Hasil meta-analisis terhadap lima belas penelitian yang mengamati laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki tidak menemukan cukup bukti bahwa sunat laki-laki melindungi mereka dari infeksi HIV atau penyakit menular seksual lainnya. CDC menyimpulkan, "Belum ada data yang meyakinkan untuk membantu menentukan apakah sunat laki-laki akan berdampak terhadap risiko HIV bagi laki-laki yang melakukan seks anal dengan pasangan perempuan atau laki-laki, baik itu pihak yang memasukkan ataupun yang menerima."[6]
Mekanisme aksi
Bukti dari percobaan mendukung teori bahwa sel Langerhans (bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia) di kulup penis dapat menjadi sumber masuknya virus HIV.[7] Dengan disunatnya kulup tersebut, pintu masuk utama bagi HIV juga dihilangkan.
↑Siegfried, Nandi, ed. (April 2009). "Male circumcision for prevention of heterosexual acquisition of HIV in men". The Cochrane Database of Systematic Reviews (Review) (2): CD003362. doi:10.1002/14651858.CD003362.pub2. PMID19370585.