Tari Dewa Memanah adalah tarian sakral dari suku Kutai yang merupakan bagian dari upacara ritual Bepelas di Keraton Kutai Kartanegara. Tarian ini melambangkan sesosok dewa yang melepaskan panah ke empat penjuru mata angin untuk mengusir roh jahat, menjaga keselamatan, dan membersihkan dunia dari energi negatif.[1]
Pelaksanaan Tari Dewa Memanah
Tarian ini dilakukan oleh kepala Ponggawa dengan mempergunakan sebuah busur dan anak panah yang berujung lima. Ponggawa mengelilingi tempat upacara diadakan sambil mengayunkan panah dan busurnya keatas dan kebawah, disertai pula dengan bememang (membaca mantra) yang isinya meminta pada dewa agar dewa-dewa mengusir roh-roh jahat, dan meminta ketentraman, kesuburan, kesejahteraan untuk rakyat.[2]
Tari Dewa Memanah dibawakan oleh penari perempuan yang disebut Dewa Belian. Dalam prosesi, penari menggunakan busur dan anak panah berujung tujuh cabang api yang melambangkan kekuatan dan perlindungan. Panah dilepaskan ke arah hulu sungai, muara sungai, matahari terbit, dan matahari terbenam. Setiap gerakan mengandung makna kepahlawanan, ketekunan, serta perlindungan bagi masyarakat.[3][4]
Makna Tari Dewa Memanah
Tarian ini menjadi bagian penting dari perayaan adat Erau, sebuah tradisi sakral yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Tidak hanya menjadi hiburan, tarian ini sarat makna filosofis yang mencerminkan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tarian Dewa Memanah biasanya ditampilkan sebagai bagian dari prosesi adat Erau. Tujuannya untuk membersihkan desa dari energi negatif dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat.[1]
Para penari yang mengenakan busana adat lengkap dengan ornamen khas Kutai, menampilkan gerakan anggun namun penuh kekuatan. Mereka membawa busur dan anak panah, simbol perlindungan dan keberanian yang menjadi inti dari tarian ini. Dengan iringan musik tradisional seperti gong dan gamelan, suasana tarian terasa magis. Setiap gerakan seolah bercerita tentang peran dewa sebagai pelindung, yang menjaga keseimbangan alam dan masyarakat. Properti seperti panah dan busur tidak hanya menjadi alat pelengkap, tetapi juga elemen simbolis yang menghubungkan manusia dengan kekuatan ilahi.[1]
Sejarah Tari Dewa Memanah
Tarian ini merupakan warisan sakral Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Gerakannya menggambarkan sosok Dewa yang melepaskan panah ke empat penjuru mata angin sebagai simbol untuk mengusir gangguan dari dimensi lain, memohon keselamatan, serta restu agar jalannya ritual berlangsung lancar.[3]
Upaya Pelestarian
Tarian ini menjadi salah satu warisan budaya yang terus dilestarikan oleh masyarakat Kukar. Dalam upaya menjaga eksistensinya, pemerintah daerah bersama lembaga kebudayaan aktif mempromosikan tarian ini melalui festival budaya, seperti Festival Erau yang telah mendunia. Selain itu, tarian ini juga diajarkan kepada generasi muda sebagai bagian dari pendidikan budaya di daerah tersebut. Tarian Dewa Memanah bukan sekadar seni gerak, melainkan pesan mendalam tentang harmoni dan keberanian yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah perkembangan zaman, tarian ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur dan merawat hubungan manusia dengan alam.[1][5]