Biografi
Lahir di Cirebon, Tan adalah putra sulung dari Ong Hwie Nio dan Tan Tjin Kie, Mayor-tituler Cina, pemimpin komunitas Cina di Cirebon (1852–1919).[1][3] Melalui ayahnya, Tan adalah cucu dan cicit dari Kapitan Cina Cirebon sebelum ayahnya.[2] Anggota keluarga Tan banyak yang menjadi pejabat Cina, yang terdiri dari jabatan Mayor, Kapitan, dan Letnan Cina, yang saat itu merupakan bagian dari birokrasi sipil di Hindia Belanda.[1][2]
Tan memiliki seorang saudara, Tan Gin Han, dan seorang saudari, Tan Ho Lie Nio.[2] Seperti sebagian besar Tionghoa Peranakan lain, Tan adalah penutur bahasa Melayu, tetapi karyanya menunjukkan bahwa pendidikan yang ia tempuh membuatnya familiar dengan Klasik Tionghoa dan mampu – setidaknya menulis – dalam bahasa Belanda. Ia juga sangat tertarik dengan Konfusianisme, Daoisme, Buddhisme, dan teosofi.[1][2][4]
Pada tahun 1897, di usia 17 tahun, Tan Gin Ho diangkat menjadi Letnan Cina.[2] Mulai tahun 1907 hingga 1909, Letnan Tan Gin Ho mengambil cuti dan digantikan sementara oleh saudara iparnya, Letnan Kwee Tjong In.[2] Tan kemudian mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 1913.[2]
Pada tahun 1914, saudara Tan, Tan Gin Han, membeli satu unit Fiat Landaulet Torpedo, sebuah mobil mewah sepanjang enam meter, dari importir mobil Verweij en Lugard's Automobiel Maatschappij.[4] Pembelian tersebut kemudian memicu ketertarikan dari keluarga besar Tan untuk ikut membeli mobil, termasuk sepupu mereka, keluarga Kwee dari Ciledug.[4]
Sesaat setelah ayahnya meninggal pada tahun 1919, Letnan Tan Gin Ho menulis buku Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Tjin Kie (Batavia, 1919) yang ternyata sangat diminati.[4][5] Buku tersebut merinci hari-hari menjelang ayahnya meninggal, pengaturan dan upacara pemakaman, serta pesan duka dan petinggi yang melayat.[4][5] Buku tersebut juga dilengkapi dengan foto-foto koleksi keluarga, yang menunjukkan kehidupan mewah dari keluarga Tan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.[4][5] Sebuah artikel koran pada tahun 1919 memperkirakan bahwa biaya pemakaman dan pembangunan mausoleum ayah Tan mencapai 580.000 gulden – sekitar jutaan dolar Amerika Serikat pada tahun 2019.[4]
Buku Tan pun menjadi semacam eulogi atas status keluarganya sebagai keluarga Cabang Atas tertua dan terkemuka di Karesidenan Cirebon.[4] Perang Dunia I (1914–1918) dan krisis gula kemudian menghancurkan kondisi keuangan keluarga Tan.[4] Lebih lanjut, pemerintah Hindia Belanda juga mengenakan pajak laba perang sebesar satu juta gulden kepada keluarga Tan.[4] Pada tahun 1922, Letnan Tan Gin Ho dan saudaranya, Tan Gin Han, mengajukan kebangkrutan, dan terpaksa menjual Pabrik Gula Loewoenggadjah – salah satu pabrik gula terbesar di Jawa yang dimiliki oleh etnis Tionghoa. Pabrik gula tersebut didirikan pada tahun 1828 oleh kakek buyutnya, Kapitan Tan Kim Lim.[2][4] Pada tahun 1931, keduanya resmi dinyatakan bangkrut.[2][4]
Buku pertama Letnan Tan Gin Ho adalah adaptasi ulang dari sebuah hagiografi Eropa mengenai Napoleon, Kaisar Prancis.[1] Selama dekade 1930-an dan awal dekade 1940-an, Tan pun menulis, menerjemahkan, dan mengadaptasi ulang sejumlah buku bertema sastra, sejarah, agama, dan astrologi.[1] Tan akhirnya meninggal di Cirebon pada tahun 1941.[1]