Teluknaga adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tangerang, ProvinsiBanten, Indonesia. Kecamatan ini berada di pesisir utara Tangerang dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Sebagian kawasan pengembangan PIK 2 berada di wilayah kecamatan ini (khususnya koridor Teluknaga–Tanjung Pasir).[3]
Etimologi
Nama Teluknaga kerap dikaitkan dengan tradisi lisan setempat tentang “naga penjaga teluk”, serta rupa garis pantai dan muara sungai yang dianggap menyerupai naga. Dalam sumber-sumber etnohistoris, Teluknaga juga disebut sebagai salah satu pesisir tua di muara Sungai Cisadane yang sejak lama dihuni masyarakat pesisir dan komunitas peranakan Tionghoa (Cina Benteng).[4]
Sejarah
Kawasan Teluknaga merupakan jalur niaga pesisir antara Batavia—Banten sejak masa pra-kolonial. Sejumlah kajian populer dan akademik menyebut gelombang kedatangan orang Tionghoa ke muara Cisadane terjadi sejak abad ke-15; tradisi lokal menuturkan pendaratan rombongan pelaut Tiongkok di “Teluk Naga”.[4][5] Pada masa VOC dan Hindia Belanda, komunitas Cina Benteng berkembang di pesisir Tangerang—termasuk Teluknaga—dengan mata pencaharian utama perikanan, tambak, dan perdagangan hasil laut.[6]
Geografi
Teluknaga adalah wilayah dataran rendah pesisir dengan luas 53,30km² dan 13 desa/kelurahan.[7] Batas-batas wilayah:
Berdasarkan Sensus 2010, jumlah penduduk Teluknaga 138.330 jiwa.[1] Komposisi penduduknya multietnis (Betawi pesisir, Sunda-Banten, Jawa, dan Tionghoa Benteng), dengan konsentrasi permukiman padat di koridor Teluknaga–Kampung Melayu–Tanjung Pasir.
Budaya
Teluknaga termasuk salah satu kantong budaya Cina Benteng di pesisir Tangerang. Tradisi Peh Cun (festival perahu naga & bacang) yang masyhur di Sungai Cisadane juga diikuti warga Teluknaga; seni gambang kromong, tarian cokek, barongsai, serta busana kebaya encim masih dijumpai pada hajatan dan perayaan komunitas.[9] Sejumlah rumah tua peranakan, bengkel perahu, dan kelenteng/vihara lokal menjadi jejak akulturasi Tionghoa–Betawi pesisir.
Tempat ibadat/warisan budaya lokal
Vihara Tri Dharma Guna – koridor Jl. Raya Tanjung Pasir, Teluknaga (wilayah Kp. Besar/Tegal Angus).[10]
Kelenteng/Vihara Hok Tek Bio – Jl. Raya Tanjung Pasir No. 89, Teluknaga.[11]
Klenteng Kong Tek Bio – Desa Kampung Melayu Barat (berdiri 1973; klenteng komunitas Cina Benteng setempat).[12]
Ekonomi
Perekonomian Teluknaga bertumpu pada perikanan tangkap, tambak (udang–bandeng), perdagangan hasil laut, jasa, serta UMKM. Perkembangan kawasan PIK 2 di Teluknaga–Kosambi memunculkan simpul baru pariwisata, hunian, dan perdagangan yang terhubung ke Jakarta melalui akses jalan baru dan layanan bus antarkota.[13]
Kawasan wisata & kuliner PIK 2 (pantai buatan, galeri, dan ruang publik pesisir).[3]
Aneka pemancingan dan lanskap tambak tradisional.
Transportasi
Transjakarta T31 (PIK 2 – Blok M), melayani koridor PIK 2 (Shelter Shibuya) yang berbatasan langsung dengan Teluknaga, beroperasi harian 05.00–22.00 WIB.[14]
Angkutan umum lokal Teluknaga–Kalideres dan layanan ojek/taksi daring di koridor PIK 2–Teluknaga–Tanjung Pasir.
Tokoh terkenal
Berikut tokoh-tokoh yang terkait erat dengan komunitas Cina Benteng Tangerang (beberapa di antaranya bertalian genealogis dan historis dengan pesisir Teluknaga), serta satu tokoh pribumi setempat:
Tan Eng Goan – Mayor Cina pertama Batavia (1802–1872).[15]