Tari Sirih Kuning adalah tariantradisional khas Betawi yang berkembang dari tari Cokek. Tarian ini merupakan perpaduan budaya Betawi dan Tionghoa, serta biasanya dipentaskan dalam acara pergaulan, penyambutan tamu, maupun upacara sakral seperti perkawinan.[1]
Sejarah
Tari Sirih Kuning berakar dari Tari Cokek, sebuah tari pergaulan yang populer di kalangan masyarakat Tionghoa Betawi pada abad ke-19. Tari Cokek dilakukan berpasangan dengan menggunakan selendang atau cukin sebagai properti utama. Seiring waktu, Tari Cokek dikemas ulang dengan iringan musikSirih Kuning dan gerakan yang lebih sopan, sehingga dikenal sebagai Tari Sirih Kuning.[1] Tari Sirih Kuning memiliki makna penghormatan dan simbol rasa syukur. Gerakan tari yang semula bersifat hiburan diberi makna filosofis, seperti pose sembahyang yang diartikan sebagai ajakan menjaga hati agar tidak berprasangka buruk.[1]
Kostum
Penari Tari Sirih Kuning mengenakan busana tradisional yang dipengaruhi budaya Tionghoa, seperti kebaya untuk perempuan dan baju longgar berlengan panjang untuk laki-laki. Pada awalnya tarian asal Betawi ini dibawakan secara berpasangan, yakni pria dan perempuan. Namun seiring berjalannya waktu, tari ini tidak wajib ditampilkan berpasangan. Umum diadakan berkelompok penari wanita. [2]Aksesoris yang digunakan dalam tarian ini meliputi tusuk konde, cadar hiasan kepala, serta bunga sebagai simbol kebahagiaan. Pada bagian bawah, penari mengenakan kainbatik bermotif tanduk sebagai ciri khas Betawi.[1]
Gerakan
Gerakan dasar Tari Sirih Kuning melibatkan koordinasi kepala, tangan, kaki, dan badan dengan pola yang khas. Beberapa gerakan pokok yang menjadi ciri tarian ini antara lain "langkah ngiwir", yaitu kepala menghadap ke depan dengan pandangan bergantian pada kedua tangan yang diangkat sejajar bahu, sementara kaki membentuk huruf āVā dengan posisi agak jinjit. Ada pula "koma puter", di mana tangan kanan lurus sejajar bahu dan tangan kiri ditekuk di depan dada, serta kaki kanan disilangkan ke arah kiri. Gerakan "soka" dilakukan dengan kepala menunduk, kedua tangan mengepal di dada, dan kaki dalam posisi seperti duduk simpuh. Variasi lain adalah "goyang ngetek", yang menampilkan gerakan tangan bersilang di perut lalu diarahkan ke atas dan bawah, serta "koma gogang", dengan pinggul bergoyang dan tangan membentuk pose khas. Gerakan lain yang menjadi bagian dari tarian ini meliputi "nindak kagok", "lompat jingkrik", "selancar jalan", dan "nunjuk jidad", masing-masing dengan kombinasi gerak kepala, tangan, dan kaki yang berbeda. Keseluruhan gerakan tersebut menampilkan keluwesan, serta keindahan khas Tari Sirih Kuning sebagai warisan budaya Betawi.[2]