Suran Mbah Demang merupakan sebuah tradisi tahunan yang diselenggarakan di Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara ini bertujuan untuk memperingati sosok Mbah Demang, atau Ki Demang Cokrodikromo, yang dihormati sebagai tokoh leluhur setempat. Tradisi ini berlangsung setiap tanggal 7 Sura menurut penanggalan Jawa dan terdiri dari serangkaian acara, termasuk kirab pusaka, pembagian udik-udik, serta berbagai pertunjukan kesenian daerah.[1] Upacara tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai budaya, tetapi juga sebagai ungkapan penghormatan dan wujud syukur masyarakat Desa Banyuraden.[2]
Sejarah
Cokrodikromo semasa kecil bernama Asrah, merupakan putra seorang bekel (kepala dusun). Berbeda dari ekspektasi status sosialnya, Asrah kecil tumbuh sebagai anak yang nakal dan kerap membuat malu keluarganya. Ia kemudian diserahkan untuk dididik oleh Demang Dawangan, seorang pejabat pemerintahan yang dikenal tegas dan disiplin. Selama berada dalam pengawasan Demang Dawangan, Asrah diberi tugas menggembala itik dan mengumpulkan kayu bakar.[3]
Saat beranjak dewasa, Demang Dawangan memerintahkan Asrah untuk melaksanakan laku tapa selama satu bulan penuh. Selama masa pertapaan ini, Asrah bertemu dengan berbagai sosok bijak yang mengajarkannya makna sejati dari kehidupan dan memberikan sebuah kitab sebagai bekal spiritual. Pada akhir masa pertapaan, ketika Asrah berada di ambang hidup dan mati, Demang Dawangan memberikan tetesan air kanji untuk memulihkannya. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Asrah berhasil menemukan kembali kitab yang ia dapatkan selama bertapa, yang akhirnya ditemukan di tepi Kali Bedog.[3]
Setelah melewati masa pertapaan dan menerima kitab tersebut, Asrah tumbuh menjadi sosok yang sakti dan berwibawa. Ia kemudian diangkat sebagai mandor di sebuah perkebunan tebu, hingga akhirnya menjabat sebagai Demang di pabrik gula daerah Demak Ijo dengan nama Demang Cokrodikromo.[3]
Selama masa jabatannya, Ki Demang Cokrodikromo tetap menjalankan berbagai laku spiritual, termasuk berpantang garam, melakukan tapa bisu dengan mengelilingi rumahnya, serta mandi khusus setiap tahun pada tanggal 7 Sura tengah malam. Ia juga dikenal sebagai tuan rumah yang ramah, dengan kebiasaan menjamu para tamunya dengan hidangan khas, yakni kendi berisi air, nasi yang dibungkus daun pisang, lauk ketan tholo, dan gudangan (sayuran rebus dengan parutan kelapa berbumbu pedas). Ritual ini kemudian menjadi cikal bakal dari tradisi Suran Mbah Demang yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.[3]