJ Kuwu Hariri.
- Tanggal 16 Januari 2015 sampai 16 Januari 2021, Desa Temiyangsari dipimpin oleh Kuwu Haerudin, ini Bapak Kuwu Haerudin periode pertama.
- Tanggal 16 Januari 2021 sampai 16 Agustus 2021, Desa Temiyangsari dipimpin oleh PJ Sopari.
- Tanggal 16 Agustus 2021 sampai dengan 15 Agustus 2029, Kepala Desa Temiyangsari dipimpin oleh Bapak Kuwu Haerudin. Nah, ini Bapak Kuwu Haerudin berarti menjadi kuwu 2 periode sampai saat ini.
Nah, itulah sejarah singkat Desa Temiyang secara asal-usul, kemudian secara administratifnya. Nah, kami sampaikan ini untuk mengenang sejarah bahwa, desa tanjungkerta juga bagian dulunya sejarahnya dari Desa Temiyang. Sukaslamet dan Gantar itu pun dari Desa Temiyang, Jayamula dan itu sangat luas sekali. Itulah yang dapat kami sampaikan. Sengaja kami menyampaikan ini karena secara asal-usul induk Desa Temiyang, walaupun nama induk temiyang ada di pinggir rel kereta api. Tetapi kalau ini tidak menceritakan asal-usul, karena peradaban tidak mungkin akan berdiri sendiri tanpa peradaban sebelumnya. Itulah peradabannya, berarti dulu itu desanya Temiyang. Kita Temiyangsari termasuk Tanjung Kerta adalah pecahan dari Desa Temiyang.
Itu sekilas informasi, mudah-mudahan apa yang kami sampaikan bermanfaat sebagai generasi penerus untuk mengenang masa lalu. Bahwa Tanjung Kerta dulu bagian dari Desa Temiyang, serta Sukaslamet Gantar juga dulu bagian dari Desa Temiyang.
Terima kasih atas segala perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangannya.