Tahok merupakan kuliner tradisional khas Tionghoa yang berkembang dan beradaptasi di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Makanan Tahok yang terbuat dari sari kedelai berbentuk seperti agar-agar yang diberi kuah jahe. Tahok terkenal dengan sebutan "riak cina". Pedagang Tahok saat ini jarang ditemui, tahok ini masih ada di daerah di Solo dan Surabaya. Makanan ini mirip dengan tahwa. Tahok resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI. Penetapan tersebut diumumkan dalam Sidang Penetapan WBTb Nasional 2025.[1][2]
Etimologi
Kata tahok berasal dari bahasa Tionghoa "tahoa", yang merupakan gabungan dari dua kata: "tao" atau "teu" yang berarti kacang kedelai dan "hu" yang berarti lumat atau halus. Secara harfiah, tahok berarti "kedelai yang dilumatkan".[3]
Proses pembuatan
Proses pembuatan tahok dimulai dengan pengolahan kedelai menjadi susu kedelai murni. Susu kedelai tersebut kemudian dipanaskan dan dicampur dengan bahan penggumpal alami, biasanya berupa gypsum powder (kalsium sulfat) atau larutan garam batu (nigari), untuk membentuk lapisan lembut menyerupai puding tahu. Hasil gumpalan tersebut disendok perlahan ke dalam mangkuk dan disiram dengan kuah gula jahe panas sebelum disajikan.[4][5]
Tahok memiliki cita rasa lembut dan menenangkan, dengan perpaduan antara rasa gurih ringan dari bubur tahu dan rasa manis pedas yang hangat dari jahe. Kombinasi tersebut menjadikan tahok sering dikonsumsi sebagai makanan penutup atau hidangan penghangat tubuh, terutama pada pagi atau sore hari. Dalam budaya kuliner Tionghoa, tahok dipercaya memiliki manfaat kesehatan, seperti membantu melancarkan pencernaan, menghangatkan badan, dan meredakan gejala masuk angin.[4][6]
Perkembangan zaman
Seiring perkembangan zaman, tahok mengalami berbagai modifikasi sesuai selera lokal. Di beberapa daerah, kuah gula jahe diganti dengan variasi rasa seperti gula aren, santan, atau sirup pandan. Selain itu, terdapat pula versi modern tahok yang disajikan dingin dengan tambahan topping seperti kacang, biji selasih, mutiara sagu, atau potongan buah.[7]
Meskipun sederhana, tahok mencerminkan perpaduan budaya antara tradisi Tionghoa dan kearifan lokal Indonesia. Kehadirannya di pasar-pasar tradisional dan pedagang kaki lima menandakan bahwa tahok tetap menjadi bagian dari warisan kuliner yang lestari dan digemari lintas generasi.[7][7]