Talisman Energy Inc. dulu adalah sebuah perusahaan minyak bumi asal Kanada yang eksis mulai tahun 1993 hingga 2015. Perusahaan ini dibentuk dari bekas aset milik BP Canada, setelah British Petroleum mendivestasi 57% saham BP Canada pada bulan Juni 1992. Perusahaan ini adalah salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar di Kanada, dan beroperasi secara global, dengan operasi di Kanada (B.C., Alberta, Ontario, Saskatchewan, Quebec) dan Amerika Serikat (Pennsylvania, New York, Texas) di Amerika Utara; Kolombia, Amerika Selatan; Aljazair di Afrika Utara; Britania Raya dan Norwegia di Eropa; Indonesia, Malaysia, Vietnam, Papua Nugini, Timor Timur, dan Australia di Timur Jauh; dan Kurdistan di Timur Tengah. Talisman Energy juga membangun Ladang Angin Beatrice[1] di Laut Utara lepas pantai Skotlandia.
Perusahaan ini diakuisisi oleh Repsol pada tahun 2015[2] dan pada bulan Januari 2016 diubah namanya menjadi Repsol Oil & Gas Canada Inc.[3]
Pada tahun 1953, British Petroleum Company (BP) berekspansi ke Kanada dengan membeli minoritas saham Triad Oil Company asal Calgary. Pada awal dekade 1950-an, terjadi ketegangan antara perusahaan minyak dan pemerintah di Timur Tengah, sehingga menghambat operasi BP di sana dan memaksa BP untuk berekspansi ke luar Timur Tengah. Pada tahun 1969, perusahaan milik BP di Kanada diubah namanya menjadi BP Canada; dan pada tahun 1971, BP mengakuisisi 97,8% saham Supertest.[butuh rujukan]
Kemudian, Supertest diubah namanya menjadi BP Canada Ltd, dan bisnis lain BP di Kanada digabung ke dalam BP Canada. Pada tahun 1982, BP Canada mendivestasi aset hilirnya ke Petro-Canada, yang saat itu dimiliki oleh pemerintah Kanada.[butuh rujukan]
1992–2011
Pada tahun 1992, British Petroleum menjual 57% saham BP Canada Ltd ke masyarakat umum. BP Canada lalu diubah namanya menjadi Talisman Energy Inc. Setelah dipisah dari British Petroleum, Talisman Energy menjual bisnis pertambangannya yang merugi dan fokus pada aset gas alamnya di British Columbia.
Anak usahanya, Fortuna Petroleum, lalu menjadi salah satu perusahaan minyak internasional pertama yang berbisnis di Kuba.[6] Pada tahun 1993, Talisman Energy membeli Encor Inc dari BCE. Talisman Energy juga mengakuisisi Bow Valley Energy dari British Gas pada tahun 1994, sehingga makin eksis di Laut Utara dan Asia Tenggara. Pada tahun 1995, Talisman Energy keluar dari Kuba.
Pada tahun 1997, Talisman Energy meluncurkan tawaran pengambilalihan untuk Wascana Energy, bekas perusahaan milik pemerintah Saskatchewan. Talisman Energy kemudian bersaing ketat dengan Canadian Occidental Petroleum (kemudian, Nexen) untuk mengakuisisi Wascana, dan akhirnya kalah. Talisman Energy pun melanjutkan ekspansinya dengan berinvestasi di Laut Utara dan Indonesia; dan pada tahun 1997, membeli Pembina Resources.
Pada tahun 1999, Talisman Energy mengakuisisi Rigel Energy.
Pada tanggal 30 Mei 2007, perusahaan ini mengumumkan pensiunnya Presiden & CEO, James Buckee. John Manzoni, mantan pegawai BP, pun ditunjuk sebagai penggantinya, efektif mulai tanggal 1 September 2007.[7]
Pada bulan Januari 2008, Talisman setuju untuk membeli RSX Energy Inc asal Calgary, Alberta yang fokus pada eksplorasi dan pengembangan di Kanada bagian barat. Dibentuk pada tahun 1997 dengan nama Royal Sovereign Exploration Inc., perusahaan tersebut mengubah namanya menjadi RSX Energy pada tahun 2002.[8]
2012
Pada bulan Juli 2012, Talisman Energy melepas sebagian investasinya di Britania Raya agar dapat lebih fokus pada proyek gas serpih di Amerika Utara dan Asia Tenggara. Sebuah joint venture dengan Sinopec pun diumumkan, dengan Talisman menjual 49% saham bisnisnya di Laut Utara ke Sinopec dengan harga US$1,5miliar.[9][10]
Pada tanggal 10 September 2012, perusahaan ini mengumumkan bahwa John Manzoni telah setuju untuk berhenti dari jabatan presiden dan CEO secepatnya, dan akan digantikan oleh Hal Kvisle. Kvisle telah menjadi anggota dewan direksi Talisman sejak tahun 2010 dan sebelumnya menjabat sebagai CEO TransCanada Corporation mulai tahun 2001 hingga 2010.[11] Berita tersebut pun mengejutkan analis pasar dan menimbulkan spekulasi bahwa Talisman sedang menjadi target pengambilalihan, mirip seperti Nexen Inc. yang setuju untuk diakuisisi senilai $15,1 miliar oleh China National Offshore Oil Company dua bulan sebelumnya. Namun, Kvisle menekankan bahwa dewan direksi akan fokus menjadikan Talisman sebagai sebuah "perusahaan Kanada yang sukses dalam jangka panjang", bukan menjualnya.[12]
2013
Pada bulan Oktober 2013, investor aktivis Carl Icahn mengakuisisi sekitar 61 juta lembar saham perusahaan ini dan mengumumkan bahwa ia ingin masuk ke dewan direksi dari perusahaan ini. Akuisisi tersebut pun membuat harga saham perusahaan ini naik sebesar 16% dan kemudian turun sebesar 60% selama tahun 2014 sebelum Icahn mendivestasi saham yang ia pegang.[13][14]
Akuisisi oleh Repsol 2014-2015
Setelah berbulan-bulan spekulasi dan negosiasi, Repsol akhirnya resmi mengajukan tawaran untuk membeli Talisman pada awal bulan Desember 2014 dengan harga US$8 per lembar saham.[15][16] Digabungkan dengan kewajiban utang sebesar US$5 miliar, pembelian tersebut pun bernilai US$13,1 miliar.[17] Pada tanggal 19 Februari 2015, sebanyak 99% pemegang saham Talisman menyetujui tawaran pembelian dari Repsol.[2]
Pada bulan Januari 2016, Repsol mengumumkan bahwa nama resmi dari Talisman akan diubah menjadi Repsol Oil & Gas Canada Inc. mulai tanggal 1 Januari 2016.[3]
Kontroversi di Sudan
Pada tahun 1998, Talisman membeli Arakis Energy yang memegang 25% saham proyek Greater Nile Oil di Sudan yang dioperasikan oleh Greater Nile Petroleum Operating Company (GNPOC). Lebih lanjut, GNPOC adalah sebuah konsorsium yang beranggotakan Sinopec (40%), Petronas (30%), dan Sudapet (5%).[18]
Pada saat itu, Perang Saudara Sudan Kedua sedang berlangsung dan pemerintah Sudan sangat bergantung dengan pendapatan dari minyak bumi untuk mendanai upaya perang yang diduga kerap meliputi kejahatan perang, pelanggaran HAM, dan genosida tersebut.[19] Pengamat internasional juga menuduh pemerintah Sudan memindahkan penduduknya secara paksa untuk memungkinkan eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi. Seiring dengan makin memburuknya kondisi di Sudan, muncul protes internasional yang dipimpin oleh LSM dan gereja, yang menyerukan divestasi terhadap saham yang dipegang oleh Talisman dan mendorong pemerintah Kanada untuk menghukum Talisman. Sebagai bagian dari protes tersebut, Gereja Presbiterian Sudan menuntut Talisman di sebuah pengadilan di Amerika atas genosida, dengan menyatakan bahwa Talisman telah membantu pejabat Sudan untuk "mengebom gereja, membunuh pimpinan gereja, dan menyerang desa untuk memungkinkan eksplorasi minyak bumi."[20]
Seorang hakim kemudian memutuskan bahwa tuntutan tersebut valid, tetapi tuntutan tersebut ditolak oleh Pengadilan Distrik New York Selatan, dengan kesimpulan bahwa para penggugat tidak memiliki bukti yang dapat diterima untuk mendukung tuntutan terhadap Talisman.[21] Penolakan tersebut konsisten dengan laporan dari misi Harker pada tahun 2000, yang menegur Talisman karena tidak berbuat banyak untuk menghentikan pelanggaran HAM dari kelompok lain, tetapi tidak menemukan bahwa Talisman secara aktif membantu dalam kejahatan apa pun.[18] Sebagai respon terhadap tuduhan tersebut, Talisman menerbitkan "Laporan Tanggung Jawab Perusahaan" yang diverifikasi oleh pihak ketiga tiap tahun dan menerapkan prosedur untuk memantau kepatuhan terhadap Kode Etik Internasional untuk Perusahaan Kanada.[22]
Pada tahun 2003, Talisman Energy menjual 25% saham Arakis ke ONGC Videsh.[23] Sejumlah pihak pun mempertanyakan apakah penjualan tersebut menguntungkan masyarakat Sudan, dengan salah satu LSM menyatakan: "Jika Anda menekan Talisman untuk keluar dari Sudan, apakah perusahaan yang tersisa akan mengambil tindakan untuk menangani isu tersebut? Setidaknya Talisman telah memperhatikan dan merespon ...".[22] CEO Talisman, Jim Buckee, menyatakan kepada BBC bahwa "Sangat sulit bagi kami untuk beroperasi [di Sudan], jika perjanjian damai telah ditandatangani, kami akan kembali ke Sudan."[23]