Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari List of Sultans of Zanzibar di en.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel)
Pada 1698, Zanzibar menjadi bagian dari wilayah kekuasaan seberang laut dari Oman, yang jatuh di bawah kekuasaan Sultan Oman. Pada 1832,[2] atau 1840[3] (tanggal beragam menurut beberapa sumber), Said bin Sultan memindahkan ibu kotanya dari Muscat di Oman ke Stone Town. Ia mendirikan pemerintahan elit Arab dan mendorong pengembangan penanamancengkih, memakai buruh budak dari pulau tersebut.[4] Perdagangan Zanzibar makin jatuh ke tangan kaum pedagang dari anak benua India, yang mendorong Said untuk bermukim di pulau tersebut. Setelah ia wafat pada 1856, dua putranya, Majid bin Said dan Thuwaini bin Said, sama-sama ingin menjadi penggantinya, sehingga Zanzibar dan Oman terbagi menjadi dua kepangeranan terpisah; Thuwaini menjadi Sultan Oman sementara Majid menjadi Sultan Zanzibar pertama.[5] Selama 14 tahun masa pemerintahannya sebagai Sultan, Majid mengkonsolidasikan kekuasaannya atas perdagangan budak Afrika Timur. Penerusnya, Barghash bin Said, membantu meniadakan perdagangan budak di Zanzibar dan banyak mengembangkan infrastruktur negara tersebut.[6] Sultan ketiganya, Khalifa bin Said, juga melanjutkan perjuangan negara tersebut menuju peniadaan perbudakan.[7]
Sampai 1886, Sultan Zanzibar menguasai bagian substansial dari pantai timur Afrika, yang dikenal sebagai Zanj, dan rute dagang yang terbentang di sepanjang benua tersebut, sampai Kindu di Sungai Kongo. Pada tahun tersebut, Inggris dan Jerman diam-diam bertemu dan mendirikan kembali kawasan tersebut di bawah kekuasaan Sultan. Sepanjang beberapa tahun kemudian, sebagian besar wilayah daratan utama Kesultanan tersebut direbut oleh kekuasaan kekaisaran Eropa. Dengan penandatanganan Perjanjian Heligoland-Zanzibar pada 1890 saat masa pemerintahan Ali bin Said, Zanzibar menjadi protektorat Inggris.[8] Pada Agustus 1896, Inggris dan Zanzibar mengadakan sebuah perang 38 menit, terpendek dalam catatan sejarah, setelah Khalid bin Barghash berkuasa setelah kematian Hamid bin Thuwaini. Inggris ingin Hamoud bin Mohammed menjadi Sultan, meyakini bahwa ia akan memudahkan pekerjaannya. Inggris memberikan waktu sejam kepada Khalid untuk pergi dari istana Sultan di Stone Town. Khalid enggan untuk melakukannya, dan sebagai gantinya mengerahkan 2,800 pasukan untuk melawan Inggris. Inggris meluncurkan serangan ke istana tersebut dan lokasi lain di sekitar kota tersebut. Khalid mundur dan kemudian mengasingkan diri. Hamoud kemudian diangkat menjadi Sultan.[9]
Bertanggung jawab atas pembangunan sebagian besar infrastruktur di Zanzibar (khususnya Stone Town), seperti air yang dipipakan, kabeltelegraf, bangunan, jalan raya, dll. Membantu meniadakan perdagangan budak di Zanzibar dengan menandatangani perjanjian dengan Inggris pada 1870, melarang perdagangan budak di kesultanan tersebut, dan menutup pasar budak di Mkunazini.[6]
Mengeluarkan dekrit terakhir yang meniadakan perbudakan dari Zanzibar pada 6 April 1897.[15] Atas hal tersebut, ia diangkat menjadi kesatria oleh Ratu Victoria.
A Majid bin Said, putra bungsu Said bin Sultan, menjadi Sultan Oman setelah ayahnya meninggal pada 19 Oktober 1856. Namun, kakak Majid, Thuwaini bin Said, berniat untuk naik takhta. Setelah perjuangan atas kabatan tersebut. Zanzibar dan Oman dibagi menjadi dua kepangeranan terpisah. Majid akan berkuasa sebagai Sultan Zanzibar sementara Thuwaini akan berkuasa sebagai Sultan Oman.[20]
B Dari 1886, Britania Raya dan Jerman berniat untuk memasukkan Kesultanan Zanzibar ke kekaisaran mereka sendiri.[13] Pada Oktober 1886, sebuah komisi perbatasan Jerman-Inggris mendirikan Zanj sebagai jalur selebar 10 mil nautikal (19km) di sepanjang sebagian besar Afrika Timur, terbentang dari Tanjung Delgado (sekarang di Mozambik) sampai Kipini (sekarang di Kenya), yang meliputi Mombasa dan Dar es Salaam. Sepanjang beberapa tahun berikutnya, hampir semua wilayah daratan utamanya dikuasai kekuasaan kekaisaran Eropa.
CHamoud bin Mohammed, menantu Majid bin Said, mendadak menjadi Sultan Zanzibar setelah Hamid bin Thuwayni meninggal. Namun, Khalid bin Bhargash, putra dari Bargash bin Said, merebut istana Sultan dan mengangkat dirinya sendiri menjadi penguasa Zanzibar. Inggris, yang mendukung Hamoud, menanggapinya pada 26 Agustus dengan mengeluarkan sebuah ultimatum kepada Khalid dan pasukannya untuk meninggalkan istana dalam waktu satu jam. Setelah ia menolak, Royal Navy mulai menembakki istana tersebut dan lokasi lain di Stone Town. Khalid mengerahkan 2,800 pasukan dan menempatkan mereka di seluruh belahan kota tersebut. Tiga puluh delapan menit kemudian, Khalid mundur ke konsulat Jerman, dimana ia meraih suaka. Konflik tersebut, yang dikenal sebagai Perang Inggris-Zanzibar, adalah perang tersingkat dalam catatan sejarah. Khalid kemudian mengasingkan diri ke Dar es Salaam sampai ditangkap oleh Inggris pada 1916.[21][22]
DSetelah menghadiri pelantikan King George V, Ali memutuskan untuk turun takhta untuk tinggal di Eropa.[6][16]
E Abdullah bin Khalifah wafat akibat komplikasi diabetes.[6]
F Jamshid bin Abdullah lengser pada 12 January 1964 saat Revolusi Zanzibar.[23] Jamshid memutuskan untuk kabur ke Britania Raya dengan keluarganya dan para menterinya.[24]
Referensi
↑"Zanzibar (Sultinate)". Henry Soszynski. 5 March 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-03. Diakses tanggal 30 September 2012.
Turki, Benyan Saud (1997). "The Sultan of The Arab State of Zanzibar and The Regent 1902–1905". Journal of the Documentation and Humanities Research Center (9). Qatar University. hdl:10576/8375.