Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. Bantu kami untuk mengembangkannya dengan memberikan pranala ke artikel lain secukupnya.(Juni 2025)
Tari Ngebeng atau yang disebut Nyoget (Joget) merupakan tari tradisional yang berasal dari Desa Rambutan Masam, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Pertunjukan Tari Ngebeng menggambarkan cerita percintaan muda-mudi atau seorang pria yang sedang mendekati perempuan.[1]
Bentuk Pertunjukan
Tari Ngebeng ditampilkan pada waktu berkegiatan di sawah seperti baselang nugal di talang (kebun), baselang nandur (menanam padi) dan baselang nuwe (panen padi) di humo (sawah) Pertunjukan yang dilakukan disawah ditampilkan pada saat istirahat siang di pematang umo tersebut, sedangkan di talang ditampilkan saat malam masak-memasak (bakintang) untuk keperluan baselang nugal esok harinya.[2]
Tarian Simbolik
Pertunjukan Tari Ngebeng mencerminkan kisah percintaan dua insan muda. Diumpamakan seperti pria yang sedang mendekati wanita. Masyarakat setempat mengibaratkan ayam jantan mengepek ayam betina atau lawan jenisnya.[2]
Pakaian
Busana yang digunakan saat pertunjukan Tari Ngebeng yakni baju biasa yang pada umumnya digunakan ke sawah. Saat ditampilkan di atas panggung pertunjukan ini menggunakan kostum tari. Kostum yang digunakan oleh penari laki-laki adlah baju teluk belango belah bulu dan penari peremuan babancian memakai kostum baju kurung atau kebaya dan suluk kumo.[3]
Iringan Musik
Tari Ngebeng diiringi dengan musik tradisi Bapiul dengan alat musik Piul (biola), Gambus, Gendang, Tambarin, Kulintang Kayu dan Taktawak (gong kecil) menyanyikan lagu beriramakan Joget seperti Lagu Batang Hari, Hitam Manis, Bercerai Kasih dan Serampang Laut dengan berbalas pantun yang dilantunkan oleh pemuda dan pemudi.[4]
Dianggap Tabu
Dahulu Tari Ngebeng dilarang atau tabu apabila dipentaskan di desa atau dusun. Hal ini dikarenakan masyarakat setempat memegang teguh ajaran yang ditentukan oleh agama dan adat istiadat. Masyarakat memiliki pandangan bahwa perempuan dilarang berkesenian karena akan dilihat bukan muhrimnya. Maka dari itu peranan wanita digantikan dengan laki-laki yang didandani seperti perempuan atau dalam bahasa lokal disebut Babancian.[1]
Pelestarian
Pelestarian Tari Ngebeng dilakukan oleh Sanggar Bakolantang. Sejak 2017 Tari Ngebeng tampil dalam bentuk pertunjukan di atas panggung. Sanggar Bakolantang tetap menjaga keaslian Tari Ngebeng dengan menggunakan penari laki-laki. Tari Ngebeng dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 7 Desember 2021 dengan nomor registrasi 202001392 dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi RI.[1]
↑"KI Komunal". kikomunal-indonesia.dgip.go.id. Diakses tanggal 2025-06-20.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.