Berkuasa (1857–1859)
Pemerintah Hindia Belanda sebelumnya sudah mengangkat Pangeran Tamjid sebagai mangkubumi semasa ayahnya (Sultan Muda Abdurrahman) masih hidup, kemudian setelah ayahnya mangkat, ia dilantik menjadi Sultan Muda sejak 10 Juni 1852 merangkap jabatan mangkubumi yang telah dijabatnya sebelumnya. Sebagai mangkubumi (rijksbestuurder) dan Putera Mahkota, Pangeran Ratu Sultan Muda Tamjidillah memperoleh gaji f 12.000 dan hasil peramasan (tambang emas) senilai 40 tahil @75 - 3.000 setahun.[17]
[18]
[19]
Pada tahun 1274 Hijriyah bertepatan tanggal 3 November 1857 Tamjidillah II (umur 38 tahun) telah dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda menjadi Sultan Banjar, Anak dari Nyai Besar Aminah seorang Putri Dayak Tionghoa [20][21][22]
Sehari setelah pelantikannya oleh Belanda sebagai Sultan Banjar, Sultan Tamjidullah al-Watsiq Billah menandatangani surat pengasingan kandidat sultan lainnya pamannya sendiri Pangeran Prabu Anom bin Sultan Adam yang diasingkan ke Bandung pada tanggal 23 Februari 1858.[23]
Ketika Sultan Adam meninggal pada tanggal 1 November 1857 karena sakit, tanpa sepengetahuan Dewan Mahkota, yaitu sesudah dua hari pemakaman almarhum Sultan Adam al-Watsiq Billah, pemerintah Hindia Belanda menobatkan Tamjidullah al-Watsiq Billah sebagai Sultan Banjar Sultan Tamjidullah al-Watsiq Billah.
Pangeran Prabu Anom (putera Sultan Adam dengan Nyai Ratu Kamala Sari) ditangkap oleh Belanda, karena menurut pertimbangan Belanda, kalau Pangeran Prabu Anom berada di Banjarmasin akan membahayakan, dan dia dibuang ke pulau Jawa.[24]
Jauh sebelumnya Sultan Adam pernah mengutus surat ke Batavia agar pengangkatan Tamjidillah II sebagai Sultan Muda (Putra Mahkota) dibatalkan.Pada tanggal 25 Juni 1859, Hindia Belanda memakzulkan Tamjidillah II sebagai Sultan Banjar kemudian mengirimnya ke Buitenzorg (kini Bogor).
Pada tanggal 24 Juni 1859 pertemuan lain diatur di ibu kota, di mana Sultan Tamjidullah al-Watsiq Billah secara sukarela melepaskan martabatnya, dengan permintaan untuk pergi ke Batavia. Permintaan ini segera dikabulkan. Tanggal 22 Juli ia tiba di Batavia dengan kapal uap Ardjoeno, dengan pengiring 23 wanita, 6 kerabat dan 17 pembantu.
Setelah turun tahta Sultan Tamjidullah al-Watsiq Billah, komisaris Hindia Belanda memercayakan administrasi kerajaan kepada Pangeran Soeria Mataram bin Sultan Adam al-Watsikh Billah Adam dari Banjar, Pangeran Soeria Mataram lahir 1801 tepat berusia 58 tahun Pada tanggal 25 Juni 1859,yang pendapatannya diambil dari provinsi Tabalong Pitap, Benoa-bamban, Batang Kulur, Benoa Rambau dan Padang, di pedalaman. Pangeran Soeria Mataram menikah dengan Ratoe Asia binti Pangeran Husin Pangeran Mangkubumi Nata Kasuma bin Sultan Sulaiman dari Banjar. Selanjutnya pemerintahan dipercayakan kepada Pangeran Mohamat Tambak Anjar bin Pangeran Noch Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana, Pangeran Mohamat Tambak Anjar berusia 39 tahun sewaktu diumumkan pada 28 Juni 1859.[17][25][25][26][26][27][27][28][28][29][29][30][30][31][31][32][32][32][32][33][33][34][35][36]