Sumur Dieng adalah sebuah sumur yang berlokasi di Desa Lemahputih, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, berjarak sekitar 8 km dari pusat kota Purwodadi. Nama 'Dieng' berasal dari kata teyeng (Bahasa Jawa, karat) karena pada saat pertama kali ditemukan, tempat ini berkarat karena kandungan besinya yang tinggi.[1]
Selain itu, air dari Sumur Dieng ini sendiri diyakini oleh masyarakat sekitar memiliki sebuah “keajaiban” atau manfaat yang luar biasa yang tidak dimiliki sumber air lain berupa airnya yang dapat digunakan untuk menyembuhkan beberapa penyakit dan memenuhi keinginan seseorang dengan hajat yang dia ajukan.[2]
Sejarah
Menurut cerita turun temurun warga, sebelumnya wilayah Desa Lemahputih merupakan wilayah hutan. Suatu hari ada seseorang yang lewat dan menemukan sumber air. Lalu orang tersebut mencuci bajunya menggunakan air tersebut. setelah itu, tiba-tiba bajunya berubah warna menjadi cokelat seperti karat (teyeng). Kemudian wilayah tersebut dibuka dan nama sumur tersebut diubah menjadi 'Dieng' untuk memudahkan pengucapan.
Tradisi
Sumur Dieng ini sendiri merupakan sumur yang disakralkan dan memiliki banyak manfaat bagi masyarakat. Salah satu alasan yang membuat Sumur Dieng ini menjadi sakral adalah sumur ini tidak pernah sama sekali mengalami kekeringan bahkan di musim kemarau sekalipun. Sumur ini juga menjadi sumber air utama di Desa Lemahputih sejak pertama kali ada hingga sekarang. Dalam tradisi desa, setiap 3 tahun sekali pada hari Kamis Kliwon bulan Agustus atau September diadakan festival untuk menguras sumur ini. Tradisi ini dilakukan untuk mensyukuri adanya sumur Dieng yang tak pernah kering.[2]
Prosesi ini diawali dengan upacara sedekah desa yang dilakukan dekat sumur. Usai selamatan, proses menguras sumur yang berada di bawah pohon beringin itu pun dimulai.
Proses menguras ini turut diiringi karawitan dengan lagu-lagu Jawa. Di sepanjang prosesi menguras sumur, para warga, dari anak-anak, dewasa hingga orangtua saling melempar dan melaburi lumpur rekannya. Meski tubuh berlumuran lumpur karena dilempar sesama warga, tidak ada yang marah. Pemandangan itu pun memberi hiburan tersendiri bagi ratusan warga lain yang menonton prosesi tersebut.[1]