Talkhan adalah kudapan lokal berasa manis khas etnis Tajik di Afghanistan. Makanan ringan ini terbuat dari kacang kenari, kacang badam, dan murbei merah atau putih yang ditumbuk.[1]Talkhan disebut-sebut menyerupai cokelat,[2] hanya saja lebih ringan dan lebih kasar.[3] Ada pula yang mennyebutnya sebagai 'semacam permen'.[1]
Asal-usul dan produksi
Camilan seperti talkhan lahir dari kondisi geografis Afghanistan yang keras. Memang sebagian wilayahnya subur, tetapi ada kala-kala tertentu ketika bahan makanan sangat terbatas. Hal ini memantik munculnya tradisi pengolahan makanan agar lebih awet, salah satunya dengan mengeringkan. Makanan kering tak hanya cocok dibawa berkelana jauh, melainkan juga dikonsumsi sehari-hari. Tak ada garis poembatas tegas yang membedakan makanan bekal perjalanan dengan makanan sehari-hari.[4]
Sentra produksi talkhan yang terkenal ada di wilayah Provinsi Panjshir,[5] di lembah Pegunungan Hindukush yang subur. Panjshir setiap tahunnya memproduksi murbei jauh lebih banyak dibanding yang dikonsumsi masyarakatnya.[5] Mereka kemudian mengolahnya menjadi talkhan dan chakida. Hal yang membedakan keduanya adalah chakida hanya menggunakan murbei dan kacang kenari yang digerus, sedangkan untuk membuat talkhan turut ditambahkan kacang badam.[4]
Masyarakat Panjshir dikenal membagikan talkhan kepada tamu yang singgah ke rumahnya.[1] Mereka sangat bangga terhadap hasil alam (badam, kenari, murbei) serta produk turunannya, termasuk talkhan ini. Kebanggaan mereka diabadikan dalam nyanyi, yang penggalannya dalam bahasa Indonesia lebih kurang berarti "Kami orang Panjshir hidup di tengah-tengah murbei dan talkhan".[6]
Sebagai sumber energi
Pekerja Afghani biasanya membawa stok talkhan yang cukup untuk beberapa saat mereka bekerja jauh dari rumah.[2] Mereka bahkan bisa bertahan berhari-hari tanpa makanan lain asalkan membawa cukup talkhan dan air.[4] Makanan ringan berasa manis ini dapat dikonsumsi begitu saja, atau dicampur tepung maizena dan diolah menjadi roti.[4]
Dalam ekspedisinya ke Afghanistan pada abad ke-19, tentara Inggris mengamati bahwa militan Afghanistan mengandalkan talkhan sebagai ransum.[7] Pun selama invasi Soviet atas Afghanistan, talkhan lagi-lagi dapat diandalkan. Kudapan ini menjadi sumber energi bagi mujahidin Afghani yang berjalan ke medan laga.[8]
Talkhan mudah dibawa dan padat kalori. Batangan energi kuno ini mudah dibuat, masa simpannya lama, dan terbukti telah menyelamatkan ratusan pejuang dari bahaya kelaparan yang mengintai saat mereka berada di Pegunungan Panjshir yang terjal.[9]Ada laporan dari pihak Rusia bahwa mujahidin Afghani memakan batu. Padahal yang dimakan adalah talkhan yang berwarna kecoklatan dari bahan-bahan pembuatnya yang kemudian diproses hingga benar-benar kering menjadi batangan keras.[2]