Pustaka Weda
Sebagai asura, Swarbanu disebutkan dua kali dalam kitab Regweda.[8] Diceritakan bahwa Swarbanu pernah menyerang Dewa Surya, menyelimuti sang dewa Matahari dengan kegelapan.[9] Ia juga menyerang Bulan dengan senjatanya.[10] Seniman Stella Kramrisch menyatakan bahwa cerita tersebut menggambarkan Swarbanu sebagai sosok yang lebih besar daripada Matahari.[1] Kemudian Dewa Indra sang penguasa surga melumpuhkan Swarbanu. Resi Atri menyelamatkan dewa Matahari yang tertawan, lalu menempatkannya kembali di langit.[8][10]
Kisah Swarbanu juga disebutkan dalam pustaka Yajurweda dan Brahmana.[8] Menurut kitab-kitab Brahmana, Swarbanu menyerang Aditya (nama lain Surya, dewa Matahari) dengan kegelapan, lalu sang dewa dibebaskan dengan kekuatan swara.[11]
Pustaka Purana dan lainnya
Pustaka Purana menyatakan bahwa para asura sering berseteru dengan para dewa. Dalam Warahapurana, Swarbanu merupakan salah satu asura yang menghadapi delapan Wasu (golongan dewata) dalam suatu pertempuran yang dimulai oleh Mahisasura.[5]
Menurut mitologi Hindu, pada suatu zaman, para dewa dan asura pernah menjalin persekutuan untuk memperoleh ramuan keabadian yang disebut tirta "amerta". Ramuan tersebut diperoleh dengan cara mengaduk Ksirasagara ("Lautan Susu"). Selama proses pengadukan―yang disebut dengan istilah "Samudramantana"―banyak harta bermunculan yang diklaim para dewa. Saat tirta amerta muncul, para dewa pun mengeklaimnya tetapi asura mengeluh sebab sebelumnya para dewa sudah mengeklaim banyak harta. Wisnu turun tangan sebagai penengah dengan berubah wujud menjadi Mohini. Ia membagi-bagikan amerta hanya kepada para dewa.
Swarbanu menyamar sebagai dewa dan turut mengantre pembagian amerta. Berkat kecemerlangan mata Dewa Surya (Aditya) dan Candra (Soma), penyamaran Swarbanu diketahui, lalu mereka melaporkannya kepada Wisnu. Ketika Swarbanu sedang menenggak tirta amerta, Cakra Sudarsana memenggal kepalanya. Meskipun kepala dan tubuhnya telah terpisah, dia tetap hidup―bahkan abadi―karena tirta amerta telah mencapai kerongkongannya. Dirinya pun terbagi menjadi dua entitas: kepalanya berubah menjadi Rahu, sedangkan badannya menjadi Ketu.[12][13]
Kisah Samudramantana serta pemenggalan Rahu juga tercatat dalam wiracarita Hindu Mahabharata, tepatnya pada himpunan pertama yang berjudul Adiparwa, bagian "Astikaparwa". Berbeda dengan versi Purana lainnya, badannya tidak berubah menjadi Ketu, melainkan jatuh ke Bumi dan mengakibatkan gempa dahsyat.[14] Menurut Mahabharata, Dewa Surya dinyatakan sebagai "musuh Swarbanu".[15][16]
Dalam bab "Bhumiparwa" dari Bhismaparwa yang membahas tentang kondisi dunia dan langit menurut kosmologi Hindu, Swarbanu disebutkan sebagai suatu "benda langit" dengan diameter dan keliling yang lebih besar daripada Bulan.[17]