Bukti arkeologis keberadaan Mbah Wasil dapat dilihat melalui prasasti yang terletak di balik gapura makam. Di antara ornamen bermotif sulur dan medalion, terdapat lempengan batu dengan tulisan berbahasa Arab. Jika diterjemahkan, bunyi kalimatnya yaitu “Ini makam imam yang sempurna, seorang alim mulia yang saleh, yang menghafal Kitab Allah Maha Tinggi, yang menyempurnakan syariat Nabi”.[2]
Dari prasasti ini pula kata “Wasil” yang berarti saleh disematkan, hingga masyarakat mengenal pusara ini sebagai makam Mbah Wasil. Prasasti ini juga menerangkan asal-usul Mbah Wasil yang berasal dari al-Abarkuhi atau Abarkuh, kota kecil di Persia yang kini disebut Iran. Di bagian akhir inkripsi sebenarnya terdapat tahun yang bisa menjelaskan tahun wafatnya Mbah Wasil, namun sayang tulisan itu rusak.[3]
Syekh Syamsuddin Al-Wasil lahir sekitar Abad ke-12 Masehi. Ia adalah ulama besar asal Negeri Rum (Persia). Beliau mempunyai beberapa nama lain diantaranya:
Pangeran Makkah
Pangeran Arab
Pangeran Ngerum
Syekh Wasil
Mbah Wasil
Raja Pandhita
Maulana Ngali Syamsujen atau Maulana Ali Syamsuddin
Wafat
Makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil terletak di kompleks makam Setono Gedong, Kediri. Kompleks makam ini terletak di dalam Kota Kediri, tepatnya di pusat kota yang bisa dicapai dari Jalan Dhoho belok ke kanan, masuk kampung Setono Gedong. Sekitar 100 meter dari ujung kampung, terletak Masjid Setono Gedong. Kompleks makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil terletak di barat laut masjid
Makam Mbah Wasil Setono Gedong
Referensi
↑Sunyoto, Agus (Cetakan VIII, Januari 2018). Atlas Wali Songo. Pustaka IIMAN dan LESBUMI PBNU. hlm.64. ISBN978-602-8648-18-9.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)