Tari Topeng Sidakarya merupakan kesenian tari sakral yang berasal dari Bali, Indonesia. Tarian ini dilakukan oleh satu orang dalam sebuah upacara Yadnya di Bali. Tarian ini ditarikan dengan penari yang memakai topeng putih yang menjadi keunikan pada tarian ini. Tari Topeng Sidakarya hanya dapat dilakukan oleh orang-orang terpilih. Pembuatan topengnya juga dilakukan oleh orang-orang terpilih karena harus melalui berbagai macam ritual serta proses yang unik. Proses ini mulai dari pemilihan bahan kayu untuk topeng, kemudian dilanjutkan dengan doa sebelum pembuat memulai proses pengukiran topeng, dan ritual-ritual lainnya hingga proses pembuatan topeng selesai.[1]
Tari Topeng Sidakarya dikategorikan sebagai bebali atau wali yang pementasannya dilakukan di area utama pura (jeroan) atau tempat suci sebagai pelengkap ritual. Secara etimologis, nama "Sidakarya" berasal dari dua kata, yakni Sida yang berarti terlaksana atau tercapai, dan Karya yang berarti upacara atau pekerjaan. Oleh karena itu, Topeng Sidakarya dimaknai sebagai simbolisasi dari pekerjaan atau upacara Yadnya yang telah selesai dengan sempurna.
Sejarah dan Asal Usul
Keberadaan Tari Topeng Sidakarya tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Gelgel pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong sekitar abad ke-16 Masehi (tahun 1518 M). Kisah ini bermula dari kedatangan seorang pendeta sakti bernama Brahmana Keling dari Jawa Timur, yang merupakan putra dari Dang Hyang Kayumanis dan memiliki garis keturunan dengan Mpu Baradah. Brahmana Keling datang ke Bali untuk mengunjungi saudaranya, Raja Dalem Waturenggong, yang saat itu sedang mempersiapkan upacara besar Eka Dasa Rudra di Pura Besakih.[2]
Setibanya di Gelgel, Brahmana Keling yang menempuh perjalanan jauh tampil dengan pakaian lusuh dan compang-camping, sehingga tidak dikenali sebagai seorang pendeta agung. Penampilannya yang dianggap tidak layak menyebabkan ia diusir secara paksa oleh petugas kerajaan dan rakyat, serta tidak diakui oleh Raja Dalem Waturenggong. Akibat perlakuan tersebut, Brahmana Keling mengucapkan kutukan (pastu) bahwa upacara yang digelar tidak akan berhasil (tan sidakarya), serta wilayah tersebut akan dilanda kekeringan, wabah penyakit, dan serangan hama.
Kutukan tersebut terbukti ketika wabah penyakit dan gagal panen melanda kerajaan, serta upacara tidak berjalan lancar. Raja Dalem Waturenggong kemudian mendapat petunjuk gaib bahwa ia telah melakukan kesalahan besar dengan mengusir saudaranya sendiri. Raja mengutus patihnya untuk mencari Brahmana Keling, yang akhirnya ditemukan di daerah Badanda Negara (kini dikenal sebagai Desa Sidakarya). Setelah Raja memohon maaf, Brahmana Keling bersedia memulihkan keadaan, dan Raja mengeluarkan titah (bhisama) bahwa setiap pelaksanaan upacara Yadnya bagi umat Hindu di Bali wajib menyertakan persembahan kepada tokoh Sidakarya (Tirta Penyida Karya) demi kesempurnaan ritual.[3]
Karakteristik Visual dan Busana
Busana Tari Topeng Sidakarya
Topeng
Topeng Sidakarya yang berwarna putih melambangkan kesucian dan aspek kedewataan. Bentuk mata pada topeng dibuat sipit sebagai simbol tapa (pengendalian diri), pemusatan pikiran (yoga), dan mawas diri. Ciri paling menonjol pada topeng yaitu bentuk gigi yang menonjol ke depan atau tonggos, yang dimaknai sebagai bentuk kesederhanaan serta kekuatan penyeimbang. Rambut pada topeng digambarkan panjang hingga bahu yang melambangkan ketidakterikatan duniawi. Wajah topeng ini merepresentasikan perpaduan antara aspek manusiawi dan keraksasaan yang menyimbolkan konsep keseimbangan alam semseta (Rwa Bhineda).[4]
Busana
Penari akan mengenakan busana berlapis yang mencerminkan kewibawaan seorang pendeta atau Brahmana. Busana terdiri dari baju beludru lengan panjang dengan warna cenderung hitam dan gelap yang menyimbolkan wibawa dan kebijaksanaan. Penari juga mengenakan kamen (bawahan) putih lelancingan yang menyimbolkan kesucian dan sifat maskulin. Selain baju, penari juga mengenakan atribut seperti bapang (hiasan leher) berwarna merah berukuran besar yang melambangkan kegagahan, angkep pala (penutup bahu), dan awiran. Di bagian punggung juga diselipkan keris yang bermakna sebagai simbol kekuatan, pertahanan, dan ketajaman intelektual (budhi). Selain itu, penari juga memakai krudung mrajah atau sebuah kain penutup kepala bertuliskan aksara suci yang menyimbolkan perlindungan dari pengaruh negatif dan siklus hidup (Tri Kona).[5]