Sungai Geumho (bahasa Korea: 금호강, Geumho-gang) merupakan salah satu sungai utama di Provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan, yang bermuara ke Sungai Nakdong. Sungai ini bermula dari daerah perbukitan di bagian barat Pong dan mengalir sejauh sekitar 116 kilometer ke arah barat sebelum bertemu dengan Sungai Nakdong di wilayah barat Daegu. Daerah alirannya mencakup lebih dari 2.000 kilometer persegi. Salah satu anak sungainya yang terkenal adalah Sungai Sincheon, yang mengalir ke arah utara melalui pusat kota Daegu. Nama “Geumho-gang” secara harfiah berarti “sungai danau berbentuk kecapi,” mengacu pada bentuk lengkung sungai di bagian utara Daegu. Saat ini, sebagian besar tepian sungai di Daegu telah dikembangkan menjadi area taman kota.
Kondisi ekologis
Sungai Geumho dikenal sebagai salah satu sungai yang paling tercemar di Korea Selatan, terutama akibat limbah industri dari kegiatan pencelupan berskala besar di sekitarnya. Hal ini menjadi perhatian serius karena Geumho merupakan anak sungai dari Sungai Nakdong. Berdasarkan sistem penilaian kualitas air pemerintah Korea, sampel air dari Geumho secara konsisten menunjukkan nilai rendah.[1] Banyak warga menuding bahwa penurunan kualitas air tersebut disebabkan oleh pembangunan kompleks industri Wicheon. Pada tahun 2008, Kantor Lingkungan Regional Daegu mengumumkan rencana restorasi ekologi untuk memperbaiki kondisi sungai, termasuk peningkatan sirkulasi air serta pemulihan ekosistem perairannya.[2]
Upaya perbaikan
Pemerintah Kota Daegu meluncurkan “Geumho River Renaissance Project” untuk memulihkan dan menghidupkan kembali Sungai Geumho melalui berbagai inisiatif terpadu. Program ini mencakup pembangunan jalur ekologi nasional yang menghubungkan lahan basah Ansim, lahan basah Geumgang, dan lahan basah Palhyeon, lengkap dengan menara pengamatan burung dan dek observasi agar masyarakat dapat menikmati keindahan alam serta mempelajari sejarah dan budaya sungai.[3] Selain itu, proyek ini meliputi pengembangan kawasan wisata air dan budaya melalui program “D-Ark Cultural Tourism Revitalization”, yang mencakup pembangunan jembatan pejalan kaki sepanjang 435 meter di titik pertemuan Sungai Geumho dan Nakdong serta penambahan fasilitas publik seperti kafe, area rekreasi, dan air mancur.[4] Revitalisasi tepi sungai juga dilakukan dengan restorasi biotop, pembangunan area pantai buatan, dan wahana air untuk meningkatkan fungsi ekologi serta nilai sosial kawasan.[5] Sebagai bagian dari upaya pemulihan kualitas air, sistem pengelolaan limbah dan drainase kota turut ditingkatkan dengan penerapan teknologi berbasis ICT untuk mengurangi pencemaran dari limpasan limbah dan air hujan.[6]