Menjadi Murid Sunan Kalijaga
Pada suatu saat Sunan Kalijaga mendekati Adipati Pandanarang II untuk berdialog dan bermusyawarah yang intinya untuk mengikuti jejak mendiang ayahnya sebagai Ulama.
Setelah bermusyawarah, Sunan Kalijaga kemudian pulang ke Demak untuk mengadakan pertemuan dengan para wali. Intinya untuk mencari seorang wali sebagai pengganti Syeh Siti Jenar agar jumlah wali tetap 9 (sembilan).
Dalam musyawarah itu Sunan Kalijaga mengatakan bahwa pengganti Syeh Siti Jenar itu sudah ada tetapi belum waktunya.
Menurut Sunan Kalijaga besok pengganti Syekh Siti Jenar adalah Adipati Pandanarang II. Untuk menggantikan seorang wali perlu diadakan pengujian diri sebagai bekal menjadi wali. Hal ini agar beliau terketuk hatinya mau bertobat dan meninggalkan hal-hal duniawi dan menjadi seorang Ulama.
Selanjutnya Sunan Kalijaga pergi ke Semarang untuk menguji Adipati Pandanarang II dengan menyamar sebagai tukang rumput (penjual rumput alang-alang) yang menawarkan rumput kepada Adipati Pandanarang II.
Setelah rumput atau alang-alang yang segar dibawa, kemudian Adipati menawar dengan harga murah yaitu 25 ketheng. Tawaran disetujui dan alang-alang diberikan kepada Adipati dan kemudian dibongkar.
Adipati Pandanarang II sangat terkejut karena didalam ikatan rumput alang-alang terdapat suatu barang yang disebut kandelan (sarung tempat keris yang terbuat dari emas). Barang yang ada dalam ikatan rumput itu kemudian diambil oleh Adipati Pandanarang II.
Hal ini sebetulnya oleh Sunan Kalijaga untuk menyindir Adipati tetapi beliau tidak merasa. Maksud dari alang-alang adalah sebagai rintangan, sedangkan kandelan asal kata andel yang artinya percaya pada saya (Sunan Kalijaga).
Karena dengan percobaan (ujian) pertama ternyata belum bisa menggugah hati Sang Adipati, maka oleh Sunan Kalijaga diberikan ujian yang kedua.
Pada waktu Adipati Pandanarang II mengundang para adipati dari pesisir untuk menyaksikan selesainya pembangunan rumah megah di kadipaten, pada waktu itu Sunan Kalijaga datang dengan menyamar sebagai orang muslim yang berpakaian sederhana. Pada saat Sunan Kalijaga yang telah menyamar datang, tidak disambut oleh Sang Adipati bahkan mengabaikan kedatangannya.
Sunan Kalijaga kemudian keluar pendopo dan masuk lagi dengan penampilan sebagai seorang kaya dan mewah. Melihat ada tamu berpenampilan mewah, Sang Adipati menyambut dengan hormat dan memberi tempat terhormat seperti tamu bangsawa yang lain.
Bahkan, tamu tadi (Sunan Kalijaga) dimintai pendapatnya tentang rumah mewah yang selesai dibangun, tamu menjawab bahwa bangunan rumah tersebut sudah sangat mewah bahkan tidak ada yang menandingi. Setelah itu tamu tadi keluar dan berganti pakaian biasa dan jelek seraya meninggalkan tempat pesta Adipati Pandanarangg II.
Dari ujian tersebut, Adipati Pandanarang II ternyata belum juga menyadari dan mengerti atas sindiran-sindiran Sunan Kalijaga. Akan tetapi Sunan Kalijaga tidak putus asa dan tetap selalu berusaha menyadarkan Sang Adipati.
Sunan Kalijaga kembali mendatangi Adipati dan kali ini menyamar sebagai seorang peminta-minta. Beberapa kali bupati melemparkan koin padanya tetapi pengemis itu tidak juga pergi.
Melihat hal itu, Adipati pun murka. Di saat itu pula pengemis tadi menjelaskan niat kedatangannya ke hadapan Adipati. Pengemis itu datang bukan untuk uang melainkan untuk mendengar suara bedug pertanda waktu sholat tiba.
Setelah itu, pengemis tadi melemparkan tanah yang digenggamnya ke arah Adipati. Adipati terkaget-kaget dengan apa yang dilihatnya saat itu. Tanah yang tadi dilempar oleh pengemis berubah menjadi sebongkah emas sesaat setelah dia tangkap.
Sejak saat itulah, Adipati mendapatkan pencerahan tentang kehidupan dunia yang hanya bersifat sementara. Barulah kemudian Adipati Pandanarang II mengerti apa yang dimaksudkan Sunan Kalijaga dan bersedia dibimbing oleh beliau.
Namun sebelum lebih jauh lagi, Sunan mengajukan empat syarat pada Adipati jika dia ingin menjadi muridnya. Keempat syarat tadi adalah:
- Bupati harus berdoa dengan rutin dan mengajarkan Islam, mengajak semua penduduk yang berada di wilayah kekuasaanya masuk ke agama Islam.
- Adipati harus memberi makan santri dan ulama, membuat bedug di langgar-langgar.
- Memberi dan menyumbang dengan ikhlas dan menyerahkan kekayaannya pada yang membutuhkan dalam bentuk zakat.
- Ikut pulang ke rumah Sunan Kalijaga dan menjadi orang yang bersedia menyalakan lampu rumah Sunan Kalijaga.
Dan barulah setelah itu kisah Adipati Pandhan Aran II berlanjut untuk menuntut ilmu pada Sunan Kalijaga di Jabalkat, Bayat.
Kemudian Jabatannya di Semarang diteruskan oleh Adiknya Raden Nenggaksemi yang kemudian bergelar Kyageng Pandhan Aran.
Yang dimakamkan di Semarang itu Raden Nenggaksemi, Sedangkan Sunan Tembayat dimakamkan di Hastana Kembang, Tembayat, Klaten
Asal Usul Kota Salatiga
Perjalanan Panjang dari Semarang Menuju Gunung Jabalkat Perjalanan yang penuh dengan petualangan ditempuh Sunan Tembayat dengan jarak kurang lebih 120 km.
Dalam perjalanan tersebut, Nyi Ageng Kaliwungu memilih ikut bersama suaminya. Namun tidak sepenuhnya Nyi Ageng Kaliwungu dapat meninggalkan segala kekayaan yang dimiliki seperti yang dilakukan Sunan Tembayat.
Dalam perjalanan itu, dia memasukkan beberapa perhiasan dalam tongkat bambu yang dibawanya dengan maksud untuk berjaga-jaga selama di perjalanan. Apa yang dilakukan istrinya ternyata menuntun pada sebuah perkenalan dengan dua perampok yang nantinya menjadi pengikut setia Sunan Tembayat.
Hal itu berawal ketika mereka sampai pada suatu daerah (kini Salatiga) dan di sana mereka dihentikan oleh dua orang perampok bernama Sambang Dalan dan dua orang rekannya.
Saat mereka meminta harta benda, Sunan Tembayat yang tidak membawa apa-apa menyuruh dua perampok tadi mengambil bambu yang dibawa istrinya. beliau juga mengatakan bahwa isi dalam bambu itu cukup untuk memenuhi kebutuhan seumur hidup mereka dan juga berpesan agar mereka tidak melukai istrinya.
Namun, sifat serakah para perampok makin menjadi karena mengira istrinya pasti membawa barang berharga lainnya. Kedua perampok tadi pun mulai menggeledah istri Sunan Tembayat untuk menemukan benda berharga lainnya. Seketika pula istri Sunan Tembayat berteriak minta pertolongan.
Dari kejadian ini dipercaya nama kota Salatiga berasal. Saat itu Sunan Tembayat berkata, “Wong salah kok isih tega temen” (Sudah berbuat salah tetap saja tega). Dan beliau juga menyebut bahwa mereka bertiga telah berbuat salah. Dan kemudian lokasi perampokan itu disebut Salatiga yang berasal dari kata “salah” dan “tiga”, Salahtiga (Salatiga).
Dari kejadian itu juga perampok yang menghentikan perjalanan mereka mendapatkan pelajaran. Sambang Dalan disebut oleh Sunan Tembayat telah berbuat keterlaluan seperti domba (hewan) dan seketika itu pula wajahnya berubah menyerupai domba.
Rekan dari Sambang Dalan ketakutan melihat kejadian itu hingga tubuhnya gemetaran (Jawa – ngewel). Saat itu juga berubah menyerupai ular.
Mereka berdua akhirnya menyesali perbuatan mereka dan memohon ampun. Mereka juga berjanji untuk mengabdi dan setia kepada Sunan Tembayat dan akan ikut dalam perjalanan menuju Jabalkat. Dua perampok tadi akhirnya menjadi pengikut pertama Sunan Tembayat dan dijuluki sebagai Syekh Domba (Sambang Dalan) dan Syekh Kewel (yang ngewel dan berwajah ular).
Asal Usul Kabupaten Boyolali
Cerita perjalanan Sunan Tembayat berlanjut saat mereka sampai ke daerah yang sekarang dikenal dengan nama Boyolali. Di daerah itu beliau yang berjalan di depan meninggalkan jauh istri yang menggendong anaknya.
Hingga pada akhirnya karena kelelahan di tengah terik matahari Sunan Tembayat duduk beristirahat di atas batu besar menunggu rombongannya yang tertinggal.
Dari kejadian ini Nyi Ageng Kaliwungu kemudian berujar, “Karo bojo mbok ojo lali” (Jangan lupa dengan istri). Dan setelah kejadian tersebut nama Boyolali yang dipercaya berasal dari frasa “mbok ojo lali” mulai digunakan untuk menyebut daerah itu.
Asal Usul Kecamatan Wedi
Di tempat ini Adipati memilih untuk menetap dan bekerja sementara sebelum kembali melanjutkan perjalanannya. Dua pengikut setianya, Syekh Domba dan Syekh Kewel, diminta untuk menetap di gunung untuk menjalankan meditasi hingga Sunan Tembayat kembali akan melanjutkan perjalanan. Di daerah ini beliau bekerja pada seorang juragan beras bernama Kyai Tasik.
Suatu hari saat beliau diminta untuk mencari beras oleh majikannya dan bertemu dengan seorang penjual di jalan. Penjual itu membawa gerobak dan akan menuju pasar.
Ketika ditanya apakah dia membawa beras, penjual tadi mengatakan tidak. Dia berbohong pada Sunan Tembayat karena tidak mau menjual beras kepada beliau dan justru mengatakan dia sedang membawa wedi (pasir).
Penjual itu kemudian melanjutkan perjalannya ke pasar untuk menjual berasnya. Namun dia sangat terkejut ketika sampai di pasar dan membongkar muatannya. Dia mendapati semua beras yang dibawanya telah berubah menjadi wedi, persis seperti apa yang dikatakannya pada Sunan Tembayat.
Karomah Sunan Bayat
Kejadian berikutnya adalah saat Adipati membantu istri majikannya, Nyi Tasik, untuk berjualan makanan di pasar.
Suatu hari, setibanya di pasar untuk berjualan sama seperti setiap harinya, Nyi Tasik lupa membawa kayu bakar. Nyi Tasik kemudian memarahi Sunan Tembayat karena hal itu dan saat menghadapi hal itu beliau justru menawarkan tangannya sebagai pengganti kayu bakar.
Sesaat kemudian Adipati meletakan tangan di tungku masak dan seketika itu pula api menyembur dari tangannya seperti kayu yang terbakar api. Setelah kejadian itu, Nyi Tasik menjadi salah satu pengikut Sunan dan turut dalam perjalanan ke Gunung Jabalkat.
Memindahkan Air menggunakan Keranjang Bambu
Kisah terakhir Sunan Tembayat di Wedi adalah saat beliau menjadi tukang pengisi air wudhu. Suatu hari saat menjalankan tugasnya beliau menggunakan keranjang bambu untuk mengisi air dalam padasan (gentong tempat menyimpan air wudhu).
Tentu saja semua orang terkejut melihat kejadian itu karena mereka mendapati tidak setetes air pun keluar melalui sela rajutan bamboo yang digunakan Sunan Tembayat untuk mengisi padasan. Setelah terisi penuh, Sunan Tembayat melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Jabalkat.
Dalam perjalanan itu tidak lupa menjemput kedua pengikut setianya, Syeh Domba dan Syeh Kewel, dari tempat meditasi mereka.
Kemunculan Sumber Air
Cerita itu diawali, ketika anaknya sedang menangis karena kehausan. Sunan Tembayat tidak dapat menemukan sumber mata air di kawasan itu, dan kemudian sebuah peristiwa magis terjadi.
Terdapat dua versi cerita tentang bagaimana kejadian ini berlangsung, yaitu: Ada yang percaya bahwa Sunan Tembayat menggunakan tongkatnya untuk memunculkan sumber mata air di lokasi tadi.
Beliau menghujamkan tongkatnya hingga air mengucur dan tidak berhenti keluar dari lubang itu hingga membentuk sumur.
Cerita lain yang juga dipercaya warga di sana saat ini adalah Sunan Tembayat menggunakan kukunya untuk memunculkan sumber air.
Beliau menggoreskan kukunya ke tanah. Dan seketika itu juga dari bekas goresan kukunya menyembur air hingga membentuk genangan air. Dari genangan itu kemudian anak dan istrinya dapat mengobati rasa haus mereka tadi.
Konon genangan air jejak dari kesaktian itu adalah Sendang Kucur yang terdapat di dalam hutan angker Kucur yang terletak di Paseban, Bayat, Klaten.
Menerima Tantangan Prawira Sakti
Sunan Bayat menerima tantangan Prawira Sakti untuk melakukan uji kewibawaan. Beberapa tantangan dilakoni oleh Sunan Tembayat dan yang pertama adalah tantangan untuk menangkap merpati yang dilepas ke udara oleh Prawira.
Yang dilakukan beliau untuk menangkap merpati itu adalah dengan hanya melemparkan sandal kayunya. Dan dengan sekali lempar burung itu berhasil dijatuhkan.
Tantangan kedua adalah menangkap topi yang oleh Prawira dilempar ke langit jauh hingga tak terlihat oleh mata. Dengan sebelah sandal kayu yang masih ada Sunan berhasil dengan sangat mudah mengenai topi itu dan lolos tantangan kedua.
Pada tantangan ketiga Sunan ditantang untuk mencari keberadaan Prawira yang bersembunyi. Keberadaan Prawira tidak tampak karena dia bersembunyi dengan cara yang tidak biasa.
Namun, dengan mudah Sunan berhasil menemukan keberadaan Prawira yang bersembunyi di bawah sebongkah batu besar.
Setelah tiga tantangan berhasil dilalui dengan mudah oleh Sunan Tembayat. Kini giliran beliau memberikan satu tantangan pada Prawira. Dan sekarang menjadi giliran Prawira untuk mencari keberadaan Sunan Tembayat yang bersembunyi.
Dan Prawira Sakti pun ternyata gagal memenangkan tantangan, karena tidak dapat menemukan Sunan Tembayat yang bersembunyi di antara kedua alisnya.