Suku Makatao (Makatao: Makatau; Paiwan: Ljacalisian), yang juga ditulis sebagai Makatau atau Makattau, merupakan salah satu kelompok masyarakat adat Taiwan. Secara historis, masyarakat Makatao mendiami kawasan dataran rendah di sekitar Kaohsiung, Taiwan selatan. Namun, akibat meningkatnya kedatangan dan permukiman imigran Tionghoa, sebagian besar komunitas Makatao bermigrasi ke wilayah Pingtung dan, pada awal abad ke-19, meluas hingga ke Taitung di bagian timur Taiwan.
Menurut antropolog Jepang Inō Kanori, pada awal abad ke-20 masyarakat ini secara historis menyebut diri mereka sebagai Tau atau Makatao. Namun, sejumlah peneliti lain menggolongkan mereka sebagai bagian dari kelompok Siraya atau menganggap bahasa yang mereka gunakan sebagai bagian dari rumpun bahasa Siraya yang tersebar dari Tainan hingga Kaohsiung dan Kabupaten Pingtung.
Pada masa kini, banyak anggota masyarakat Makatao yang tinggal di wilayah dataran rendah Kabupaten Pingtung tidak lagi mengetahui makna asli nama "Makatao", dan tidak terdapat ingatan kolektif yang jelas mengenai penggunaan sebutan tersebut oleh leluhur mereka. Meskipun demikian, nama Makatao tetap diterima sebagai sebutan kolektif resmi dan penghormatan terhadap identitas komunitas tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, penduduk desa Makatao di dataran Pingtung lebih sering menyebut diri mereka sebagai 山脚人 (soaⁿ-kha-lâng dalam bahasa Hokkien Taiwan), yang secara harfiah berarti "orang yang tinggal di kaki gunung", atau sebagai 平埔族 (Píngpǔzú dalam bahasa Mandarin Taiwan), yang berarti "suku dataran".[1]
Pada November 2024, seorang perwakilan masyarakat Makatao mengajukan permohonan resmi kepada Dewan Masyarakat Adat untuk memperoleh pengakuan sebagai kelompok masyarakat adat yang diakui secara resmi oleh pemerintah Taiwan. [2]