TehyanPrangko Indonesia edisi 2015 menampilkan Tehyan
Tehyan adalah alat musik gesek yang terbuat dari kayu jati dengan tabung resonansi yang terbuat dari batok kelapa, dan dilengkapi senar.[1][2][3] Alat musik tradisional etnis Tionghoa ini menghasilkan nada-nada tinggi, biasanya dimainkan dengan alat-alat musik lainnya dalam musik orkes gambang.[4][5]
Sukong, Tehyan, dan Kongahyang tergolong dalam satu kelompok alat musik karena semuanya merupakan komponen dari gambang keromong. Perbedaan utama di antara ketiganya terletak pada ukuran fisik serta fungsi nadanya dalam ansambel musik.[6] Tehyan memiliki ukuran sedang (menengah) dengan nada dasar A dan berperan sebagai pengisi ritme dalam ansambel.[7] Alat musik ini masuk ke Indonesia ketika zaman kolonial Belanda, pada abad ke-18. Pada saat itu, Tehyan sering digunakan pada pesta nikah, hari perayaan, hingga pemakaman.[8]
Sejarah
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Phoa, Kian Sioe, dalam "Orkest gambang, Hasil kesenian Tionghoa Peranakan di Djakarta",[9] gambang (gambang kromong) berawal dari kalangan masyarakat di Batavia pada masa Kapitein der Chineezen Nie Hoe Kong (tahun 1736–1740), pada masa itu adalah waktu menjelang terjadinya Tragedi Pembantaian Angke (Kali Merah) tahun 1740. Dari Batavia kesenian ini sedemikian populer hingga menyebar ke etnis Tionghoa-Indo di area Benteng, Buitenzorg dan Bekassie. Ini sedemikian populernya hingga etnis Betawi juga menggemarinya.[5]