Taman Pramuka adalah sebuah taman kota dan ruang terbuka hijau yang terletak di Jalan L.L.R.E. Martadinata No. 157, Kota Bandung, Jawa Barat [1][2]. Taman yang memiliki luas wilayah sebesar 12.845 meter persegi ini berfungsi sebagai ruang publik sekaligus pusat aktivitas Pramuka bagi Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Bandung [1][2]. Bagi Kota Bandung yang memiliki lebih dari 850 taman kota dengan total luas sekitar 2,4 juta meter persegi, keberadaan taman kota seperti Taman Pramuka berfungsi penting sebagai paru-paru kota sekaligus ruang interaksi sosial publik [2]. Sebelum dikenal dengan namanya yang sekarang, taman ini memiliki sejarah panjang yang membentang sejak masa kolonial Hindia Belanda [1].
Sejarah
Taman ini awalnya dibangun pada sekitar tahun 1920-an oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan nama Oranje Nassauplein (atau Orange Nassau Plain) [1][2]. Pembangunannya difasilitasi oleh gemeenteraad (dewan kota) saat itu, seiring dengan peralihan fungsi Bandung menjadi Ibu Kota Karesidenan Priangan setelah dipindahkan dari Cianjur [1]. Desain awal taman ini berbentuk setengah melingkar dengan tata tanam pepohonan yang tidak terlalu rapat [1]. Konon, taman ini kerap menjadi tempat berkumpul bagi warga Belanda yang bekerja di Gedung Sate [2].
Pembangunan Oranje Nassauplein ditujukan untuk memenuhi kebutuhan estetika kota sekaligus menjaga kelestarian alam Bandung [1]. Di tengah taman, didirikan sebuah bangunan menyerupai gazebo yang awalnya berdiri di tengah-tengah kolam [2]. Fasilitas ini sering digunakan oleh warga Belanda dan pegawai pemerintahan Hindia Belanda sebagai tempat bersantai dan beristirahat selama waktu luang [1][2]. Kawasan di sekitar taman kala itu dikenal sebagai Kapiten Hill, yang merupakan kompleks perumahan mewah dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman bunga [1][2].
Dari area gazebo, pengunjung dapat melihat pemandangan perempatan Noorder Kampemenstraat (sekarang menjadi Jalan Aceh dan Jalan Riau) [1]. Pada akhir tahun 1930-an, area jalan masuk menuju bangunan gazebo mulai ditanami dengan deretan pohon palem [1].
Peralihan fungsi dan masa pascakemerdekaan
Fungsi gazebo di Oranje Nassauplein mulai mengalami perubahan corak pada tahun 1940-an [1]. Ketika tiga sisi bangunan gazebo ditutupi oleh jendela, area kolam di sekelilingnya mulai ditimbun dengan tanah [2]. Tempat ini sempat berfungsi sebagai kedai minuman hingga sekitar tahun 1940-an [2]. Seiring dengan beralihnya kekuasaan atas Kota Bandung dari Pemerintah Hindia Belanda ke Pemerintah Pendudukan Jepang, bangunan gazebo tersebut dialihfungsikan menjadi sebuah toko kelontong kebutuhan sehari-hari yang dikelola oleh warga keturunan Tionghoa [1][2]. Pada tahun 1959, kawasan ini sempat memasuki periode tidak digunakan lagi secara aktif [2].
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, nama taman ini sempat diubah menjadi Lapangan Dipatiukur (atau Taman Dipati Ukur) pada sekitar tahun 1950-an, meskipun fungsi utamanya sebagai tempat rekreasi warga tetap dipertahankan [1][2].
Pusat kegiatan kepramukaan
Setelah lama tidak digunakan secara intensif, pada awal tahun 1970-an, bangunan di kawasan ini mulai dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan kepramukaan oleh Kwartir Cabang Kota Bandung [2]. Pada dekade yang sama, penataan kawasan mulai dilakukan kembali dengan mendirikan sebuah gedung perkantoran di bagian belakang gazebo [1][2].
Seiring meningkatnya intensitas kegiatan kepramukaan dan kepemudaan di Kota Bandung, gedung perkantoran di belakang gazebo diperbesar pada tahun 1980-an [1][2]. Perubahan intensitas kegiatan ini mendorong perubahan nama resmi kawasan secara populer menjadi Taman Pramuka [2]. Kantor Sekretariat Gerakan Pramuka Kwarcab Kota Bandung sendiri kemudian diresmikan secara formal oleh Pemerintah Kota Bandung pada tahun 2000 [1].