Dalam penelitian terbaru, ilmuwan menemukan hubungan yang jelas antara manusia berumur 100 tahun dengan enzim hiperaktif yang bisa memperbaiki sel-sel. Peneliti mengatakan penemuan ini dapat digunakan untuk anti penuaan.
Manusia yang berumur 100 tahun atau lebih secara efektif memiliki mekanika tubuh yang terus menerus melakukan perbaikan fungsi tubuh agar bisa tetap bekerja. Dibandingkan dengan manusia normal yang sel-sel tubuhnya memiliki pusat kendali yang terkait dengan waktu.
Peneliti dari Albert Einstein College of Medicine di AS mempelajari sekelompok orang Yahudi Ashkenazi dan menemukan mereka yang hidup lama karena variasi mutan dari enzim telomerase.
Enzim ini bekerja untuk membangun kembali telomeres yang menutup setiap ujung sel kromosom yang bisa menghentikan terurainya enzim.
"Manusia yang panjang umur mampu mempertahankan panjang telomeres yang lebih baik," kata Youin Suh dari Yeshiva University seperti dilansir dari dailymail, Selasa (17/11/2009).
Semakin panjang telomeres, sel akan semakin terlindungi dan proses penuaan berjalan lebih lambat.
Dalam laporan di Proceedings of the National Academy of Sciences, peneliti mengatakan mereka mempelajari komunitas Yahudi Ashkenazi karena berkelompok sangat erat sehingga memudahkan untuk mengidentifikasi penyakit yang disebabkan perbedaan genetik.
Mereka terlihat sangat tua tetapi tetapi sangat sehat dengan rata-rata usia 97 tahun. Para manusia usia 100 tahun dan keturunannya memiliki gen mutan yang mempertahankan panjang telomeres di mana sel mereka membelah dari waktu ke waktu.
Ini berarti sebagian besar mereka terhindari dari penyakit yang berkaitan dengan usia seperti penyakit kardiovaskular (pembuluh darah) dan diabetes.
Catatan kaki
↑Greider, C.W. & Blackburn, E.H. (1985). "Identification of a specific telomere terminal transferase activity in Tetrahymena extracts". Cell. 43 (2 Pt 1): 405–413. doi:10.1016/0092-8674(85)90170-9. PMID3907856. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
↑Witzany, G. (2008). "The Viral Origins of Telomeres and Telomerases and their Important Role in Eukaryogenesis and Genome Maintenance". Biosemiotics. 1: 191–206. doi:10.1007/s12304-008-9018-0.
Sejarah
Subunit katalitik telomerase TERT dari Tribolium castaneum (Kumbang tepung merah), terikat pada cetakan RNA hipotetis dan DNA telomerik (PDB 3KYL )Diagram konseptual yang menunjukkan komponen protein telomerase (TERT) berwarna abu-abu dan komponen RNA (TR) berwarna kuning.
Telomerase, yang juga dikenal sebagai terminal transferase, [1] merupakan suatu kompleks ribonukleoprotein yang berperan menambahkan urutan DNA telomer yang khas pada setiap spesies ke ujung 3' telomer. Telomer sendiri adalah bagian kromosom yang tersusun atas sekuens DNA berulang dan terletak di kedua ujung kromosom yang berdekatan. Berbeda dengan kebanyakan eukariot lain, lalat buah Drosophila melanogaster tidak memiliki telomerase dan mempertahankan telomernya melalui mekanisme yang melibatkan retrotransposon.[2]
Secara fungsional, telomerase termasuk enzimtranskriptase balik yang membawa molekul RNA internalnya sendiri. RNA tersebut digunakan sebagai cetakan untuk mensintesis dan memperpanjang sekuens telomer. Contohnya, pada Trypanosoma brucei,[3] RNA telomerase memiliki urutan 3′-CCCAAUCCC-5′ yang berperan dalam proses pemanjangan telomer. Aktivitas telomerase umumnya ditemukan pada sel gamet dan sebagian besar sel kanker, tetapi sangat rendah atau tidak ada pada mayoritas sel somatik.