Sultan Yahya Petra Ibni Almarhum Sultan Ibrahim (10 Desember 1917–29 Maret 1979) merupakan Yang di-Pertuan AgongMalaysia yang keenam dari 1975 hingga kematiannya pada 1979. Ia juga menjabat sebagai Sultan Kelantan dari 1960 hingga 1979.
Kehidupan Awal
Ia dilahirkan pada 10 Desember 1917, sebagai Tengku Yahya Petra di Istana Balai Besar di Kota Bharu, Kelantan. Ia adalah putra kedua Sultan Ibrahim (lahir 1897; memerintah 1944–1960 ) dari istri ketiganya, Cik Embong binti Encik Daud (1899–1971).
Tengku Yahya Petra dibesarkan oleh pamannya yang tidak memiliki anak, Tengku Ismail (kemudian menjadi Sultan Ismail). Ia dikirim ke Sekolah Francis Light di Penang sebelum melanjutkan studinya di Inggris. Pamannya, Sultan Ismail, mengangkatnya sebagai Tengku Temenggong Kelantan pada 21 Juli 1939. Ia kemudian dipromosikan menjadi Tengku Bendahara Kelantan pada 6 Februari 1945 oleh ayahnya, Sultan Ibrahim. Ia bertugas di berbagai jabatan pegawai negeri sipil Kelantan dari tahun 1941 hingga 1948.
Sengketa Suksesi Kelantan
Tengku Indra Petra adalah putra sulung Sultan Ibrahim dan kakak laki-laki Sultan Yahya Petra. Setelah Sultan Ibrahim menggantikan saudaranya Sultan Ismail, Tengku Indra Petra diangkat sebagai pewaris takhta dengan gelar Raja Muda Kelantan pada tanggal 25 Oktober 1944. Akan tetapi, karena konflik dengan ayahnya, ia diberhentikan dari jabatannya dan dikeluarkan dari garis suksesi berdasarkan keputusan ayahnya pada tanggal 1 Februari 1948. Pada hari yang sama, Sultan Yahya Petra menggantikan saudaranya sebagai pewaris takhta dengan gelar baru Tengku Mahkota Kelantan .
Tengku Indra Petra menjadi seorang politikus dan terpilih sebagai Anggota Parlemen (MP) dalam pemilihan umum Malaya tahun 1955. Keturunan Tengku Indra sejak saat itu membantah pengecualian keluarga mereka dari garis suksesi Kelantan.
Tengku Indra Petra tidak memimpin pelantikan penerus Sultan Yahya Petra yaitu Sultan Ismail Petra , melainkan Tengku Panglima Raja Tengku Ahmad yang memimpin pelantikan Sultan Ibrahim, Sultan Yahya Petra dan Sultan Ismail Petra. Tengku Panglima Raja adalah ayah dari mantan Sultanah Johor, Sultanah Zanariah binti Tengku Ahmad.
Wakil Yang Di-Pertuan Agong
Sultan Yahya Petra menjabat sebagai Wakil Yang di-Pertuan Agong, wakil raja federal, antara 21 September 1970 dan 20 September 1975.
Yang Di-Pertuan Agong
Selama pemilihan Yang di-Pertuan Agong (Raja Malaysia) keenam, penguasa paling senior Sultan Ismail dari Johor menolak untuk dipertimbangkan. Sultan Yahya Petra juga menolak pencalonan pada awalnya karena menderita stroke serius, tetapi berubah pikiran dan terpilih. Masa jabatannya dimulai pada 21 September 1975.
Pemerintahan
Perdana Menteri kedua Malaysia Tun Abdul Razak meninggal pada 14 Januari 1976 kurang dari empat bulan setelah pemerintahan Sultan Yahya Petra sebagai Yang di-Pertuan Agong.
Pada tahun 1977 keadaan darurat diumumkan di negaranya sendiri menyusul krisis politik dan kekerasan.
Kemangkatan
Sultan Yahya Petra meninggal karena serangan jantung pada pukul 3:45 siang di Istana Negara pada tanggal 29 Maret 1979. Peti jenazahnya disemayamkan di Istana Negara selama satu hari dan kemudian dibawa dengan pesawat ke Kota Bharu di mana ia dimakamkan di Makam Kerajaan Kelantan.
Keluarga
Ia menikah dengan Tengku Zainab binti Tengku Sri Utama Raja Tengku Muhammad Petra (1917–1993), yang bergelar Raja Perempuan Zainab II (ibu mertuanya adalah Raja Perempuan Zainab I, permaisuri Sultan Ibrahim ) dan Raja Permaisuri Agong. Sultan Yahya Petra dan Raja Perempuan Zainab II memiliki satu putra dan enam putri. Namun, dua putri mereka meninggal saat mereka masih kecil. Ia pun menikah dengan Tengku Alexandria binti Tengku Yusof dan dikaruniai seorang putra.
Penerima (9 Agustus 1950) dan Penganugerah (1960 - 1979) Darjah Seri Paduka Mahkota Kelantan Yang Amat Mulia (Bintang Al-Muhammadi) (SPMK)
Penerima (9 Agustus 1959) dan Penganugerah (1960 - 1979) Darjah Seri Paduka Jiwa Mahkota Kelantan Yang Amat Mulia (Bintang Ismail) (SJMK)
Pendiri dan Penerima (10 Desember 1967), serta Penganugerah (1967 - 1979) Darjah Seri Paduka Setia Mahkota Kelantan Yang Amat Terbilang (Bintang Ibrahim) (SPSK)
Penganugerah (1960 - 1979) Darjah Pahlawan Yang Amat Gagah Perkasa (PYGP)