Rаtое Anoem Mangkoe Boemie Kantjana (ejaan Banjar: Ratu Anum Mangkubumi Kancana)[5][6][7]
atau Ratoe Anom Mangkoe Boemie Kentjana (ejaan Melayu: Ratu Anom Mangkubumi Kencana)[8][9][10][11]
atau Pangeran Perabu Anum Mangkubumi Kencana[4] adalah Perdana Menteri atau wazir mu'adlam atau mangkubumi (Rijksbestierder, kepala administrasi pemerintahan) negara dependensi Kesultanan Banjar.
Ia menjabat Pangeran Mangkubumi atau kepala administrasi pemerintahan untuk ayahandanya Sultan Adam yang menjadi kepala negara Kesultanan Banjar. Menurut tradisi kesultanan Banjar yang berlaku pada saat itu, di antara putera-putera dari seorang Sultan yang sedang berkuasa, maka putera sulung dari permaisuri akan dilantik sebagai Pangeran ratu alias Sultan Muda dan putera kedua dari permaisuri akan dilantik sebagai Pangeran Mangkubumi (kepala pemerintahan) untuk menggantikan mangkubumi sebelumnya yang meninggal dunia.
Semenjak dibuatnya perjanjian 4 Mei 1826, pihak Belanda dapat mencampuri pengaturan permasalahan mengenai pengangkatan Sultan Muda dan Pangeran Mangkubumi, yang mengakibatkan rusaknya adat kerajaan dalam bidang ini. Semenjak dibuatnya perjanjian 4 Mei 1826, Belanda dapat mencampuri pengaturan permasalahan mengenai pengangkatan Pangeran Ratu (Putra Mahkota) dan Pangeran Mangkubumi, yang mengakibatkan rusaknya adat kerajaan dalam bidang ini.
Nama lahirnya adalah Pangeran Noch. Ia merupakan putera ketiga Sultan Adam. Pada tahun 1833, Pangeran Noh diduga terlibat atas kematian yang tidak wajar terhadap abang kandungnya yang bernama Pangeran Ismael dalam suatu perkelahian karena memperebutkan bakal calon mangkubumi yang kelak menggantikan paman mereka Pangeran Mangkoe Boemi Nata (nama lahirnya Pangeran Husin).[11] Ratu Anom Mangkubumi Kencana wafat tahun 1851.[14] Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana merupakan kakek buyut (bahasa Banjar: datu') dari Pangeran Muhammad Noor (Gubernur Kalimantan pertama).
Gaji dan Penghasilan Ratu Anom Mangkubumi Kencana sebagai Mangkubumi kerajaan Banjar didapatkan dari hasil pungutan dari Riam Kiwa, Sungai Pinang, Maniapun Besar, Maniapun Kecil, tanah Mongah, tanah Mursalib, tanah Awalang, tanah Jaya Wana, tanah Rangkas, tanah Gebu Laksana, Telu Banua, Baruh Bidjan, Balumbu, Pandju, Barungan, Sungai Djambak Badatar, Batang Taugan, Danau Bangkau, Apang, Diwata Besar, Diwata Kecil, Sungai Lapas, Sungkalan, Talatah Munuk, Banyu Hirang, Lampur, Gelagah, Bedatah, Batara Gangga, Bitin, Danau Panggang, Lambujur, Sungai Luang, Tampang Awang, Kalumpang, Hakurung- Bajayau Basar.[16]
Daerah-daerah tempat tambang batubara baik Tambang Batu Bara Oranje Nassau maupun Tambang Batu Bara Julia Hermina merupakan Tanah Badatu (tanah pelungguh) yang diberikan oleh sultan Adam kepada mangkubumi bernama Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana. Namun karena diambil alih Belanda, maka sebagai gantinya mangkubumi mendapatkan empat puluh Gulden (f.140,-) untuk setiap ton batubara yang dihasilkan.[17][18][19]
Ia berpulang 6 tahun mendahului ayahandanya Sultan Adam (wafat 1 November 1857). Untuk menggantikan jabatan yang ditinggalkannya maka Sultan Adam menunjuk anak laki-lakinya ke-4 yaitu adik kandung almarhum yaitu Pangeran Praboe Anom, akan tetapi ditolak oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.
↑(Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap. Vol.9. Lange. hlm.124.
↑(Indonesia) Mohamad Idwar Saleh; Tutur Candi, sebuah karya sastra sejarah Banjarmasin, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1986
↑Kiai Bondan, Amir Hasan (1953). Suluh Sedjarah Kalimantan. Bandjarmasin: Fadjar.Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)