Indonesia (resmi) Jawa – Arekan Jawa – Mataraman Jawa – Tengger Jawa – Osing Jawa Madura – Banyuwangi Madura – Bondowoso Madura – Jember Madura – Lumajang Madura – Pasuruan Madura – Probolinggo Madura – Situbondo Madura Bali Arab Indonesia
Asal muasal penamaan Tapal Kuda dikarenakan bentuk kawasan ini dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Dalam bahasa Inggris, kawasan ini disebut sebagai The Eastern Salient dan dalam bahasa Belanda sebagai De Oosthoek yang keduanya berarti 'pojok timur'.
Asal-usul
Kawasan ini adalah wilayah berpenghuni (bukan tanah kosong) sejak zaman batu. Banyak peninggalan manusia purba ditemukan di seluruh wilayah ini.[butuh rujukan]
Peradaban lebih maju tumbuh dan berkembang mula-mula di wilayah selatan Lumajang (era Singasari) dan tengah Lumajang (Situs Biting; era Majapahit), Sadeng di Puger, Keta di Besuki, Panarukan, Pakembangan di Bondowoso, dan terakhir Blambangan.
Daerah ini selalu menjadi titik temu berbagai budaya seperti budaya Jawa, budaya Madura, dan budaya Bali. Perpaduan di antaranya menjadi suatu hal yang unik, yang membentuk sebuah pembauran budaya yang disebut sebagai budaya Pendalungan.
Awal mula terbentuknya komunitas Pendalungan pada tahun 1806, dari generasi ke genarasi Dinasti Cakraningrat dari Madura selalu gagal menyerang Jawa. karena di tiap agresi selalu berhadapan dengan pasukan Jawa dari Ponorogo, Sehingga membuat keputusan Pangeran Cakraningrat untuk memindahkan sebanyak 250.000 orang Madura ke Jawa bagian timur yang kini disebut Tapal Kuda untuk menguasai sebagian pulau Jawa terutama bagian ujung timur. Namun ternyata di wilayah tersebut banyak juga ditemui orang-orang trah Jawa Ponorogo (Mataraman), Jawa Arekan, Tengger, Osing, dan Bali yang sudah tinggal di kawasan Tapal kuda, sehingga Jawa bagian timur ini tidak sepenuhnya dikuasai oleh orang Madura.[1]
Empat penari wanita mengenakan busana tari tradisional suku Madura, sekitar tahun 1890.Suku Tengger, salah satu suku yang mendiami kawasan Tapal Kuda, tepatnya di wilayah pegunungan Bromo-Tengger-Semeru.
Di Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, terdapat kelompok etnik dengan dialek mereka yang khas, yaitu suku Tengger yang menggunakan bahasa Tengger (dialek bahasa Jawa). Selain itu, di sebagian wilayah Banyuwangi, tepatnya di bagian tengah, utara, dan timur juga terdapat kelompok etnik yang merupakan penduduk asli Blambangan, yaitu suku Osing yang merupakan penutur bahasa Osing (dialek bahasa Jawa dengan pengaruh bahasa Bali), dan di beberapa wilayah paling timur Banyuwangi, juga dijumpai minoritas suku Bali yang bertutur menggunakan bahasa Bali.
Pemerintahan
Kawasan Tapal Kuda adalah bagian dari wilayah Provinsi Jawa Timur.[2] Berikut ini adalah daftar kabupaten dan kota yang ada di Kawasan Tapal Kuda:[butuh rujukan]
Mayoritas suku Jawa (meliputi sub-suku Osing, Jawa Mataraman, dan sebagian kecil Jawa Arekan), kemudian terdapat suku Madura yang merupakan mayoritas di wilayah utara dekat perbatasan dengan Situbondo dan Bondowoso, serta di wilayah barat dekat Perbatasan dengan Jember, dan minoritas suku Bali, terutama di Desa Patoman, kecamatan Blimbingsari
Mayoritas suku Jawa Arekan, terdapat juga minoritas suku Jawa Mataraman di bagian selatan, suku Tengger di wilayah utara (Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru), dan suku Madura di bagian utara dan timur
Mayoritas suku Jawa Arekan, suku Madura terdapat di pesisir bagian timur dan utara (pluralitas; sebagian besar berasimilasi dengan suku Jawa), kemudian terdapat juga suku Tengger, terutama di kecamatan Tosari
Suku Madura dan suku Jawa hampir sama jumlahnya (pluralitas)
Perekonomian
Kota-kota besar di kawasan Tapal Kuda adalah Kota Pasuruan, Probolinggo, Jember, dan Banyuwangi. Kawasan pesisir utara Tapal Kuda juga merupakan salah satu lokasi paling strategis secara ekonomi di Indonesia karena dilewati jalur penghubung utama antara Pulau Jawa, Pulau Madura, dan Pulau Bali. Secara geografis, wilayah Panarukan yang merupakan ujung timur dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels, terletak di kawasan ini. Di kawasan ini juga terdapat PLTU Paiton di Kabupaten Probolinggo yang merupakan salah satu PLTU terbesar di Indonesia yang mengalirkan listrik untuk Pulau Jawa dan Bali. Sebagai salah satu pembangkit listrik terbesar di Indonesia, aspek sosial masyarakat sekitar PLTU Paiton juga dapat menjadi hal yang menarik bagi para peneliti.
Pariwisata
Tapal Kuda memiliki berbagai destinasi wisata yang sangat menarik dan selalu ramai dikunjungi, di antaranya: