ENSIKLOPEDIA
Syarif Hussein, Raja Hejaz
Biografi ini sudah memiliki referensi, tetapi tidak disertai kutipan yang cukup. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus, khususnya jika berpotensi memfitnah. Anda dapat membantu mengembangkan artikel ini dengan menambahkan lebih banyak kutipan pada teks artikel. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Januari 2026) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
| Husain bin Ali ٱلْحُسَيْن بِن عَلِي | |
|---|---|
| Syarif | |
Syarif Husain pada Desember 1916 | |
| Raja Hijaz | |
| Berkuasa | 10 Juni 1916 – 3 Oktober 1924 |
| Pendahulu | Jabatan dibentuk |
| Penerus | Ali |
| Raja Arab | |
| Berkuasa | 10 Juni 1916 – 19 Desember 1925 |
| Pendahulu | Jabatan dibentuk |
| Penerus | Jabatan dihapus |
| Syarif dan Emir Mekah | |
| Berkuasa | 1 November 1908 – 3 Oktober 1924 |
| Pendahulu | Abdullah Pasha bin Muhammad bin Abdul Muin |
| Penerus | Ali |
| Khalifah (diperdebatkan) | |
| Berkuasa | 3 Maret 1924 - 19 Desember 1925/4 Juni 1931 |
| Pendahulu | Abdul Mejid II |
| Penerus | Jabatan dihapus |
| Kelahiran | 1 Mei 1854 Istanbul, Kesultanan Utsmaniyah |
| Kematian | (umur 77) Amman, Transyordania |
| Pemakaman | 4 Juni 1931 |
| Pasangan |
|
| Keturunan | |
| Wangsa | |
| Ayah | Ali Bey bin Muhammad bin Abdul Mu'in |
| Ibu | Salha bint Gharam al-Shahar |
| Agama | Sunni Islam[1] |
Syarif Husain bin Ali (1856-1931) adalah seorang pemimpin Arab dari Bani Hasyim, dia merupakan keturunan ke 37 dari Nabi Muhammad dan merupakan keturunan dari Wangsa Hasyimiyah. Syarif Husain bin Ali diangkat menjadi Gubernur Makkah pada 1908 oleh Kekhalifahan Utsmaniyah. Setelah melakukan Pemberontakan Arab pada tahun 1916, Syarif Husain bin Ali kemudian diangkat menjadi Raja Hijaz selama masa kepemimpinan tahun 1916-1924. Tujuan dari pemberontakan ini adalah mendirikan negara Arab bersatu yang terbentang dari Aleppo di Suriah hingga Aden di Yaman, dimana Lawrence of Arabia, seorang agen Inggris sudah berjanji untuk mendukung pemberontakan tersebut.[2]
Melalui surat-surat antara Syarif Husain dan Sir Henry McMahon (Komisaris Tinggi Inggris di Mesir), Inggris menjanjikan dukungan terhadap kemerdekaan bangsa Arab jika mereka bersedia memberontak melawan Ottoman. Syarif Husain memahami surat-surat tersebut sebagai janji eksplisit bahwa Inggris akan mendukung berdirinya negara Arab merdeka yang mencakup seluruh Jazirah Arab, Suriah, Irak, dan Palestina. Namun, di balik layar, Inggris juga melakukan manuver lain yang merusak kepercayaan tersebut. Pada 1916, Inggris menandatangani Perjanjian Sykes-Picot dengan Prancis, yang secara diam-diam membagi wilayah-wilayah Arab ke dalam zona pengaruh kolonial. Lebih lanjut, pada 1917, Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour, yang menjanjikan wilayah Palestina untuk gerakan Zionis Yahudi. Dengan demikian, janji kepada Syarif Husain berkonflik langsung dengan janji-janji rahasia Inggris kepada pihak lain.[3]
Tiga putra Husain bin Ali menjadi pemimpin di dunia Arab, yaitu Ali sebagai raja Hijaz, Faisal sebagai raja Iraq dan Abdullah sebagai Emir Transyordania. Dua hari setelah pembubaran Kekhalifahan Ustmaniyah di Turki, Syarif Husain bin Ali mendeklarasikan dirinya sebagai Khalifah yang baru. Ia mendapat dukungan baik dari orang-orang Arab karena gagasan populer khilafahnya akan mendorong "pemulihan kemuliaan orang Arab dan kesejahteraan umat Islam"[4]. Klaimnya terhadap Kekhalifahan tidak berlangsung lama setelah Ibnu Saud menyerang dan mengalahkannya pada 1924, sehingga Syarif Husain harus turun tahta Hijaz, menyerahkan kekuasaan pada putranya Ali dari Hejaz serta lari ke Amman, Yordania di mana putranya menjadi Emir di sana.
Di Amman, Hussein masih memanggil dirinya sebagai khalifah dan berperilaku seperti raja, hal ini membuat Abdullah tidak senang dan mengusirnya ke Aqaba. Syarif Husain akhirnya diasingkan ke Siprus dan tinggal bersama putranya yang bernama Zaid. Pada 1930, Syarif mengalami cacat karena terserang stroke pada usia 79 tahun.[5] Setelah itu Emir Abdullah memanggil ayahnya kembali ke Amman dan Syarif Husain tinggal di Amman hingga meninggal pada tahun 1931 di Amman, Yordania.
Baik Ali dari Hejaz maupun Ibnu Saud tidak tertarik dengan gelar Khalifah yang disandang sebelumnya oleh Syarif Husain. Keturunan dari Syarif Husain masih memegang kekuasaan di Yordania sampai sekarang dan Irak pada masa kerajaan sampai terbunuhnya Faisal II dari Irak dan Pangeran Mahkota Abd al-Illah bin Ali di tangan kaum republikan yang mendirikan Republik Irak (1958-1968) dan memegang gelar pangeran saja serta aktif di PBB (keturunan Zaid bin Husain).[6]
Biografi
Silsilah dan masa muda
Silsilah
Hussein bin Ali bin Muhammad bin Abd al-Mu'in bin Awn lahir di Konstantinopel pada tahun 1853 atau 1854. Ia merupakan putra sulung dari Syarif Ali bin Muhammad, yang merupakan putra kedua dari Muhammad bin Abd al-Mu'in, mantan Syarif Makkah. Sebagai anggota dari dinasti Hasyimiyah, ia merupakan keturunan Nabi Muhammad generasi ke-37[7] melalui cucunya, Hasan bin Ali. Ibunya, Salah Bani-Shahar, istri dari Ali, merupakan seorang wanita keturunan Sirkasia.[8]
Ia termasuk dalam klan Dhawu Awn dari keluarga Abadilah, sebuah cabang dari suku Banu Qatadah. Banu Qatadah telah memerintah Kesyariapan Makkah sejak kenaikan takhta leluhur mereka, Qatadah ibn Idris, pada tahun 1201 dan merupakan cabang terakhir dari empat cabang syarif Hasyimiyah yang secara bersama-sama telah memerintah Makkah sejak abad ke-11.
Perebutan kekuasaan dan kelahiran
Pada tahun 1827, Muhammad bin Abd al-Mu'in diangkat sebagai Syarif. Ia menjadi Syarif pertama dari cabang Dhawu Awn sekaligus mengakhiri kendali klan Dhawu Zayd atas keamiran tersebut, yang telah berlangsung sejak tahun 1718[9].[10] Ia memerintah hingga tahun 1851, ketika ia digantikan oleh Syarif Abd al-Muttalib ibn Ghalib dari klan Dhawu Zayd, yaitu Syarif yang sama yang posisinya digantikan oleh Muhammad ibn al-Abd al-Mu'in sebelumnya. Setelah pencopotannya pada tahun 1851, Muhammad ibn Abd al-Mu‘in ditangkap dan diasingkan ke Istanbul oleh otoritas Utsmaniyah.[11] Selama masa pengasingan di sanalah Hussein lahir dari putra Muhammad yang bernama Ali, pada kurun tahun 1853–1854.
Muhammad dipulihkan kembali kekuasaannya pada tahun 1856, dan Hussein, yang saat itu baru berusia dua atau tiga tahun, mendampingi ayah dan kakeknya kembali ke Makkah.[8] Tidak lama kemudian, pada tahun 1858, Muhammad wafat dan digantikan oleh putra sulungnya, Emir dan Syarif Abdullah Pasha, yang merupakan paman Hussein. Pamannya memegang jabatan Kesyariapan tersebut hingga tahun 1877. Saat masih muda, Hussein kembali lagi ke Makkah bersama ibunya pada tahun 1861–1862 setelah kematian ayahnya, ketika pamannya, Syarif Abdullah, memanggil mereka pulang.[7]
Masa muda dan pendidikan
Hussein dibesarkan di rumah, tidak seperti pemuda Hasyimiyah lainnya yang biasanya dikirim ke luar kota agar tumbuh di lingkungan nomaden Badui. Sebagai seorang pemuda yang tampaknya tekun, ia menguasai dasar-dasar bahasa Arab dan juga dididik dalam hukum Islam serta doktrin teologi. Di antara gurunya adalah Syekh Muhammad Mahmud at-Turkizi ash-Shinqiti, yang bersamanya ia mempelajari tujuh Mu'allaqat. Bersama Syekh Ahmad Zayni Dahlan, ia mempelajari Al-Qur'an dan berhasil menghafalkannya sebelum menginjak usia 20 tahun.[8][12][13]

Selama masa pemerintahan Abdullah, Hussein mulai mengenal politik dan intrik yang terjadi di sekitar istana Kesyariapan. Ia juga berpartisipasi dalam berbagai ekspedisi ke Najd dan wilayah timur Hijaz untuk menemui suku-suku Arab, yang mana Kesyariapan Makkah kala itu menerapkan bentuk kendali yang longgar atas mereka. Ia mempelajari adat istiadat suku Badui, termasuk keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup di lingkungan gurun yang keras. Selama perjalanannya, ia juga memperoleh pengetahuan mendalam mengenai flora dan fauna gurun serta menggubah puisi dalam bait humayni, sejenis puisi vernakular (malhun) khas suku Badui. Ia juga berlatih menunggang kuda dan berburu.[8]
Pengasingan ke Konstantinopel
Pada tahun 1875, ia menikahi putri Abdullah yang bernama Abdiyah, yang merupakan sepupunya sendiri. Pada tahun 1877, Abdullah wafat, dan Hussein, bersama sepupunya Ali ibn Abdullah, menerima pangkat Pasha. Setelah serangkaian pembunuhan politik di antara paman-pamannya yang saling berebut posisi Syarif, ia menarik perhatian karena kemandirian berpikirnya, sehingga ia dikirim kembali ke Konstantinopel oleh paman yang berkuasa saat itu pada tahun 1892–1893.[14] Ia menetap di sana selama 15 tahun hingga tahun 1908, dengan fokus utama membesarkan anak-anaknya, mempelajari politik Sublime Porte—di mana ia menyelaraskan diri dengan faksi konservatif—dan berharap dapat kembali ke kampung halamannya.[14]
Sebagai Emir
Pengangkatan

Menyusul pencopotan pendahulunya pada bulan Oktober dan kematian mendadak dari penerus setelahnya tidak lama kemudian, Hussein diangkat menjadi syarif agung melalui dekret resmi Sultan Abdul Hamid II pada bulan November 1908.[15][16] Pengangkatannya terjadi di masa ketika adanya kerja sama antara tokoh-tokoh terkemuka Arab dengan rezim baru di Istanbul, saat reformasi konstitusional dipandang terganggu dalam memberikan otonomi lokal yang lebih besar.[17] Namun, situasinya terbilang unik bagi Hussein, yang tiba di Makkah di tengah-tengah Revolusi Turki Muda, yang membawa kelompok Turki Muda (Komite Persatuan dan Kemajuan) ke tampuk kekuasaan.[16] Setibanya di sana, ia bertemu dengan perwakilan Komite Persatuan dan Kemajuan yang menyapanya sebagai "Syarif Konstitusional," dengan maksud untuk mengukur tanggapannya terhadap sebutan tersebut. Ia menjawab: "Sesungguhnya ini adalah tanah Allah yang di dalamnya tidak akan pernah ada apa pun yang berdiri tegak kecuali Syariat Allah [...] Konstitusi tanah Allah adalah Syariat-Nya dan Sunnah Nabi-Nya".[16][18] Jawabannya tersebut mencerminkan praktik politik yang telah lama berjalan di Hijaz, di mana tata kelola pemerintahan bertumpu pada hukum Islam dan adat istiadat Kesyariapan, berbeda dengan konstitusionalisme sekuler Utsmaniyah. Pada awal tahun 1914, ia dan keluarganya sempat mendiskusikan kemungkinan adanya pembalasan dari pihak Utsmaniyah, namun kekhawatiran mereka berpusat pada pelestarian otonomi Hijaz sembari mengadvokasi program politik Arab yang lebih luas.[17]
Pandangan keagamaan

Guru utamanya adalah Ahmad Zayni Dahlan, yang bersamanya ia menjadi seorang hafiz.[19][20] Ia memperoleh pendidikan bermazhab Syafi'i dan Hanafi,[21][22][23] namun ia juga bersekutu dengan para penganut Mazhab Maliki dan menentang kelompok Wahhabisme,[24] pada masa ketika kepatuhan terhadap suatu madzhab masih bersifat lebih fleksibel.[22]
Keluarga Al Hasyimi Asy Syarif
Keturunan Syarif Husein bin Ali al Hasyimi adalah Amir Makkah terakhir ketika Hijaz masih di bawah kekuasaan Utsmani. Marga Al Hasyimi berasal darinya. Pada tahun 1908–1916 M, Syarif Husein bin Ali menjadi Amir Makkah dan melepaskan Hijaz dari Turki dan mendirikan Kerajaan Arabiyah Hijaziyah. Beliau menjadi Raja Kerajaan Arabiyah Hijaziyah dari tahun 1916 hingga 1924 Masehi. Pada 3 Maret 1924 Masehi, setelah Kekhalifahan Turki Utsmani secara resmi dibubarkan dan diganti menjadi Republik Turki, Syarif Husein bin Ali diangkat sebagai Khalifah Kaum Muslimin.
Ketika dia menjadi Amir Makkah, Syarif Husein bin Ali dikenal dengan sebutan Syarif Husein bin Ali al 'Abdali. Dia berasal dari Keluarga Al 'Auni, yang merupakan cabang dari marga Asyraf Al 'Abdali. Setelah mengumpulkan baiat dari Asyraf Bani Hasyim di Hijaz untuk mendirikan Kerajaan Arabiyah Hijaziyah, juga dikenal sebagai Kerajaan Hasyimiyah Hijaz, Barulah mengubah gelarnya menjadi Al Hasyimi. sebagai bukti bahwa pada zamannya, beliau adalah raja Bani Hasyim. Beliau diberi gelar Al Hasyimi setelah menjadi raja Kerajaan Hasyimiyah Hijaz. Syarif Husein bin Ali adalah keturunan ke-38 Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam secara nasab.
Kampanye militer di 'Asir (1911)
Pada tahun 1911, Hussein terlibat dalam kampanye militer Utsmaniyah di Provinsi 'Asir; Komite Persatuan dan Kemajuan meminta dukungannya untuk memerangi Muhammad ibn Ali al-Idrisi, yang baru saja memberontak di sana dan memproklamasikan Keamiran Idrisiyah Asir.[25] Hussein sangat mendukung kampanye militer ini karena secara tradisional 'Asir merupakan bagian dari Hijaz, dan keberadaan al-Idrisi di wilayah tersebut memutus hubungan finansial serta politiknya dengan 'Asir.[25] Ia mengumpulkan pasukan sekitar 5.000 orang dari suku Aqil dan Bisha di Makkah—yang kedua suku tersebut berasal dari 'Asir—lalu mulai bergerak untuk menggempur al-Idrisi.[25] Setelah sempat mengalami kegagalan awal akibat cuaca panas dan wabah kolera, ia akhirnya berhasil menimbulkan dua kekalahan besar bagi pasukan Idrisiyah.[25]
Kemudian, ia berhasil mematahkan pengepungan kota Abha yang dilancarkan oleh pasukan al-Idrisi, tempat Suleiman Pasha selaku gubernur Utsmaniyah untuk kota tersebut bertahan.[25] Secara keseluruhan, ia mampu menundukkan pasukan lawan.[26] Kendati demikian, selama kampanye militer ini, ia tampaknya terkejut oleh tindakan kekerasan dari pasukan Utsmaniyah terhadap para pemberontak,[25] serta terlibat perselisihan sengit dengan gubernur Utsmaniyah di Abha, Suleiman Pasha. Perselisihan terjadi setelah Hussein ingin mengelola wilayah-wilayah yang berhasil direbut kembali tersebut berdasarkan norma-norma Badui dan Kesyariapan seperti sedia kala.[25] Hal ini memicu keretakan hubungan di antara kedua komandan, sehingga Hussein memutuskan untuk menarik diri dari 'Asir setelah sempat mengejar pasukan Idrisiyah yang kalah untuk beberapa waktu.[25]
Perselisihan di 'Asir ini turut memicu tumbuhnya rasa saling tidak percaya antara Hussein dan para pejabat Utsmaniyah, meskipun tindakan-tindakannya kala itu masih berjalan dalam kerangka kerja politik dan keagamaan yang berlaku di Hijaz.[27][9]
Pemberontakan Arab
Pan-Arabisme dan hubungan dengan Utsmaniyah

Meskipun tidak ada bukti formal yang menunjukkan bahwa Hussein bin Ali condong pada nasionalisme Arab sebelum tahun 1916, kebangkitan nasionalisme Turki sangat tidak menyenangkan bagi kaum Hasyimiyah dan kaum Badui.[28] Selain itu, meningkatnya sentralisasi Kekaisaran Utsmaniyah, pelarangan bertahap terhadap penggunaan bahasa Arab dalam pengajaran, kebijakan Turkifikasi, serta penempatan para kolonis Turki di wilayah-wilayah Arab telah mencemaskan dan menakuti orang-orang Arab di seluruh kekaisaran.[29][30] Di Hijaz, kekhawatiran atas sentralisasi Utsmaniyah ini berkaitan dengan otonomi lama Kesyariapan dan basis keagamaannya, alih-alih nasionalisme etnis yang baru muncul.[9] Pertimbangan pribadinya bersama putra-putranya turut menunjukkan bagaimana persoalan apakah akan memberontak atau tidak dirumuskan dalam hal realitas militer, tekanan Utsmaniyah, dan otonomi lokal.[31][17]
Pada tahun 1908, Jalur kereta api Hijaz selesai dibangun, yang memungkinkan pihak Turki memperkuat kendali mereka atas Hijaz dan menyediakan kemampuan respons cepat guna memperkuat garis pertahanan mereka di Makkah dan Madinah. Upaya untuk mengintegrasikan wilayah tersebut mendapatkan penolakan dari masyarakat setempat karena mengancam kebiasaan administratif yang telah lama berjalan, alih-alih identitas etnis.[9] Jalur ini dibangun di bawah ancaman serbuan terus-menerus dari orang Arab, seperti dari Suku Harb, yang menunjukkan permusuhan mereka terhadap proyek tersebut.[32][33] Lebih lanjut, pada bulan April 1915, pemerintah Utsmaniyah memulai kebijakan pemusnahan kaum minoritas di Kekaisaran Utsmaniyah melalui berbagai genosida. Penolakan lokal terhadap jalur kereta api bersumber dari kekhawatiran bahwa komunikasi militer langsung akan mengikis otoritas Kesyariapan dan membuka peluang bagi pemerintahan pusat atas wilayah-wilayah kesukuan.[9] Hal ini menakuti orang-orang Arab,[34][35][36][37] yang merupakan minoritas terbesar di Kekaisaran tersebut, dan dikritik secara terbuka oleh Hussein bin Ali.[38][39]
Pertentangan dengan pihak Turki ini menjadi kian sengit hingga membayangi friksi yang ada di dalam masyarakat Arab dan masyarakat Badui; dan banyak suku rival dari kaum Hasyimiyah akhirnya bersatu di bawah kepemimpinan mereka.[30][40]
Sebuah gerakan Arab yang bercorak nasionalis dan anti-kolonial berkembang, terutama di Suriah Utsmaniyah, tempat para intelektual dan surat kabar Arab menyuarakan pemulihan kekhalifahan ke tangan kaum Quraisy, dan khususnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Arab dari Kekaisaran Utsmaniyah.[41][42] Hubungan antara Hussein dan Komite Persatuan dan Kemajuan semakin memburuk setelah terbongkar dan digagalkannya rencana dari Enver Pasha untuk membunuh Hussein.[43][44]
Semua poin tersebut memicu keretakan hubungan yang sengit antara elit Arab dan kelas politik Utsmaniyah,[45] yang kemudian tecermin dalam proklamasi kemerdekaan Hussein di kemudian hari, di mana ia menggambarkan perjuangannya sebagai perjuangan keagamaan dan anti-kolonial.[29][46][47]
Dua puluh hari setelah dimulainya Genosida Armenia di Kekaisaran Utsmaniyah, putra Hussein bin Ali, Faisal, bertemu dengan para pemimpin organisasi revolusioner Al-Fatat di Damaskus. Mereka meyakinkan Faisal akan dukungan mereka jika terjadi pemberontakan dan menyatakan kesediaan untuk mendukung kepemimpinannya apabila ia memulai pemberontakan tersebut.[17][46][48][49][50]
Ketika Hussein mengangkat klaim pan-Arab pada tahun 1916 setelah proklamasi kemerdekaannya, ia menjadi tokoh utama tempat para penganut pan-Arab bersatu. Oleh karena itu, ia kerap dianggap sebagai bapak Pan-Arabisme.[51][52][53]
Selama Perang Dunia I, Hussein pada awalnya tetap bersekutu dengan Utsmaniyah tetapi mulai melakukan negosiasi rahasia dengan pihak Britania atas saran putranya, Abdullah, yang telah bertugas di Parlemen Utsmaniyah hingga tahun 1914 dan meyakini bahwa penting untuk memisahkan diri dari pemerintahan Utsmaniyah yang kian nasionalistik.[45]
Hubungan dengan Britania Raya

Menyusul musyawarah di Ta'if antara Hussein dan putra-putranya pada bulan Juni 1915, di mana Faisal menyarankan agar berhati-hati, Ali menentang pemberontakan, dan Abdullah menganjurkan tindakan nyata[54] serta mendorong ayahnya untuk memulai surat-menyurat dengan Sir Henry McMahon; selama periode 14 Juli 1915 hingga 10 March 1916, sebanyak sepuluh surat, masing-masing lima dari kedua belah pihak, saling dipertukarkan antara Sir Henry McMahon dan Syarif Hussein. McMahon terus berhubungan dengan Sekretaris Luar Negeri Britania, Edward Grey sepanjang proses tersebut, dan Grey yang memberikan wewenang serta bertanggung jawab penuh atas korespondensi tersebut. Sebelumnya, pada bulan Februari dan April 1914, putra Hussein sempat menemui para pejabat Britania di Kairo untuk menjajaki potensi dukungan sekiranya terjadi bentrokan dengan otoritas Utsmaniyah. Pihak Britania menghindari komitmen apa pun pada saat itu, dan diskusi tersebut tetap bersifat penjajakan belaka.[17]
Perhatian Britania selama masa ini tertuju pada nilai strategis Hijaz dalam mencegah akses Utsmaniyah ke Mesir dan Terusan Suez, sebuah pandangan yang sejalan dengan prioritas pertahanan Hussein sendiri.[17] Sekretaris Negara Britania untuk Urusan Perang, Marsekal Lapangan Lord Kitchener, meminta bantuannya dalam konflik tersebut untuk berpihak pada Blok Entente. Dimulai pada tahun 1915, seperti yang ditunjukkan oleh pertukaran surat dengan Letnan Kolonel Sir Henry McMahon, Komisaris Tinggi Britania di Kesultanan Mesir, Hussein memanfaatkan kesempatan ini dan menuntut pengakuan atas sebuah negara Arab yang mencakup Hijaz dan wilayah berdekatan lainnya, serta persetujuan untuk memproklamasikan Kekhalifahan Islam Arab.[45] Komisaris Tinggi McMahon menerima dan meyakinkannya bahwa bantuannya akan diganjar dengan sebuah kekaisaran Arab yang meliputi seluruh bentangan antara Mesir dan Persia, dengan pengecualian wilayah jajahan Britania dan kepentingannya di Kuwait, Aden, dan pesisir Suriah.[55] Namun, pada saat itu, pihak Britania hampir tidak memikirkan janji-janji yang telah dibuat; fokus utama mereka hanyalah memenangkan perang dan membubarkan Kekaisaran Utsmaniyah.[56][57] Nasib populasi Arab dan pembagian wilayah ditinggalkan untuk dibahas di kemudian hari.[56]
Menurut Ekrem Buğra Ekinci, hubungan antara Hussein dan pihak Britania tidak boleh dilebih-lebihkan.[58] Alasan mendasar dari pemberontakan Arab, menurutnya, tetaplah persekusi dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Turki Muda terhadap orang-orang Arab di Kekaisaran Utsmaniyah, dan tidak selalu terkait dengan dukungan Britania.[58] Oleh karena itu, dukungan ini dinilai sebagai faktor pelengkap saja dan pemberontakan akan tetap terjadi tanpa bantuan mereka.[58] Pandangan ini pada masa itu juga diamini oleh Abbas II dari Mesir, Khedive terakhir Khediviah Mesir, meskipun ia merupakan seorang simpatisan Turki Muda.[58]
Jalannya Pemberontakan Arab, Juni 1916 hingga Oktober 1918

Hussein memutuskan untuk segera bergabung dengan kubu Sekutu karena adanya informasi[61] bahwa dirinya akan segera dicopot dari jabatan Syarif Makkah oleh pemerintah Utsmaniyah demi menguntungkan Syarif Ali Haidar, pemimpin dari keluarga rival, klan Za'id.[62] Eksekusi mati para pemimpin nasionalis Arab di Damaskus yang dipublikasikan secara luas membuat Hussein mengkhawatirkan keselamatan jiwanya jika ia digantikan oleh Ali Haidar.[62] Pemberontakan yang sesungguhnya dimulai pada tanggal 10 Juni 1916, ketika Hussein memproklamasikan kemerdekaan Kerajaan Hijaz dan memerintahkan para pendukungnya untuk menyerang garis pertahanan Utsmaniyah di Makkah.[63]

Dalam Pertempuran Makkah, terjadilah pertempuran jalanan yang berdarah selama lebih dari sebulan antara pasukan Utsmaniyah yang kalah jumlah tetapi memiliki persenjataan yang jauh lebih baik, melawan orang-orang suku pengikut Hussein.[64] Tembakan artileri Utsmaniyah yang membabi buta sempat membakar kain penutup Ka'bah dan berbalik menjadi senjata propaganda yang ampuh bagi kaum Hasyimiyah, yang menggambarkan dinasti Utsmaniyah telah menodai tempat paling suci dalam Islam.[64][65] Pasukan Hasyimiyah di Makkah kemudian dibantu oleh pasukan Mesir yang dikirim oleh Britania, yang menyediakan dukungan artileri yang sangat dibutuhkan, hingga akhirnya berhasil merebut Makkah pada 9 Juli 1916.[64] Catatan Utsmaniyah menunjukkan bahwa pasukan mereka kekurangan amunisi dan tidak dapat dipasok kembali, yang mana hal ini turut andil dalam runtuhnya pertahanan mereka alih-alih murni karena kekalahan di medan perang.[17] Masih pada tanggal 10 Juni, putra Hussein lainnya, Emir Abdullah, menyerang Ta'if, sebuah kota perbukitan di dekat Makkah, yang setelah penolakan awal berubah menjadi pengepungan.[64] Dengan dukungan artileri Britania-Mesir, Abdullah berhasil merebut Ta'if pada tanggal 22 September 1916.[64] Sumber-sumber Utsmaniyah menunjukkan bahwa garis pertahanan tersebut mampu bertahan selama lebih dari tiga bulan dalam kondisi terkepung, tetapi kelangkaan selongsong artileri serta makanan membuat pertahanan lanjutan menjadi mustahil dilakukan. Ketersediaan artileri pasokan Britania bagi Abdullah menjadi faktor yang sangat menentukan.
Masa pemerintahan
Hussein memprakarsai serangkaian reformasi, termasuk langkah-langkah untuk menghindari hal-hal yang dapat menyinggung umat Islam dari wilayah koloni Prancis atau Britania yang sedang melaksanakan ibadah Haji. Ia juga menangani masalah anjing terlantar, berupaya memastikan keamanan rute-rute perjalanan haji, serta berusaha memberantas pasar budak yang marak terjadi di wilayah Hijaz.[66]
Genosida Armenia
Mulai tahun 1917, Hussein mengambil berbagai keputusan untuk melindungi para pengungsi Armenia serta mereka yang tinggal di tanah kekuasaannya dari Genosida Armenia.[67] Orang-orang Armenia yang dideportasi mulai berdatangan di Suriah Utsmaniyah pada pertengahan tahun 1915, dan sejumlah besar dari mereka tetap bertahan di wilayah tersebut sepanjang tahun 1916 dengan puncak pembantaian terjadi pada musim semi dan akhir tahun 1916. Para penyintas terus bertahan di sekitar Aleppo, Raqqa, dan Deir ez-Zor hingga awal tahun 1917.[68] Pertama-tama, ia mengecam genosida tersebut secara terbuka sejak awal tahun 1916 dengan menyatakan, "Kami secara khusus membawa kekejaman yang dilakukan terhadap orang-orang Yunani dan Armenia ke dalam kecaman dunia, kekejaman yang hanya dapat ditentang oleh hukum suci kami".[69] Terkait hal ini, ia mengeluarkan sebuah dekret pada tahun 1917: "Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan nabi kita Muhammad, kami menyerukan kepada saudara-saudara Arab kami (...) untuk menerima pengungsi Armenia ke dalam keluarga mereka, berbagi harta benda dengan mereka—unta, makanan, tempat tinggal, selimut—dan membagikan segala sesuatu yang kalian miliki secara berlebih, serta apa pun yang dapat kalian berikan kepada sesama."[67]
Pada bulan April 1918, sebagai bagian dari penaklukannya atas wilayah-wilayah Suriah tempat terjadinya Genosida Armenia, ia mengeluarkan dekret untuk melindungi orang-orang Armenia dari persekusi dan mengizinkan mereka menetap dengan damai. Dalam dekret tersebut ia memerintahkan:[70]
"Apa yang diminta dari kalian adalah untuk melindungi dan merawat dengan baik setiap orang dari komunitas Armenia Yakobit yang tinggal di wilayah serta perbatasan kalian, dan di antara suku-suku kalian; untuk membantu mereka dalam segala urusan dan membela mereka sebagaimana kalian membela diri kalian sendiri, harta benda kalian, dan anak-anak kalian, serta menyediakan segala hal yang mungkin mereka butuhkan baik saat menetap maupun saat berpindah-pindah tempat, karena mereka adalah Orang-Orang yang Dilindungi oleh Muslim (Ahludz Dzimmah al-Muslimin)—yang tentang mereka Nabi Muhammad (semoga Allah melimpahkan berkah dan kedamaian kepadanya) bersabda: 'Barangsiapa mengambil dari mereka bahkan seutas tali sekalipun, aku akan menjadi musuhnya di hari Kiamat'.[71] Ini adalah salah satu hal terpenting yang kami wajibkan untuk kalian lakukan dan kami harapkan dapat kalian penuhi, mengingat keluhuran budi dan keteguhan tekad kalian."
Para penyintas Armenia masih tersebar di berbagai komunitas kecil hingga akhir tahun 1917, membuat perlindungan semacam itu sangat berarti bagi ribuan orang yang berhasil meloloskan diri dari pembantaian sepanjang tahun 1916.[68]
Institut Nasional Armenia menganggap dekret tersebut sebagai deklarasi tertua oleh seorang kepala negara yang mengakui adanya Genosida Armenia.[72] Bersamaan dengan langkah itu, ia juga memberikan kewarganegaraan kepada para kaula Armenia-nya.[73] Berdasarkan kesaksian para penyintas Genosida Armenia, seperti Levon Yotnakhparian, Hussein menerima mereka secara langsung dan merasa sangat terguncang oleh kabar mengenai peristiwa yang sedang terjadi.[74] Ia juga menyokong para penyintas Armenia serta menyediakan logistik pasukan dan perlindungan untuk ekspedisi penyelamatan para sandera deportasi Armenia di Gurun Suriah.[75][76] Menurut berbagai kesaksian, metode penyelamatan ini dilaporkan berhasil menyelamatkan hingga 4.000 jiwa dari genosida, berkolaborasi dengan Hussein al-Attrache, seorang kepala suku Druze yang kemudian menyamarkan para pengungsi tersebut sebagai orang Druze.[75] Putranya, Faisal, menyediakan transportasi gratis bagi seluruh pengungsi Armenia untuk perjalanan mereka menuju kamp pengungsian Britania di Damaskus serta memberikan akses gratis penggunaan Jalur kereta api Hijaz, meski hal itu sempat menghambat jalannya operasi perang.[77]
Pasca-Perang Dunia I
Setelah berakhirnya perang, bangsa Arab mendapati diri mereka terbebas dari kekuasaan Utsmaniyah yang telah berlangsung selama berabad-abad. Putra Hussein, Faisal, diangkat menjadi Raja Suriah, tetapi kerajaan ini berumur pendek karena Timur Tengah kemudian jatuh ke bawah sistem mandat Prancis dan Britania Raya. Pemerintah Britania selanjutnya masing-masing mengangkat Faisal dan saudaranya, Abdullah, sebagai raja untuk Irak dan Transyordania.
Persoalan Palestina dan memburuknya hubungan dengan Britania
Memasuki akhir masa perang, Hussein terlibat konflik yang serius dengan pandangan Britania terkait persoalan Palestina.[78][79] Pada bulan Januari dan Februari 1918, Hussein menerima Pesan Hogarth dan Surat Bassett sebagai jawaban atas permintaannya mengenai kejelasan dari Deklarasi Balfour dan Kesepakatan Sykes-Picot.[80] Terlepas dari penjelasan-penjelasan tersebut, ia menyatakan bahwa Palestina harus dimasukkan ke dalam batas wilayah Kerajaan Arab yang baru didirikan[81] dan harus menolak para pemukim Zionis, meskipun ia bersedia menerima orang-orang Yahudi di Palestina,[79][81] terutama mereka yang memang telah lama tinggal di sana dan bukan datang dari negara asing.[78] Kendati demikian, bahkan setelah adanya jaminan dari McMahon, Hussein tidak kunjung menerima wilayah-wilayah yang telah dijanjikan oleh sekutu Britania-nya.
Kepulangan dan wafat

Karena kesehatannya yang terus memburuk dan ia mengalami kelumpuhan akibat stroke pada usia 77 tahun pada tahun 1930,[82][83] pihak Britania semakin condong untuk memulangkannya kembali ke Timur Tengah. Mereka khawatir bahwa wafatnya Hussein di pengasingan tidak hanya akan menyulut kebencian bangsa Arab terhadap Britania Raya, tetapi juga berpotensi merenggangkan hubungan mereka dengan para penguasa Hasyimiyah, yang semuanya merupakan sekutu di Timur Tengah.[84] Pihak Saudi menyatakan ketidaksenangan mereka atas desas-desus pemulangan Hussein, terutama setelah Hussein mengutarakan keinginannya untuk dimakamkan di Makkah—sebuah peristiwa yang dikhawatirkan pihak Saudi dapat memicu "perkumpulan massa pro-Hasyimiyah."[84] Pada akhirnya, Britania memutuskan untuk memulangkannya ke Amman, setelah sempat mempertimbangkan Bagdad sebagai pilihan lain.[84] Setibanya di sana, ia disambut oleh kerumunan besar masyarakat yang mengelu-elukannya dan mengiringinya hingga ke Istana Raghadan.[84] Selama berada di Amman, ia menerbitkan serangkaian tulisan di *al-Yarmouk*, sebuah surat kabar berbahasa Arab, tempat ia membela tindakan-tindakannya dan menegaskan kembali penolakannya terhadap Mandat Britania atas Palestina.[85]
Ia wafat pada tanggal 4 Juni 1931. Hussein bin Ali dimakamkan di Yerusalem pada tahun 1931 karena ia tidak diizinkan untuk dimakamkan di Makkah sebagaimana keinginannya dan sebagaimana tradisi bagi para Syarif Makkah sebelum masa itu, lantaran Ibn Saud tidak mengizinkan jenazahnya dibawa ke sana.[86] Tokoh-tokoh terkemuka dan para pemimpin setempat menghendaki agar ia dimakamkan di kompleks Masjid Al-Aqsa.[87] Gagasan ini disetujui, dan setelah prosesi iring-iringan yang diikuti oleh 30.000 orang,[88] ia dimakamkan di Yerusalem: di dalam Al-Arghuniyya, sebuah bangunan di Haram Asy-Syarif atau "Bukit Bait Suci", dalam sebuah area berpagar yang dihiasi marmer putih dan hamparan karpet.[89][90] Putranya, Faisal, yang hubungannya paling renggang dengannya saat itu, tidak menghadiri pemakamannya dengan alasan harus menyelesaikan "urusan pemerintahan".[84]
Pada jendela di atas makamnya, tertulis prasasti berikut: Arab: هَذَا قَبْرُ أَمِيرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْحُسَيْن بْنُ عَلِي, har. 'Haḏa qabru ʾamīri ʾal-mūˈminīna ʾal-Ḥusayn bnu ʿAlī'code: ar is deprecated yang diterjemahkan menjadi "Inilah makam Pemimpin Orang-Orang Beriman, Hussein bin Ali".[91][88][92]
Pernikahan dan anak

Hussein, yang memiliki empat istri, dikaruniai empat putra dan tiga putri dari tiga istrinya:
- Syarifa Abidiya bint Abdullah (wafat di Konstantinopel, Kekaisaran Utsmaniyah, 1888, dimakamkan di sana), putri tertua dari paman jalur ayahnya, Amir Abdullah Kamil Pasha, Syarif Agung Makkah;
- Madiha, seorang wanita Sirkasia;
- Syarifa Khadija bint Abdullah (1866 – Amman, Transyordania, 4 Juli 1921), putri kedua dari Amir Abdullah Kamil Pasha, Syarif Agung Makkah;
- Adila Khanum (Konstantinopel, Kekaisaran Utsmaniyah, 1879 – Larnaca, Siprus, 12 Juli 1929, dimakamkan di sana di Hala Sultan, Umm Haram, Tekke), putri dari Salah Bey dan cucu perempuan dari Mustafa Reşid Pasha, yang pernah menjabat sebagai Wazir Agung Kekaisaran Utsmaniyah;
Dengan istri pertamanya, Abidiya bint Abdullah, ia dikaruniai:
- Pangeran Ali, Raja terakhir Hijaz yang menikah dengan Nafisa bint Abdullah. Orang tua dari Aliya bint Ali. Kakek-nenek dari Syarif Ali bin al-Hussein.
- Pangeran Abdullah, Emir (kemudian Raja) Transyordania, menikah dengan Musbah bint Nasser, Suzdil Hanum, dan Nahda bint Uman.
- Putri Fatima, menikah dengan seorang pengusaha Muslim Eropa asal Prancis.
- Pangeran Faisal, kemudian menjadi Raja Irak dan Suriah, menikah dengan Huzaima bint Nasser. Orang tua dari Ghazi, Raja Irak (lahir 1912, wafat 4 April 1939), yang menikahi sepupu pertamanya, Putri Aliya bint Ali, putri dari Raja Ali dari Hijaz.
Dengan istri keduanya, Madiha, ia dikaruniai:
- Putri Saleha, menikah dengan Abdullah bin Muhammed.
Dengan istri ketiganya, Adila, ia dikaruniai:
- Putri Sara, menikah dengan Muhammad Atta Amin pada bulan Juli 1933, bercerai pada bulan September 1933.
- Pangeran Zeid, yang menjadi penerus klaim takhta Raja Faisal II dari Irak setelah pembunuhan sang raja pada tahun 1958, tetapi tidak pernah benar-benar memerintah karena Irak telah berubah menjadi republik. Menikah dengan Fahrelnissa Kabaağaç.
Karya
Literatur
Hussein menulis secara ekstensif; dokumen-dokumen terpentingnya dikumpulkan dan diterbitkan dalam sebuah buku oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad.[85] Selain itu, ia juga dikenal menulis banyak rangkaian artikel di surat kabar al-Qibla.[93][94]
Warisan sejarah
Seni

Beberapa penyair menggubah karya tentang dirinya, termasuk Ahmed Shawqi, yang dijuluki Pangeran para Penyair,[95] yang menulis sebuah puisi mengenai upacara pemakamannya,[96]
Lihat juga
Referensi
- ↑ "IRAQ – Resurgence In The Shiite World – Part 8 – Jordan & The Hashemite Factors". APS Diplomat Redrawing the Islamic Map. 2005. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Juli 2012.
- ↑ Kompasiana.com (2013-03-10). "Penyesalan Syarif Husain". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-07-08.
- ↑ "Pemberontakan Arab 1916, Syarif Husain bin Ali dan Runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah". Studies In Turkiye. Diakses tanggal 2025-07-08.
- ↑ Khan, Saad Omar (2007). "The "Caliphate Question" British Views and Policy toward Pan-Islamic Politics and the End of the Ottoman Caliphate". American Journal of Islamic Social Sciences. 24 (4): 17. doi:https://doi.org/10.35632/ajis.v24i4.42. ;
- ↑ Viorst, Milton (2007-12-18). Storm from the East: The Struggle Between the Arab World and the Christian West (dalam bahasa Inggris). Random House Publishing Group. ISBN 978-0-307-43185-1.
- ↑ Semarang, Universitas STEKOM. "Syarif Hussein | S1 | Terakreditasi | Universitas STEKOM Semarang". p2k.stekom.ac.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-07-08.
- 1 2 Kay 2020, hlm. 49.
- 1 2 3 4 Niḍāl Dāwūd al-Mūminī (1996). الشريف الحسين بن علي والخلافة: ash-Sharīf al-Ḥusayn ibn 'Alī wa-al-khilāfah (dalam bahasa Arab). 'Ammān: al-Maṭba'ah aṣ-Ṣafadī.
- 1 2 3 4 5 Ochsenwald, William (2010-01-01). Religion, Society and the State in Arabia: The Hijaz under Ottoman Control, 1840-1908. Jeddah: Scientific Publishing Center. doi:10.4197/978-9960-06-480-2. ISBN 978-9960-06-480-2.
- ↑ Ṣalībī, Kamāl aṣ- (1998). The modern history of Jordan. London: Tauris. ISBN 978-1-86064-331-6.
- ↑
- ↑ Khayr ad-Dīn az-Ziriklī (1923). ما رأيت وما سمعت: Mā ra'aytu wa-mā sami't (dalam bahasa Arab). Al-Qāhirah Cairo: al-Maṭba'ah al-'Arabīyah wa-Maktabatuhā.
- ↑ Khayr ad-Dīn az-Ziriklī, « الملك حسين / al-Malik Ḥusayn », dans الأعلام / al-A'lām, vol. 2, Bayrūt [Beirut], 2002, 15th éd. (1re éd. 1967), 249–250 p.
- 1 2 Kay 2020, hlm. 41–43.
- ↑ Kayali, Hasan (1997). "5.A Case Study in Centralization: The Hijaz under Young Turk Rule, 1908–1914, The Grand Sharifate of Husayn Ibn 'Ali". Arabs and Young Turks: Ottomanism, Arabism, and Islamism in the Ottoman Empire, 1908–1918. University of California Press. ISBN 978-0-520-20446-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 April 2022. Diakses tanggal 5 June 2019.
- 1 2 3 Kay 2020, hlm. 41–44.
- 1 2 3 4 5 6 7
- ↑ Dawn, Clarence Ernest (1973). From ottomanism to arabism: essays on the origins of Arab nationalism. Urbana: Univ. of Illinois Press. ISBN 978-0-252-00202-1.
p. 6
- ↑ Niḍāl Dāwūd al-Mūminī (1996). الشريف الحسين بن علي والخلافة / ash-Sharīf al-Ḥusayn ibn 'Alī wa-al-khilāfah (dalam bahasa Arab). 'Ammān: al-Maṭba'ah aṣ-棧afadī.
- ↑ Khayr ad-Dīn az-Ziriklī (1923). ما رأيت وما سمعت / Mā ra'aytu wa-mā sami't (dalam bahasa Arab). al-Qāhirah [Cairo]: al-Maṭba'ah al-'Arabīyah wa-Maktabatuhā.
- ↑ "الحسين بن علي شريف مكة". areq.net. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 April 2023. Diakses tanggal 2022-10-07.
- 1 2 Hourani, Albert (1970). Arabic thought in the liberal age, 1798–1939. Thomas Leiper Kane Collection. London: issued under the auspices of the Royal Institute of International Affairs [by] Oxford U.P. ISBN 978-0-19-285039-3. OCLC 206913.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Mestyán, Ádám (2017). Arab patriotism: the ideology and culture of power in late Ottoman Egypt. Princeton University Press. ISBN 978-1-4008-8531-2. OCLC 980845341.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Hanne, Olivier (2016-11-17). SPM (ed.). "La révolte arabe en 1916: mythe et réalité". Telemme – Temps, espaces, langages Europe méridionale-Méditerranée (dalam bahasa Prancis): 331. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 October 2022. Diakses tanggal 2022-10-07.
Dès l'automne 1916, il commence à imprimer sa marque dans le Hejâz, puisque le corps sénatorial qu'il constitue le 7 octobre est composé notamment des muftis chafite et malékite, mais pas des représentants du rite hanafte – offciel dans l'empire ottoman – ni hanbalite – celui des wahhabites. Le 23 décembre, il se déclare indifférent à la monarchy et libre face aux puissances européennes et va jusqu'à décliner l'offre de débarquement franco-britannique (27 décembre). Son obsesion reste le califat. Sa législation en est le signe puisqu'il lance la lutte contre le péché à Médine. Le 30 octobre 1916, les cafés ne peuvent rien vendre durant les heures de prières; le 3 mai 1917, l'alcool est interdit. Il restaure en janvier 1917 les titres traditionnels arabo-musulmans (chérif, sayyid, shaykh) et abolit les titres turcs (effendi, bey, pacha…).
- 1 2 3 4 5 6 7 8 "الثورات المناهضة للوجود العثماني في اليمن (1910- 1914م)". aden.center. Diakses tanggal 2024-08-28.
- ↑ "L'Histoire de l'émirat Idrisside en Arabie - The Moorish Times". moorishtimes.com (dalam bahasa Prancis). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 May 2024. Diakses tanggal 2024-08-28.
- ↑ Ochsenwald 2010.
- ↑ "Image 9 of The king of Hedjaz and Arab independence, with a facsimile of the proclamation of June 27, 1916". Library of Congress, Washington, D.C. 20540 USA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2023. Diakses tanggal 2023-09-28.
- 1 2 "Source Records of the Great War Sharif Hussein's Proclamation of Independence from Turkey, 27th June 1916". Sayyid Ahmed Amiruddin (dalam bahasa Inggris). 2013-08-13. Diarsipkan dari versi asli pada 9 October 2022. Diakses tanggal 2022-10-06.
- 1 2 History, Grades 10‒12, Chapters in the Modern History of the Middle East, George Salama, Maktabat Al-Khouri (Permit: 317), 2009, p. 73.
- ↑ Kay 2020.
- ↑ YurtoğLu, Nadir (15 October 2018). "Türk Standartları Enstitüsünün (TSE) Kuruluşu Bağlamında Türkiye'de Standardizasyon Politikaları (1923–1960)". History Studies: International Journal of History. 10 (7): 241–264. doi:10.9737/hist.2018.658. S2CID 217194653.
- ↑ Faught, C. Brad (2022). Cairo 1921: ten days that made the Middle East. New Haven London: Yale University Press. ISBN 978-0-300-25674-1.
- ↑ Zeine, Zeine N. (1973). The emergence of Arab nationalism; with a background study of Arab-Turkish relations in the Near East. Caravan Books. ISBN 978-0-88206-000-2. OCLC 590512.
- ↑ "The Armenian Genocide Museum-institute". www.genocide-museum.am. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 April 2023. Diakses tanggal 2023-04-24.
- ↑ Khalidi, Rashid; Anderson, Lisa; Muslih, Muhammad Y.; Simon, Reeva S. (1991). The origins of Arab nationalism. Columbia University Press. ISBN 978-0-231-07434-6. OCLC 23732543.
- ↑ Schaller, Dominik J.; Zimmerer, Jürgen (2009). Late Ottoman genocides: the dissolution of the Ottoman Empire and Young Turkish population and extermination policies. Routledge. ISBN 978-0-415-48012-3. OCLC 263294453.
- ↑ "Armenian National Institute -- ARABIC LANGUAGE ARMENIAN GENOCIDE SOURCE MATERIALS NOW AVAILABLE ON ARMENIAN NATIONAL INSTITUTE WEBSITE". www.armenian-genocide.org. Diakses tanggal 2024-08-31.
- ↑ Shirinian, George N. (2015). "Turks Who Saved Armenians: Righteous Muslims during the Armenian Genocide". Genocide Studies International. 9 (2): 208–227. doi:10.3138/gsi.9.2.03. JSTOR 26986023. S2CID 163938263.
- ↑ Willman, Gabriel (2013-08-01). "From Pre-Islam to Mandate States: Examining Cultural Imperialism and Cultural Bleed in the Levant". Him 1990–2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 April 2023. Diakses tanggal 25 April 2023.
When Sayyid Hussein bin Ali, the Sharif of Mecca, and the Hashemites organized an "Arab" revolt during World War II, he garnered support from across the entire region, including the Levant. By the fall of the Ottoman Empire, the Arabization of the Levant had reached the point that the traditional tribal leadership was willing to accept the rule of the Hashemite family of Arabia.
- ↑ Shamir, Shimon (1974). "Midhat Pasha and the Anti-Turkish Agitation in Syria". Middle Eastern Studies. 10 (2): 115–141. doi:10.1080/00263207408700268. JSTOR 4282523.
- ↑ Farah, Caesar A. (2010). Arabs and Ottomans: a Checkered Relationship. Piscataway, NJ: Gorgias Press. ISBN 978-1-4632-2544-5. OCLC 1110716800.
- ↑ ʿAllāwī, ʿAlī A. (2014). Faisal I of Iraq. New Haven (Conn.): Yale University Press. ISBN 978-0-300-12732-4.
- ↑ Friedman, Isaiah (2012). British miscalculations: the rise of Muslim nationalism, 1918-1925. New Brunswick N.J: Transaction Publishers. ISBN 978-1-4128-4749-0.
- 1 2 3 Avi Shlaim (2008). Lion of Jordan. Penguin Books, Ltd. ISBN 978-0-14-101728-0.
- 1 2 Teitelbaum, Joshua (1998). "Sharif Husayn ibn Ali and the Hashemite Vision of the Post-Ottoman Order: From Chieftaincy to Suzerainty". Middle Eastern Studies. 34 (1): 103–122. doi:10.1080/00263209808701212. JSTOR 4283920.
- ↑ Low, Michael (16 July 2007). Empire of the Hajj: Pilgrims, Plagues, and Pan-Islam under British Surveillance, 1865–1926 (Thesis). doi:10.57709/1059628.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Xavier Baron: Les Palestiniens, Genèse d'une nation. p. 18.
- ↑ Gelvin, James L. (1998). Divided loyalties: nationalism and mass politics in Syria at the close of Empire. Berkeley: University of California Press. ISBN 978-0-520-91983-9. OCLC 44954757.[halaman dibutuhkan]
- ↑ "Key Documents | Balfour Project" (dalam bahasa Inggris (Britania)). 18 August 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 May 2023. Diakses tanggal 2023-05-16.
- ↑ Liah Greenfeld, ed. (2016). Globalisation of nationalism: the motive-force behind twenty-first century politics. Colchester: ECPR Press. hlm. 170. ISBN 978-1-78552-214-7. OCLC 957243120.
Politically, Pan-Arabism was first endorsed by Sharif Hussein bin Ali (1908–1917), the Sharif of Mecca, who wanted to gain independence from the Ottoman Empire.
- ↑ Hiro, Dilip (2012). A Comprehensive Dictionary of the Middle East (dalam bahasa Inggris). Interlink Publishing. hlm. 9.3500. ISBN 978-1-62371-033-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 May 2023. Diakses tanggal 21 December 2023.
By declaring an Arab revolt in 1916, Hussein bin Ali, the Hashemite governor of Hijaz [q.v.], became the leader of pan-Arabism, with a plan to see the Arab territories formed into a single independent Arab state after the defeat of the Ottomans. But this scenario contradicted the aims of the clandestine 1916 Sykes–Picot Pact [q.v.] signed by Britain and France.
- ↑ Ferro, Maurice (1947). "Puissance et Faiblesses do Monde". Hommes et Mondes. 3 (13): 657–673. JSTOR 44206763.
- ↑ Paris, Timothy J. (2003). Britain, the Hashemites and Arab Rule: The Sherifian Solution. Routledge. hlm. 21. ISBN 978-1-135-77191-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2023. Diakses tanggal 5 June 2019.
- ↑ Guerfi, Sarah (2023-07-12). "Les accords Sykes-Picot". La Revue d'Histoire Militaire (dalam bahasa Prancis). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2023. Diakses tanggal 2023-12-13.
- 1 2 Hawa, Salam (2017). The Erasure of Arab Political Identity: Colonialism and Violence (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 155 et seq. ISBN 978-1-317-39006-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2023. Diakses tanggal 25 October 2023.
- ↑ "Sharif Hussein and the campaign for a modern Arab empire | Aeon Essays". Aeon (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 September 2023. Diakses tanggal 2023-09-29.
- 1 2 3 4 ekinci, ekrem. "How Did the Turks Lose the Arab Lands?". www.ekrembugraekinci.com (dalam bahasa Turki). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 June 2024. Diakses tanggal 2024-06-14.
- ↑ Nevejans, Pierre (2017-05-10). "Agrégation d'histoire, agrégation de géographie et CAPES d'histoire-géographie Le Moyen-Orient de 1876 à 1980". Agrégation d'histoire, agrégation de géographie et CAPES d'histoire-géographie (dalam bahasa Prancis). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 December 2023. Diakses tanggal 19 December 2023.
Le chérif Hussein accompagne son mouvement insurrectionnel d'une proclamation officielle où il accuse les Ottomans d'impiété, mais sans aborder la question du nationalisme arabe
- ↑ editorial (2020-10-01). "The Hashimites and the Great Arab Revolt". The Review of Religions (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 December 2023. Diakses tanggal 2023-12-16.
- ↑ Guediri, Kaoutar (8 February 2013). A history of Anti-partitionist Perspectives in Palestine 1915–1988 (Thesis). hdl:10871/13970.
The willingness of the Ottoman government to depose Sayyed Hussein bin Ali, the Sharif of Mecca, only made the gap between the Hashemites and the Turks wider
- 1 2 Murphy, David (2008-11-18). The Arab Revolt 1916–18: Lawrence sets Arabia ablaze (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury US. ISBN 978-1-84603-339-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 June 2024. Diakses tanggal 14 June 2024.
- ↑ Murphy, hlm. 33–34.
- 1 2 3 4 5 Murphy, hlm. 34.
- ↑ Le Naour, Jean-Yves (2017). Djihad 1914–1918 (dalam bahasa Prancis). Éditions Perrin. doi:10.3917/perri.lenao.2017.01. ISBN 978-2-262-07083-0.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Le Naour, Jean-Yves (2017). Djihad 1914–1918: la France face au panislamisme. Paris: Perrin. ISBN 978-2-262-07083-0.
Au Hedjaz, l'émir Hussein tente de faire le ménage pour donner une image correcte de son pays. He fait tuer les chiens galeux, tente d'assurer la sécurité sur les routes pour ne plus livrer les pèlerins aux bandits qui pullulent, et cherche à dissimuler les marchés aux esclaves qui indignent les musulmans français. Officiellement interdits par le gouvernement turc en 1908, ces marchés sont tellement ancrés dans la culture locale qu'ils se poursuivent au vu et au su de tous. On y achète un homme, une femme ou un enfant pour une somme allant de 1 000 à 3 000 F.
- 1 2 Avetisyan, Vigen (2019-04-03). "The Unique Document of the Emir of Mecca from 1917: "Help the Armenians How You Would Help Your Brothers"". Art-A-Tsolum (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 December 2023. Diakses tanggal 2023-12-16.
- 1 2 Mouradian, Khatchig (2016-06-30). "Genocide and Humanitarian Resistance in Ottoman Syria, 1915-1916". Études arméniennes contemporaines (dalam bahasa Inggris) (7): 87–103. doi:10.4000/eac.1023. ISSN 2269-5281.
- ↑ "Le Temps". Gallica (dalam bahasa Inggris). 1916-11-12. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 December 2023. Diakses tanggal 2023-12-17.
- ↑
- ↑ "Sunan Abi Dawud 3052 –Tribute, Spoils, and Rulership (Kitab Al-Kharaj, Wal-Fai' Wal-Imarah) – كتاب الخراج والإمارة والفىء – Sunnah.com – Sayings and Teachings of Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم)". sunnah.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 December 2023. Diakses tanggal 2023-12-18.
- ↑ "Al-Husayn Ibn 'Ali, Sharif of Mecca". www.armenian-genocide.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 December 2022. Diakses tanggal 2024-06-14.
- ↑ Musharbash, Randa (2018). "Armenian Diaspora in Jordan between the 'Myth of Return' and Reality in Transnationalism Era Randa Musharbash". Humanities and Social Sciences Review. 8 (2): 511–518. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 December 2023. Diakses tanggal 21 December 2023.
- ↑ Gregorian, Alin K. (2018-09-27). "'Crows of the Desert' Sheds Light on Little-Known Hero of the Genocide". The Armenian Mirror-Spectator (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 December 2023. Diakses tanggal 2023-12-17.
- 1 2
- ↑ Yotnakhparian, Levon; Chinpashean, Ishkhan; Parian, Levon; Parian, Benjamin (2012). Crows of the desert: the memoirs of Levon Yotnakhparian. Tujunga (Calif.): Parian photographic design. ISBN 978-0-9671782-0-2.
- ↑ "A Journey Through the Armenian Genocide", by Melina Paris, March 17, 2017, https://www.randomlengthsnews.com/archives/2017/03/17/journey-armenian-genocide-crows/16602
- 1 2
- 1 2 "Peacemaker: The legacy of King Hussein of Jordan". Middle East Eye (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 December 2023. Diakses tanggal 2023-12-17.
- ↑ Guediri, Kawthar (2016-10-21). "The McMahon–Hussein Correspondence – Phase one of the Middle East Partition Process". Orient XXI (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2020. Diakses tanggal 2023-05-16.
- 1 2 Bolton, Kerry R (2015). "Western Duplicity And Middle East Crises". World Affairs: The Journal of International Issues. 19 (2): 72–85. JSTOR 48505233.
Hussein for his part was willing to allow Jews to settle in Palestine and give them access to the Holy Places, but would not accept a Jewish state.
- ↑
- ↑ Abu-Lebdeh, Hatem Shareef (1997). Conflict and Peace in the Middle East: National Perceptions and United States-Jordan Relations. University Press of America. ISBN 978-0-7618-0812-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 December 2023. Diakses tanggal 12 November 2020.
- 1 2 3 4 5
- 1 2 The Papers of Al-Sharif Hussein Bin Ali, Documents published together for the first time, Ghazi bin Muhammad, Mohammad Yunes Al-Abbadi, Lamya Al-Khraisha. ISBN 978-9957-635-52-7, 2020, Royal Library of Jordan
- ↑ Strohmeier, Martin (3 September 2019). "The exile of Husayn b. Ali, ex-sharif of Mecca and ex-king of the Hijaz, in Cyprus (1925–1930)". Middle Eastern Studies. 55 (5): 733–755. doi:10.1080/00263206.2019.1596895. S2CID 164473838.
- ↑
- 1 2 Moubayed, Sami (2022-12-01). "الشريف حسين بن علي". الموسوعة الدمشقية (dalam bahasa Arab). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 May 2023. Diakses tanggal 2023-05-17.
- ↑ Kaplan, Robert D. (2001). Eastward to Tartary : travels in the Balkans, the Middle East and the Caucasus. New York : Vintage departures. p. 205 ISBN 978-0-375-70576-2.
- ↑ Masalha, Nur (2022). Palestine Across Millennia. Bloomsbury. hlm. 160. ISBN 978-0-7556-4296-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2023. Diakses tanggal 21 June 2022.
Al-Madrasa al-Arghuniyya: endowed and built by amir Arghun al-Kamili in 1358 (it now houses the tombs of the founder and Sharif Hussein ibn Ali, the Sharif of Mecca and leader of the Arab Revolt during the First World War).
- ↑ Muhammad Rafi (1964). Mecca in the XIVth century after the Hegire / مكة في القرن الرابع عشر الهجري (dalam bahasa Arab). Mecca. hlm. 291. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
- ↑ IslamKotob. الشريف الحسين الرضي والخلافة لنضال داود المومني (dalam bahasa Arab). IslamKotob. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2023. Diakses tanggal 5 June 2021.
- ↑ Kay 2020, hlm. 78.
- ↑ Aida Ali Najjar (1975). The Arabic Press and Nationalism in Palestine, 1920-1948 (PhD thesis). Universitas Syracuse. hlm. 42. ISBN 978-1-08-385146-8. ProQuest 288060869.
- ↑ "Aḥmad Shawqī | Egyptian poet". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 June 2023. Diakses tanggal 2023-06-26.
- ↑ شوقي, أحمد. "لك في الأرض والسماء مآتم – أحمد شوقي". الديوان (dalam bahasa Arab). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 July 2017. Diakses tanggal 2023-06-26.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Orang | |