Takato Ishida (石田 嵩人code: ja is deprecated , Ishida Takato, lahir 22 Juli 1990) adalah seorang politikus dan mantan diplomat asal Jepang yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Prefektur Fukui. Terpilih pada usia 35 tahun dalam pemilihan gubernur Januari 2026, Ishida mencatatkan sejarah sebagai gubernur termuda yang sedang menjabat di Jepang. Sebelum memasuki dunia politik domestik, ia meniti karier di Kementerian Luar Negeri Jepang (MOFA) dengan penempatan di Afrika dan Australia. Ia dikenal luas karena pendekatannya yang modern melalui media sosial dan profilnya yang viral sebagai pemimpin muda yang progresif.[1]
Karier politik
Kementerian Luar Negeri
Ishida saat memberikan kuliah daring kepada siswa SMA di Toyama pada tahun 2021.
Ishida lulus ujian rekrutmen Kementerian Luar Negeri pada percobaan ketiganya dan resmi bergabung pada tahun 2015. Pada tahun 2018, ia ditugaskan di Kedutaan Besar Jepang di Republik Zambia sebagai Sekretaris Ketiga.[2] Selama bertugas di sana, ia menjadi penerjemah bagi Wakil Menteri Luar Negeri Parlemen Jepang dalam pertemuan dengan Presiden Edgar Lungu serta untuk utusan Perdana Menteri dalam kunjungan resmi ke Nigeria.
Dari tahun 2020 hingga 2022, ia menjabat sebagai Wakil Konsul di Konsulat Jenderal Jepang di Melbourne, Australia.[3] Selama masa jabatannya di MOFA, ia juga menangani berbagai isu strategis, termasuk kebijakan keamanan energi.[4]
Gubernur Prefektur Fukui
Hasil pemilihan gubernur Fukui 2026, di mana Ishida (warna oranye) menang dengan 47,97% suara.
Pada 25 Desember 2025, Ishida mengumumkan pengunduran dirinya dari kementerian untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Prefektur Fukui.[5] Pencalonannya terjadi setelah pengunduran diri gubernur petahana, Tatsuji Sugimoto, pada awal Desember 2025. Meskipun partai LDP di tingkat prefektur mendukung kandidat lain, faksi LDP dari dewan kota Fukui memberikan dukungan kepada Ishida, yang maju sebagai kandidat independen.
Dalam kampanyenya, Ishida memanfaatkan media sosial secara efektif untuk menarik pemilih muda, dengan janji memperluas bantuan pengasuhan anak dan memperkuat manajemen krisis daerah. Pada pemilihan tanggal 25 Januari 2026, ia berhasil mengalahkan pesaing utamanya dan resmi dilantik pada 28 Januari 2026.[6]
Setelah menjabat, popularitasnya melonjak di platform digital seperti Instagram, di mana video sambutannya menjadi viral di luar negeri dan menarik perhatian karena usia mudanya.[7] Pada Maret 2026, Ishida sempat menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya mengenai "homogenitas etnis" Jepang, dengan mengklarifikasi bahwa pengalamannya di luar negeri justru membuatnya sadar akan keragaman etnis dan budaya yang kompleks.[8]